Seharusnya…

Minggu, 01 Januari 20120 komentar


Aku memilih diam di keramaian, menyepikan diri dan membiarkan anganku liar tak berarah. Lelah..aku lelah dengan semua yg tak kufaham, lelah tidak menjadi diri sendiri, galau harus terus menyesuaikan. Aku harus nyaman diketidakmengertian. Aku harus  terbiasa  dalam ketidaksesuaian hati dan membiarkan arah hidup tidak seperti yang ku inginkan..karena ini tlah ku  pilih.

Tak ada ruang berandai, kecuali membangun kesempurnaan dalam angan. Kekesalan tak mungkin terungkapkan, karena tak kan merubah suasana. Berlaripun tak menarik untuk dipilih karena perjalanan ini sudah sangat jauh dan jika l
ari dari kenyataan bermakna ikrar diri sebagai pecundang.

kursi yang menginspirasi
Diam..diam menjadi pilihan. Di kediaman aku terus mencoba membangun kebijaksaan berfikir, mendermakan hati dalam ketidaknyaman keadaan, menjadikan sabar sebagai penawar, mengelola gelisah menjadi kekuatan yg meng-energikan lututu kaki untu  tetap berdiri dan kepala untuk tetap tegak..semua demi senyum yang terjaga, senyum yg mengesankan semua baik2 saja.

Terfikir ini sebuah cobaan, tetapi hati ini sungguh begitu  berantakan. Tergoda memandang ini sebagai ujian untuk sebuah kebahagiaan di hari yg ntah kapan. Terbersit melihat semua ini sebagai cara Tuhan mempersembahkan keadilan, cara Tuhan memupuk nalar luas  sebelum semua mimpi dating di hidupku.

Tak ada lagi gairah untuk menggambar lukisan tentang nanti, tak ada lagi rancang ingin untuk sebuah esok, memilih semua berjalan seperti  air. Ini bukan tentang menyerah pada kenyataan, tetapi sebuah cara untuk bertenaga dalam ketiadaan asa dan kelelahan rasa. Ku kubur semua rancang logika dan menikmati serta mencoba menterjemahkan setiap dinamika yg hadir. Kubiarkan ketercabikan ini sebagai penguat, yg membawaku pada kedewasaan yg lebih, yg kan menggiringku lebih mendekat pada garis finish pertaruhan bathin.

Terkadang tampak khayal, hingga tak jarang terbersit mendefenisikan semua ini hanya sebatas mimpi. Apalagi,  kenyataan tak berpihak ini ntah terus berlangsung dan ntah kapan berakhir. Namun, lagi2 diketerpeliharaan cinta tak bermata selalu menjadi penghapus ragu atas sebuah keindahan dan kebahagiaan disuatu waktu.

Kubenamkan segala gundah yg menerpa kuat, kubangun khayal nyaman sebagai pengobat. Tak terfikir lagi  kenyataan penggerus keyakinan, sebab ini sudah menjadi tentang  aku dan Tuhan.

Apakah kau akan mengerti atau tidak, ataukah khayalku yg terlalu tinggi dan tak layak, biarlah Tuhan memberi jawab atas segala sikap yg kutetapkan, saat yg sama aku kan berusaha tuk tetap berdiri gagah, walau hanya ditopang oleh keluasan berpandangan yg sering kutempatkan sebagai sumber inspirasi  berenergi.

Biarlah angin malam meniup semua kepenatan, kan kufahami sebagai cara Tuhan menunjukkan kasih sayangnya. Ku kan tetep disini dalam sepi dikebelumterjawaban ingin, dipenantian berkeyakinan penuh. Aku pun takkan pernah menyuarakan keluh ini lagi padamu, sebab bagiku, kamu dengan segala sikapmu adalah media  tuhan menyampaikan pesan yg layak untuk lelaki sepertiku, lelaki yg baru bisa bermimpi dan merangkai kata untuk menjaga aura tawa.

Walau aku tak pernah menginginkannya, namun kalau suatu saat akhirnya kau lelah dan memilih menyerah, akupun takkan memaknainya sebagai kematian asa, akan ku pandang bagian dari ketetapan yg harus kuterima dengan jiwa yang terbuka. Tak kan kumaki kenyataan tak menyenangkan, sebab semua itu memang  seharusnya begitu....


Disudut kursi yg menginspirasi...
Di tengah keramaian yg terasa begitu sepi...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved