KETIKA PENGEMIS ITU TAK MENDAPAT APA2.....KECUALI

Senin, 09 Januari 20123komentar

Pagi ini TR (Tuan Rumah) kedatangan tamu yang tak biasa, tamu yang mendefenisikan dirinya sebagai pengemis (P) tetapi tubuhnya masih sehat dan kekar.

P : "Aku datang padamu di pagi ini untuk mengemis secuil dari keterjawaban
pintamu padaNya"..
TR : "Aku tak faham maksudmu".
P : aku ingin melihat bagaimana kamu memaknai semua yang datang di
hidupmu.
TR : aku bahkan tak merasa memiliki apa2 kecuali semangat hidup. Aku hanya
mencoba menterjemahkan "hidup" sebagai kesempatan untuk berbuat
sesuatu. Karena aku tak memiliki apa2 kecuali semangat, maka semangat
itulah yg mungkin bisa ku berikan padamu di pagi ini.
P : apa yg kau dapatkan dari melakukan semua itu??
TR : aku bahkan tak berfikir akan mendapatkan apa, aku pasrahkan semuanya
pada sang Kuasa yg berhak mengatur hidupku. Aku hanya fokus berbuat
sesuatu yang sekiranya membahagiakan orang lain, walau sejujurnya
sebagian diantara mereka ada yang lupa diri ketika sudah mencapai
kesuksesan.
P : lupa diri, maksudnya??.
TR : mereka terlalu mencintai "capaian", hingga mereka lupa berbagi dan asik
dengan mimpi mereka tentang keberhasilan. Mereka kurang peka kalau
ada tetangganya yg sedang susah, mereka memandang kemiskinan
semata2 sebagai akibat, sehingga mereka kurang peduli ketika orang
miskin melintas dihadapannya. Mereka tak memandang lagi kesusahan
yang ada dihadapannya dan sedang menggerogoti orang lain bentuk
pesan Tuhan.
P : bentuk pesan Tuhan gimana??
TR : bentuk pesan Tuhan untuk auto koreksi atas bentuk syukur, bentuk pesan
Tuhan untuk me- reposisi sebagian titipan-Nya pada si miskin, bentuk
cara Tuhan melihat seberapa jauh kepedulian dan inisiatif memikirkan
orang lain, bentuk Tuhan menilai bagaimana seorang hamba menilai
sebuah ”cobaan” yang kebetulan saat ini berbentuk ”keberhasilan”.
P : bukankah kemiskinan adalah akibat kebodohan mereka sendiri?
TR : aku lebih tertarik mencari musababnya dan mencoba menularkan
semangat untuk keluar dari kemiskinan itu sendiri. Pada akhirnya, mereka
keluar dari kemiskinan dengan cara mereka sendiri. Sesudahnya, aku
ingin mereka juga menularkan kepada orang miskin lainnya. Hal ini
kunilai efektif bagi pengentasan kemiskinan. Ketika orang yang sudah
bisa keluar dari kemiskinan memberi kesaksian pada orang miskin
lainnya, hal ini lebih berpeluang untuk menyemangati.Ketauladanan
adalah cara kampanye yg sangat efektif.
P : bukankah anda juga masih miskin??.
TR : aku memang miskin dan tak memiliki apa2, tetapi dibenakku "miskin" itu
adalah di ketiadaan semangat untuk melakukan sesuatu dan kemudian
memilih berpangku tangan pada orang lain. Burung aja keluar pagi dari
sarangnya, sekembalinya dalam keadaan kenyang.
P : ilmu anda tinggi sekali...
TR : aku tak merasa begitu, aku hanya mencoba belajar pada siapapun,apapun,
kapanpun dan dimanapun. Setiap yg baik kujadikan sebagai bahan untuk
menularkannya pada orang lain, hingga tercipta kebaikan bagi orang lain
dan semoga bagiku juga..
P : apakah anda tidak ingin memiliki harta yg berlimpah??.
TR : setiap yg kita peroleh akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir,
darimana sumbernya dan kemana aja pemanfaatannya. Aku "ingin" harta
banyak dan berlimpah, tapi aku takut sebenarnya aku tak
"membutuhkannya". Aku khawatir ”kaya” akan membuatku lalai hingga
mengundang amarah Tuhan. Namun, seandainya Tuhan memberiku kaya,
kuharap kaya itu datang pada saat mentalku siap. Dengan demikian,
dengan kekayaanku bisa membahagiakan banyak orang. Aku bekerja keras
dan mendefenisikan "mimpi" sebagai penyemangat, tetapi aku serahkan
sepenuhnya pada Tuhan. Sebagai manusia, aku hanya berusaha sebaik
mungkin dengan mengoptimalkan segenap potensi yg dititipkan Tuhan
padaku.
P : aku orang yg sangat beruntung pagi ini bisa berbincang denganmu. Aku
sangat berterimakasih . Aku sudah mendapatkan apa yg kucari. Aku bisa
mengemis semangatmu tanpa mengurangi semangatmu sendiri.
TR : Aku tak merasa telah berbuat sesuatu hingga kamu pantas berterima
kasih. Kalaupun ada sesuatu yg baik bagimu, semata2 itu bentuk sayang
Tuhan padamu dipagi ini.Akupun sedang berfikir dan mencari hikmah
atas pertemuan yg tak pernah ku duga ini. Izinkan aku berpesan satu hal,
kalau ada ”hal baik” yang kau dapatkan di pagi ini...sebarluaskan lah pada
yang lain hingga memperluas kebaikan itu sendiri.
P : Baiklah....akan ku lakukan. Aku mohon pamit....

Akhirnya sang pengemis meninggalkan tuan rumah dengan penuh senyum bahagia.
Share this article :

+ komentar + 3 komentar

9 Januari 2012 16.50

its an amazing think....luar biasa..karena allahpun tidak suka orang yang mensdahkan harta kepada peminta-minta...sedekahkanlah harta kepada orang miskin yang memiliki semangat untuk menghidupi dirinya, keluarga intinya dan kerbatnya...dan orang kaya yang sukses adalah orang kaya yang memberikan sebahagian hartanya untuk jalan Allah karena Allah menciptakan manusia agar memiliki prilaku terbaik...so membangun kekayaaan adalah membangun karakter yang terbaik sebagai khalifah Allah...semakin kaya semakin rendah hati, semakin kaya semakin banyak bersedeqah,,,bahkan anak cucu rasulullahpun memberikan sedeqah secara sembunyi-sembunyi sampai orang-orang disekitarnya mengganggap dia bakhil, namun di akhir hayatnya ternyata punggungnya penuh dengan bekas mengangkat gandum dan barang-barang yang disedekahkan kepada kaum fakir miskin...subhanalllah...tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah..kalau bukan kita semua siapa lagi???????????????

Siti Maryamah
17 Oktober 2012 04.45

Kontemplasi yang sangat berharga. Saya suka!

18 Oktober 2012 17.42

Mbak Siti : thanks atas apresiasinya, semoga menyemangati untuk melakukan segala hal yang membahagiakan orang lain. Kebermaknaan bagi orang lain adalah jalan menuju kemuliaan di pandangan Allah, walau untuk itu memerlukan pengorbanan fikiran dan tenaga serta keihlasan dan kesabaran.Diragam lelah letak perjuangan sesungguhnya, oleh karena itu berbahagialah terjebak dalam kelelahan demi sebuah kebaikan..begitu kata pak kyai di sebuah majelis...he222

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved