MEWUJUDKAN MIMPI LEWAT MENGEMBANGKAN ”KEWIRAUSAHAAN & MANAJEMEN”

Minggu, 15 Januari 20120 komentar


Disampaikan pada Pelatihan Pengembangan Koperasi Bidang Usaha Perikanan Di Kabupaten Banyumas, yang dilaksanakan oleh Disperingkop  di Purwokerto, 18 Januari 2012
 


A.  Permulaan
 Kelahiran  sebuah unit usaha koperasi pasti disemangati oleh pertumbuhan manfaat dalam berkoperasi. Kebermanfaatan sebagai tujuan tidaklah terbatas pada perolehan SHU (materil), tetapi bisa juga berbentuk kemanfaatan berjama’ah seperti pembentukan efisiensi kolektif  sehingga  mendorong peningkatan pendapatan riil anggota (meningkatkan nilai pemenuhan kebutuhannya dengan jumlah penghasilan atau modal yang sama).

Dalam konteks koperasi, pada pilihan manapun sah-sah saja sepanjang hal tersebut disepakati oleh seluruh atau mayoritas pemilik koperasi. Untuk itu, diperlukan ketegasan pilihan, sebab hal ini menjadi dasar dalam mengelola usaha. Disamping itu, hal ini juga menjadi dasar bagi segenap unsur organisasi dalam memetakan harapan, menilik pencapaian dan mengevaluasi kinerja.


B.  Kolektivitas sebagai ciri manajemen koperasi 
Kolektivitas atau kebersamaan adalah ciri khas koperasi dalam mengelola usaha atau unit layanan. Kebersamaan yang dimaksud meliputi kebersamaan dalam perumusan tujuan,  kebersamaan dalam proses pencapaian melalui  distribusi peran proporsional dan kebersamaan dalam menilik & sekaligus mengevaluasi pencapaian. Inilah yang membedakan koperasi dengan bukan koperasi. Pada non koperasi, tujuan mutlak ada ditangan pemilik (satu orang atau beberapa orang) dan dalam pencapaiannya menggunakan ragam strategi yang berorientasi pada terdorongnya market untuk mengkonsumsi  ”produk yang ditawarkan”.
Hal sama juga berlaku pada sebuah koperasi ketika  melayani non anggota. Pada situasi ini, koperasi harus mampu bersaing secara sehat dengan pelaku non koperasi dalam memperebutkan pangsa pasar yang sama. Hal ini berbeda ketika  koperasi  concern pada pelayanan kebutuhan anggotanya, maka koperasi fokus pada nilai-nilai pengelolaan yang disepati bersama seluruh unsur organisasi. 

Untuk itu, disamping pendefenisian tujuan sebagai hal pertama harus terdefenisikan, luas pasar (market) adalah hal kedua yang perlu ditetapkan. Mengapa demikian??, karena masing-masing market (target pasar) memiliki karakter yang akan mempengaruhi pola pelayanan yang akan disajikan.




C.  Menilik Kolektivitas Dalam  Koperasi Berbasis Produksi.
Dalam tinjauan praktika, koperasi produksi biasanya fokus pada memproduksi sesuatu berdasarkan keahlian-keahlian yang ada pada mayoritas anggotanya. Sebagai contoh, kita mengenal koperasi susu, koperasi batik, koperasi ikan dan lainnya yang berawal dari keahlian mayoritas anggotanya.  

Dalam siklus operasionalisasinya, koperasi jenis ini concern dalam hal penciptaan produk yang berkualitas dan pemasaran hasil produk. Pada koperasi berjenis ini, kolektivitas bisa diarahkan pada 2 (dua) sisi, yaitu ; (i)  bagaimana terwujudnya hasil produksi yang berkualitas dan dalam kuantitas yang tepat dan; (ii) bagaimana memasarkannya.

C.1.  Menciptakan Produksi Yang Berkualitas.
Menciptakan produksi yang berkualitas sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah. Tahapan-tahapan harus di tata sedemikian rupa dan konsistensi pun menjadi sebuah keharusan. Banyak fakta rusaknya kontinuitas penjualan (baik lokal dan exsport) akibat dari tidak konsistensinya kualitas. Akibatnya, reject (penolakan) atau return (kembali) menjadi tak terelakkan. Hal ini terjadi akibat ketidakdisiplinan dan mental, disamping juga dimungkinkan oleh karena kondisi alam yang mempengaruhi. Oleh karena itu, konsistensi kualitas harus dijadikan komitmen bersama dari segenap unsur organisasi. Misalnya pada koperasi produksi ikan, segenap anggota harus duduk bersama dalam merumuskan langkah-langkah dalam menghasilkan ikan yang berkualitas. Dengan demikian, keseragaman kualitas akan membentuk image yang baik terhadap koperasi dan pada akhirnya akan mensejahterakan anggotanya.

C.2.  Pemasaran
Hakekat pemasaran adalah mengkampanyekan sesuatu sehingga mendorong orang atau pihak-pihak tertentu (target market) untuk mengkonsumsi. Oleh karena itu, kejujuran dalam mengkomunikasikan produk menjadi penting, sehingga potensi kekecewaan terminimalisir sejak dini. Hal ini menjadi penting untuk demi terjaminnya kontinuitas permintaan. Untuk mendukung hal tersebut, sebelum mengkampanyekan sebuah produk ke target market, perlu terlebih dahulu menguasai informasi detail dari kualitas, kapasitas produksi, keunggulan-keunggulan  dan karakter produk. Hal ini untuk menghindari in-validitas (ketidak validan) informasi yang diterima oleh masyarakat (calon pangsa pasar).  Dalam konteks sebuah koperasi hanya melayani tradisional market (pasar tradisional), mungkin tidak akan sekompleks itu. Namun ketika  koperasi memasuki modern market (pasar modern) dimana mereka sangat kritis dengan kualitas produk dan pelayanan, maka rumusan-rumusan semacam ini menjadi mutlak diperlukan. 

Ketika kolektivitas semacam ini mampu di ciptakan dalam sebuah koperasi, maka potensi berkembang akan menjadi sangat terbuka.  Dalam rangka penciptaan kualitas kolektivitas yang demikian, diperlukan adanya manajemen yang terencana dan terkendali  dengan baik. Untuk itu, segenap unsur organisasi harus mampu menata  ego dan mengelola segenap potensi yang melekat, khususnya dalam hal distribusi peran. Penempatan SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi strategis, sebab manusia-lah yang sesungguhnya menggerakkan segala sesuatunya. Prinsip the right man  on the right place (orang yang tepat pada tempat yang tepat) harus di jalankan dengan baik.

D. Kewirausahaan Dalam Bidang Perikanan
Dalam pemaknaan sederhana, kewirausahaan merupakan sikap dan mental dalam melihat peluang dan keberanian menjalaninya. Titik tekannya adalah pada  kejelian melihat peluang dan keberanian mengambil keputusan. Banyak orang yang mampu melihat dan bahkan menciptakan peluang, tetapi mereka tidak berani mengambil keputusan sehingga  peluang hanya sebatas angan.

Setiap usaha mengandung resiko , pada titik inilah mentalitas teruji. Semua orang siap dengan hasil positif, tetapi tidak semua orang punya  kesiapan menghadapi hasil negatif.  Penjelasan ini bentuk penegasan bahwa  menekuni wirausaha tak cukup hanya bermodalkan kejelian melihat peluang, kemampuan menindaklanjuti peluang menjadi tindakan positif, tetapi juga memerlukan  mentalitas atas apapun hasil akhir dari sebuah usaha.  Hal yang sama juga diperlukan ketika  menggeluti wirausaha bidang perikanan, khususnya dalam hal produksi (pemeliharaan ikan).  Faktor alam (cuaca, musim dan lain sebagainya) serta ancaman penyakit  merupakan potensi resiko yang harus dipelajari dan disikapi dengan jeli. Jika tidak, maka potensi kegagalan menghampiri perjalanannya. 

Oleh karena itu, berfikir positif dan  optimis  tanpa menghilangkan sikap-sikap kewaspadaan perlu senantiasa ditumbuhkembangkan. Sebab, memelihara fikiran negatif dan kerisauan   menjadi faktor penyebab untuk tidak melangkah apapun. Jadikan niat baik, kesungguhan dalam melangkah, semangat untuk terus belajar dan kedekatan dengan Tuhan sebagai 4 (empat) hal yang menyertai segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup. Tuhan seperti prasangka hamba-Nya. Kalimat ini layak menjadi penyemangat untuk terus mendalami kewirausahaan.

E. Penghujung
Demikian tulisan ini disusun sebagai ”bahan diskusi”. Semoga kesederhanaan dalam pemikiran ini mampu menstimulan gagasan-gagasan brilian yang pada akhirnya melahirkan lompatan kebermanfaatan dalam  berkoperasi, khususnya dikalangan Koperasi Perikanan. Amin.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved