“SESAAT MENILIK KEPEMIMPINAN”

Senin, 16 Januari 20120 komentar


disampaikan pada acara dikjutkop yang dilaksanakan KOPKUN UNSOED, Baturraden, 21-23 Januari 2012
A.  Pembuka

Dalam bahasa singkat defenisi kepemimpinan adalah “pengaruh”. Artinya, dalam menjalankan perannya, seorang pemimpin menebar pengaruh sehingga target-target yang ingin dicapai berpeluang diraih dengan sukses. Walau begitu mudah dan singkat  dalam konteks defenisi, kepemimpinan bukanlah perkara mudah, karena didalamnya terdapat permasalahan yang sangat kompleks, mulai dari penyusunan tema pengaruh, strategi mengkampanyekannya sampai dengan efektivitas pengaruh itu pada obyek yang ditargetkan. 

B.  Setiap Orang Adalah Pemimpin
Pada dasarnya, setiap orang adalah pemimpin minimal untuk dirinya sendiri. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Sementara itu, luas kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh obyek yang dipimpin. 

C.  Macam  kepemimpinan.
Dalam praktek keseharian, ada istilah kepemimpinan formal dan kepemimpinan in-formal. Kepemimpinan formal adalah kepemimpinan dari sebuah institusi atau organisasi dimana didalamnya terdapat sejumlah orang. Dalam konteks ini, pemimpin diangkat melalui mekanisme tertentu yang disepakati oleh segenap yang dipimpin.   Sementara itu, kepemimpinan in-formal adalah kepemimpinan yang lahir dari sebuah proses alamiah, seperti tokoh-tokoh masyarakat  atau orang-orang yang berpengaruh dalam sekelompok orang. Bahkan, pemimpin formal terkadang lahir di tengah-tengah organisasi formal. Biasanya, pimpinan informal itu lahir dari proses interaksi alamiah, sehingga melahirkan pengaruh di lingkungan komunitas tertentu.  Dalam sesi kali ini, lebih banyak membahas tentang  kepemimpinan formal.

D.  Mengenal 2 (dua) Pemaknaan Kepemimpinan

Dalam perolehan hak memimpin sebuah organisasi formal ada 2 (dua) pemaknaan yang sangat mempengaruhi proses kepemimpinan, yaitu : (i) sebagai kendaraan dan; (ii) sebagai beban.

Dalam pemaknaan sebagai kendaraan, pemimpin tersebut memaknai memimpin sebagai media yang akan membawanya pada titik-titik yang dia kehendaki. Dalam situasi tak terkendali, pemaknaan semacam ini membentuk perilaku opportunist dan cenderung egois. Kepentingan pribadi juga sering mempengaruhi keputusan-keputusan dan sikap-sikap yang diambil.  Pada cara pemaknaan ini sering menjadikan seorang pemimpin mengalami apa yang dinamakan ”post power syndrome” ketika masa jabatan berakhir atau diambil.   

Sementara itu, dalam pemaknaan kepemimpinan adalah sebuah beban, pemimpin tersebut memahami kepemimpinan sebagai proses penitipan sebuah amanah (kepercayaan)  yang harus dibawa ke satu titik yang di cita-citakan komunitas yang mengangkatnya. Pada cara pemaknaan ini, pemimpin tersebut cenderung terhindar dari ”post power syndrom”, sebab ketika kepemimpinannya berakhir (oleh masa waktu ataupun diganti), maka bebannya merasa terkurangi, sehingga menjadi ringan. 

E.  Perbedaan Pemimpin dengan Manager
Dalam konteks indikator output, tugas pemimpin adalah ”bekerja yang benar”, sedangkan tugas manager adalah ”bekerja dengan benar” Artinya, seorang pemimpin harus melakukan langkah-langkah efektif, sedangkan manager harus bekerja dengan indikator-indikator kebenaran yang didefenisikan oleh seorang pemimpin.

F.  Menilik Syarat-Syarat Menjadi Pemimpin
Sebenarnya tak ada aturan baku tentang syarat-syarat seorang pemimpin. Dalam organisasi formal, sebelum memilih dan menetapkan pemimpin, mereka terlebih dahulu mendefenisikan kriteria-kriterian yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar  dalam proses mencari, memilih dan menetapkan.

Sebagai gambaran saja, berikut ini disajikan beberapa kriteria yang mungkin bisa dijadikan tambahan referensi dalam meresapi dan belajar menjadi seorang pemimpin, yaitu :
1.        Memiliki ”Trust”
Trust atau kepercayaan merupakan implikasi dari rekam jejak ketulusan dan kebaikan yang berulang.  Trust tidaklah didapat dari proses manipulasi, sebab trust menyangkut ”nilai kenyamanan” yang lahir dari hati yang tulus. Trust tidak datang dalam waktu dekat dan tidak pula bisa dipaksakan.  
2.      Ketauladanan
Ketauladanan adalah kebiasaan-kebiasaan yang layak dijadikan contoh. Memberi ketauladanan memerlukan komitmen tinggi, karena ini berkaitan dengan kemauan untuk memberikan contoh nyata bagi orang lain. Sangat sulit seorang pemimpin mendorong yang dipimpin untuk berprestasi, sementara rekam jejaknya sendiri jauh dari prestasi. 
3.      Punya mimpi
Seorang pemimpin harus punya mimpi yang berfungsi sebagai arah dan sekaligus sumber energi dalam menterjemahkan kepemimpinannya.  
4.      Optimis
Optimis adalah bentuk keterjagaan keyakinan dan keterpeliharaan fikiran positif. Hal ini perlu dimiliki seorang pemimpin agar  langkah pencapaian mimpi tak pernah menemukan titik lelah sebelum tercapai.
5.      Kewibawaan.
Kewibawaan berkaitan dengan kualitas apresiasi kepada seorang pemimpin. Selanjutnya hal ini sangat mempengaruhi efektivitas  dan kepatuhan yang dipimpin terhadap pimpinannya.
6.      Sumber Inspiratif
Seorang pemimpin harus bisa memerankan diri sebagai sumber inspirasi bagi yang dipimpin. Seorang pemimpin harus mampu mempersonifikasikan dirinya sebagai sumber energi bagi orang-orang yang dipimpinnya, mulai dari perkataannya dan juga  langkah-langkahnya.
7.       Edukator
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mendidik (meng-edukasi). Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang hanya cerdas, tetapi juga harus berkemampuan mencerdaskan orang-orang yang dipimpinnya. Untuk itulah, seorang pemimpin harus mampu mengedukasikan nilai-nilai yang layak ditumbuhkembangkan di wilayah yang dipimpinnya.
8.      Motivator
Seorang pemimpin harus mampu memotivasi yang dipimpin sehingga mereka memiliki keinginan kuat untuk menciptakan prestasi atau kinerja tinggi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus berkemampuan memaksimalkan ragam tools untuk menyemangati. Dengan demikian, energi berkarya dari orang-orang yang dipimpin senantiasa terjaga.
9.      Ketegasan
Tidak semua proses kepemimpinan berjalan. Terkadang banyak situasi-situasi serba sulit namun harus melakukan pilihan. Disinilah seorang pemimpin harus tegas dan berani bersikap dengan segala resiko yang mungkin muncul atas keputusan yang diambi.
10.    Adil  
Adil tak berarti sama. Dalam konteks penugasan, seorang pemimpin harus jeli melihat relevansi kapasitas diri yang dipimpin dan luas penugasan yang akan diberikan. Demikian halnya dengan distribusi hasil, seorang pemimpin harus memperhatikan proporsional berdasarkan partisipasi.
11.     Disiplin dan konsisten
Disiplin dan konsisten adalah hal yang tak mudah dalam proses pembudayaannya. Hal ini berkaitan dengan komitmen diri atas ragam hal. Seorang pemimpin harus bisa disiplin dan konsisten, sehingga yang dipimpin tidak kebingungan akibat sikap yang plin plan dari seorang pemimpin.
12.    Apresiatif dan Akomodatif
Apresiasi adalah sebuah sikap untuk menghargai atau merespon hal-hal baik yang dilakukan atau diciptakan oleh orang lain. Mengingat bahwa pemimpin adalah sumber energi bagi yang dipimpin, maka apresiasi terhadap yang dipimpin mampu mendorong loncatan energi sekaligus loncatan kreativitas. 
13.    paling depan dalam menghadapi masalah dan paling belakang dalam hal kenikmatan.
Seorang pemimpin harus berani menghadapi setiap masalah yang ada. Seorang pemimpin tak boleh pengecut dan kemudian memposisikan yang dipimpin menjadi umpan. Sementara itu, dalam hal kenikmatan, seorang pemimpin harus paling belakang. 
14.   dan lain sebainya

G. Penghujung
Menjadi seorang pemimpin memang bukan perkara  mudah, namun bukan pula tak bisa dipelajari. Untuk itu, dengan berupaya menghadirkan sifat-sifat seorang pemimpin dalam diri kita, Insya Allah akan membawa anda menjadi seorang pemimpin yang handal. Mari belajar bersama untuk menjadi pemimpin yang disukai banyak orang dan juga disukai Tuhan. Amin.

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved