CEITA FIKSI : UJI KEPEMIMPINAN

Kamis, 23 Februari 20120 komentar


Sesi I
Sore Pak..izin menghadap di rumah.
silahkan
Saya mau melaporkan kalau telah terjadi perbuatan curang seorang karyawan
Apa ada buktinya?
Ada saksi yang siap mengatakannya dibawah sumpah.
Itu tidak cukup. bahkan itu berpotensi menyisakan dendam. Saya ndak akan komtentar dulu sebelum anda mendapatkan bukti konkrit. Saya juga ndak mau nanti ada yang mem-plintir keputusan saya atas nama fitnah.
Baik Pak...kalau begitu saya akan menghadap lagi kalau benar-benar terjadi lagi.
Oke...saya fikir sebaiknya begitu. Sebelum Anda pulang, saya sarankan untuk merefleksikan diri apakah ini bentuk pembangkangan terhadap sistem, kurangnya pembinaan atau memang penyakit yang melekat pada karyawan itu akibat jauh dari Tuhan. Dalam pandangan saya, perilaku menyimpang adalah akibat dari berjaraknya seseorang dengan Tuhan. Atau, ini bisa akibat dari iklim kerja  yang mendorong seseorang untuk berbuat negatif. Saatnya kita  melakukan auto koreksi atas semua ini. Saya menyadari iman saya belum sempurna, tetapi belajar untuk berbuat baik dan berupaya untuk melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan  adalah hal yang baik.
Baik pak, saya pemisi.  


Sesi II
Sore pak..izin menghadap, yang bersangkutan sudah tertangkap tangan dan sudah menandatangani pengakuan bermaterai.
Silahkan...saya tunggu di rumah.
Ini pak surat pengakuannya (sambil menyerahkan bukti tertulis)
Oke..saya baca dulu. Terus, menurut kalian  apa yang harus saya putuskan???.
Kami serahkan ke bapak, karena ini sudah di luar kewenangan kami.
Oke...saya akan putuskan dalam beberapa hari. Saya butuh waktu untuk berfikir tenang, sebab ini menyangkut nasib seseorang yang punya keluarga. Saya ndak boleh gegabah dan harus adil serta proporsional.
Baik pak..kami permisi...
Oke..terima kasih. Satu hal...pastikan perilaku berbau syaitan di lingkungan perusahaan kita “hanya satu ini”...jika tidak, saya akan menjadi tidak adil dalam mengambil keputusan. Artinya, kalau dalam hal ini saya mengambil keputusan tegas, maka saya juga harus mengambil keputusan atas setiap tindakan lain  yang berbau setan. Sebab kalau masih ada perilaku2 yang disenengi syaitan terus berkeliaran, saya takut amarah Tuhan akan datang dan semua karya ini menjadi hancur lebur. Saya pengen karya ini mendatangkan manfaat bagi banyak orang dan bisa menginspirasi energi orang untuk me-replikasi. 
Baik Pak... Kami pamit dan kami tunggu keputusan bapak.
Oke...terimakasih atas kedatangan kalian....

Sesi III.
Pemanggilan Karyawan Bersangkutan Oleh Pimpinan

Anda tahu mengapa saya memanggilmu??..
Saya tahu pak, saya sudah melakukan kesalahan fatal.
Kalau anda jadi saya, keputusan apa yang akan anda ambil  ???
Saya ndak bisa jawab pak.
Anda tahu saya sangat prihatin atas apa yang anda lakukan. Saya ndak bisa menutup mata dan ingatan semua orang atas apa yang anda lakukan. Sekarang anda membuat saya dalam dilema antara sisi kemanusiaan dan ketegasan seorang pemimpin. Anda tahu
Saya tahu pak, saya minta maaf dan tidak akan mengulangi lagi.
Anda tahu, saat ini yang terbayang adalah masa depan anakmu. Saya tak bisa mendengar kalau anak2mu kemudian kelaparan karena keputusan saya. Tetapi dengan perbuatanmu yang berulang-ulang, anda tak memberi saya pilihan.
Tolong saya pak...saya ngaku salah...saya sadar itu keliru dan sulit termaafkan. Bahkan selama di skor saya juga berangkat setiap hari dari rumah. Saya ndak mau suami dan anak2 saya tahu masalah ini. Saya ndak tahu bagaimana menjelaskannya pada mereka. Saya ndak bisa mengukur reaksi apa yang akan saya dapatkan dari suami saya. 
Anda tahu, kalau pengakuan anda bermaterai ini bisa dilanjutkan ke ranah hukum dan hidup anda menjadi berantakan. Apakah anda ingin ini saya teruskan ke urusan yang lebih besar.
Mohon jangan pak..saya ndak siap berpisah dengan anak-anak saya. Siapa yang mengurus anak2 saya pak, mereka masih kecil-kecil.
Anda tahu, semua temen2 tidak menginginkan anda kembali bekerja Mereka marah dengan apa yang  anda lakukan. Apakah anda siap dengan kondisi itu???
Siap pak...itu akibat yang harus saya terima. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Oke kalau begitu, saya memberi beberapa pilihan dan anda istikharoh dan bertanya pada Tuhan pilihan mana yang akan anda ambil :
  1. Kalau anda memilih kerja, maka anda wajib diantar suami dihari pertama anda kembali kerja. Saya ingin dia tahu masalah sesungguhnya dan ikut bertanggungjawab atas keberadaan anda di perusahaan ini. Saya ingin suami anda juga ikut membina anda.
  2. Kalau anda memilih untuk mengundurkan diri, maka itu pun saya hormati dan saya minta untuk menyelesaikan segala permasalahan administrasi menyangkut kepersonaliaan. 
Baik Pak...saya akan sholat istikharoh dulu untuk membuat keputusan. Saya akan membuat keputusan dalam 3 (tiga) hari dan akan saya sampaikan kepada bapak.
Oke...saya tunggu. Apa pun pilihan anda, bagi saya  ini persoalan perusahaan sehingga apapun kondisinya persaudaraan dan silaturrahmi tetap terjaga. Sampaikan salam saya untuk keluarga.
Baik Pak...terima kasih dan saya izin pamit...
Silahkan..terima kasih sudah memenuhi undangan saya.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved