Pada Sisi Mana Seharusnya Aku Berjalan....

Sabtu, 11 Februari 20120 komentar


Bagaimana kau membuat itu terdengar bagus??. Angan liarmu terbahasakan kedalam kalimat yang sejuk. Aku terpukau dan bahkan hampir  tergoda untuk mengikuti nalurimu. Namun, sedikit sisa kesadaranku cukup untuk membangun kekuatan agar kau tak meneruskan kalimat-kalimat senada. Jangan berfikir aku tak menginginkannya, sebab aku pun selalu mengimpikannya. Aku hanya tak bisa menanggalkan mazhab atau membiarkan hidup berdampingan dalam ketenangan yang tak lazim.


Kenapa kamu berfikir aku sedang merayumu. Bahkan kalimat itu mengalir tanpa urun akalku se-kata pun. Aku sering berharap mati sebelum terbangun, tetapi kenyataan membimbingku pada lanjutan khayal tentang semua ini. Mungkin hati ini tertata rapi di ruang suci, tetapi emosi ini yang sering tak terkendali. Untuk alasan penghormatan kunobatkan kesabaran. Untuk realitas menyesakkan ku tambatkan gairah penantian. Tapi..ini terlalu lama, bahkan mungkin saja aku kehilangan lompatan rasa seandainya  semua itu benar-benar menjadi nyata. Ini bukan hanya tentang mimpiku, tapi banyak tangan menengadah dalam untaian kalimat serupa. 

Aku tak cukup bisa memaknai perkataanmu, tapi aku selalu menemukan semangat yang sama seperti sejak dulu kala. Aku hanya tak mau larut dalam keyakinan berlebihan yang bisa menjerambabkanku pada kekecewaan mendalam di saat aku benar-benar tidak siap menerima kenyataan. Aku menghormati caramu menjaga semua itu, namun bukan alasan yang cukup untukku menyerupai upayamu. Aku berada disisi lain yang sulit, sebagaimana sudahnya kamu membangun istana indah di alam imajinasimu. Aku harus mendefenisikan mimpiku dalam peluang ketercapaian yang terjaga. Aku akan terus melangkah atas nama asa, walau ujungnya ntah berakhir sampai di mana. Semangat ini ku urai kedalam tindakan bertahap, walau sesungguhnya aku tak pernah yakin sepenuhnya berhenti dititik yang ku impikan. Namun, memilih diam dan menutup diri pun bukan jaminan. Aku kan membiarkan sang pengatur waktu berdefenisi dikarenakan cara fikir dan tingkahku. Setidaknya, akal dan energi ku telah mengikuti naluri yang selalu menyemangati hidupku. Meniadakanmu adalah hal bodoh, sama bodohnya dengan menghadirkanmu dan berharap semua sebagai keindahan yang tidak fana.

Kamu selalu bisa membingkai  ini dalam ketenangan, seperti sekejap henti aliran sungai dipagi buta yang jarang. Namun kau selalu bisa menghadirkannya di rauangan hidupmu. Mungkin mematikan diri kan kupilih andai ada disisimu, karena akalku tak mampu menembus caramu mensikapi buasnya perburuan. Aku tak bermimpi untuk menjadi sepertimu dan kubiarkan takdir membawaku menjadi diriku sendiri. Terkadang, sekejap ku pejamkan mata dan seolah sedang  menjadimu, tetapi sesaat kemudian aku memilih untuk membuka mata. Ya..karena aku tak mau menggapai ambang kecerdasan  dan kemudian larut dalam situasimu. Ku himpun perjanalanmu menjadi sumber spiritku ketika tiap kali himpitan menghampiri hariku.

Lama kita tak menggubrisnya dan kemudian membincangkannya dalam keadaan tenang dan seolah membicarakan sebuah melodrama. Tak ada emosi yang selalu memutus pembicaraan atas sesuatu, tak ada amarah hingga kalimat kita bernada rendah. Aku pun tak mau lagi mempertontonkan kecamuk batinku. Aku memilih membiarkanya menemukan titik bijaknya sendiri. Aku tak ingin lagi ada air mata, memendam sedalam-dalamnya nya ku pilih sebagai cara menghormati capaianmu dalam menata bathin di kebijakan.
Gemuruh ini tetap sama, hanya saja kubiarkan sebagai pengatur nada panjatan do’a bermaterikan sama. Tetapi aku tak kan bertanya apa yang kau untaikan dipersujudanmu, karena ku tak ingin kau mendapati kesulitan tuk memilih jawaban atas tanyaku.

Hmmm...ku yakin Tuhan tak pernah luput, di bathinku pun tak terbersit untuk membeberkan padamu tentang takaran asa saat wudhu’ ku  terjaga. Biarlah ini menjadi hal aku dengan Tuhan. Aku tak tertarik lagi memahaminya sebagai gundah yang harus dilalui lewat jalan kecerdasan akal dan kelihaian rasa. Aku hanya akan terus mencari arahan  pada sisi mana seharusnya aku berjalan....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved