TRAGEDI PHK BERBUAH INDAH

Selasa, 27 Desember 20110 komentar


Telepon berdering saat mukzi sedang asik nyetir kendaraan menuju purwokerto, sepulang dari liburan keluarga di kota Pemalang. Sambil tetap fokus melihat jalan, Mukzi menjawab telepon tersebut dengan menekan satu keypad HP nya, tanpa terlebih dahulu melihat siapa yg telepon. Ternyata telp itu berasal dari sahabat lamanya yg bernama Hadi. Dalam teleponnya, Hadi menyampaikan kalau dia sedang menuju purwokerto untuk sebuah urusan bisnis dan berencana silaturrahmi sekaligus nginep di rumah mukzi. Dengan seneng hati mukzi mempersilahkan. Kemudian, mukzi menutup telp dan melanjutkan perjalanan menuju purwokerto. Tak lama sesudah mukzi dan keluarganya tiba dirumah, hadi pun sampai dirumah mukzi.

Hadi adalah sahabat mukji saat sama-sama menjadi aktivis di koperasi mahasiswa dulu, juga saat mereka bergabung dalam koperasi alumni Unsoed dan  mendirikan sebuah swalayan yg sampai tulisan ini tersajikan masih berdiri gagah disekitar kampus, tepatnya di depan patung kuda Jenderal Soedirman, Purwokerto dengan label ’BOERSA KAMPUS”. Kebersamaan yang cukup lama itu, membuat keduanya sudah seperti saudara kandung.  Setelah 2 (dua) tahun menggeluti dunia retail,  Hadi berpamitan karena ingin mencoba mencari pengalama lain. Jadilah, Hadi bekerja di sebuah perusahaan peternakan yang memproduksi obat-obatan. 

Sesaat setelah Hadi memasukkan tas ke dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Mukzi,  mereka langsung asik bercengkrama, mengenang masa2 perjuangan dulu dan sesekali diselingi  canda tawa. Tak luput juga mereka saling bercerita tentang keadaan masing2 yg di dalamnya tentu tentang perjuangan hidup dan luas pencapaian.

Mukzi tampak lebih aktif dan banyak bertanya ke Hadi. Ada satu hal yg menyebabkab Mukzi semangat untuk bertanya, yaitu "spirit dan rekam jejak perjuangan" Hadi yang kebetulan saat ini sudah  sukses menjadi seorang pengusaha.

Alkisah..Hadi memilih berwirausaha bermula dari situasi tragis dimana kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja ditutup yg belakangan diketahui karena  pasar yang lesu dan persaingan. Menjadi korban PHK tak terhindarkan,  mobil perusahaan yang begitu setia menemani hari-hari Hadi sebelumnya harus dikembalikan ke perusahaan.

Saat semua itu terjadi, ”mencari kerja lagi atau menekuni wirausaha” adalah  2 (dua) pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam fikiran Hadi. Dalam fikirannya, 2 (dua) pilihan itu masing2 punya konsekuensi. "Kebebasan berkarya"..kalimat itu menjadi kunci tertemukannya kepercayaan diri untuk memilih. Dia gelar sajadah untuk memantapkan keyakinan atas pilihan itu.
Akhirnya, berbekal keahlian dan pengetahuan (sebagai seorang sarjana peternakan), sisa tabungan yang tidak begitu banyak dan ditambah dengan Rp18.000.000,oo (delapan belas juta)  uang pesangon, Hadi nekad mulai menekuni wirausaha. Bidang yang ditekuni pun tak jauh dari keilmuannya dan juga apa-apa yang pernah dia kerjakan di perusahaan tempat dia bekerja dulu, yaitu bidang Saprona (Sarana Produksi Peternakan).

Mendapat bekal tambahan berupa mobil pinjaman dari kakak yang sangat menyayanginya dan modal yang jauh dari cukup, Hadi memulai perjuangannya di belantara tak berdefenisi.  

Menjadi "customer problem solver" bagi para peternak dijadikan sebagai  tagline bisnis yang dikelolanya. Dalam prakteknya, titik masuk hadi ke para peternak adalah dengan mengikhlaskan dirinya sebagai partner alias konsultan gratis bagi para peternak dalam menghadapi ragam masalah yg dihadapi. Hadi memainkan peran ini lewat re-connect dengan para kliennya dulu saat masih bekerja di perusahaan lama. Sepertinya, Hadi terobsesi mempunyai perusahaan yang sama dengan tempat  dia bekerja dahulu. Kelemahan-kelemahan masa lalu dia kemas sebagai tambahan warna. Langkah ini membuat hadi semakin di cintai para peternak. Alhasil, kian hari kian banyak peternak yang konsultasi.

Dari proses konsultasi gratis inilah kemudian hadi mendapatkan peluang, sebab formula solusi yang dia berikan berujung dengan kelahiran ”demand” pada produk-produk saprona. Saat ”demand” muncul, saat bersamaan Hadi sudah siap menjawabnya.  Berbagai kebutuhan peternak seputar saprona (seperti jagung, konsentrate, vitamin dan lain sebagainya) dia penuhi. Alhasil, asset hadi mulai naik bersamaan dengan semakin bahagianya para peternak.

Hadi menyadari cara ini memang melelahkan, sebab harus mengedukasi para peternak yg berasal dari latarbelakang pendidikan yang beragam. Ironisnya, biasanya para peternak itu berada di sudut-sudut kampung yang berjauhan satu sama lain. Dalam kisahnya, Hadi tak jarang terpaksa tidur di pom bensin dan bahkan di pinggir jalan. Namun dia lakoni peran ini dengan ikhlas. Dalam fikiran dan keyakinannya, disamping apa yang dia lakukan mampu mencerdaskan para peternak (sebagai sarana mengumpulkan pahala), juga secara otomatis membentuk customer loyal lewat terbangunnya ikatan emosional yg kuat.
Hasilnya???.

Fantastic....dalam kurun waktu 11 (sebelas) bulan, Hadi sukses menggelembungkan modal kerjanya menjadi Rp 260 Juta.
Di luar hitungan itu, Hadi juga sudah mampumembeli mobil sendiri. Ternyata tidak hanya sampai di situ, Hadi juga sudah bisa memiliki tabungan lain berupa  investasi  berbentuk  pohon albasia dan sengon yang ditanam diatas lahan seluas  5 (lima) hektare. Sebagai tambahan daftar kesuksesannya, Hadi juga mengelola ternak sendiri berupa  kambing dan domba.  
Mukzi kagum atas pencapaian sahabatnya itu, apalagi saat Mukzi mengutarakan satu pertanyaan tentang kunci suksesnya, ternyata kombinasi spirit, keahlian dan kedekatan dengan Tuhan. Luar biasa.....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved