MENJEBAKKAN DIRI DI LINTASAN TAK BERDEFENISI

Kamis, 08 Desember 20112komentar


Disampaikan pada workshop “Menumbuhkan Technopreneurship mahasiswa;Kolaborasi Kompetensi dan Aplikasi Teknologi dalam Pengembangan Kewirausahaan”, di Gedung LPPM UNSOED, dilaksanakan oleh BEM UNSOED Purwokerto,11 Desember 2011


A. Warning
  1. Tulisan ini disusun oleh sosok yang masih jauh dari berhasil, hanya mewakili orang yang bersemangat untuk sebuah mimpi.
  2. Bacalah tulisan sederhana ini dengan hidmat karena diliputi penggunaan kalimat yang memerlukan konsentrasi untuk mendapatkan pemahaman.
  3. Jangan cepat berkesimpulan, oleh karena itu saya menyarankan bacalah minimal 2 (dua) kali dalam suasana hening dan menginspirasi.
  4. Segala resiko akibat membaca dan meyakini isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab pembaca dan bukan pada penulis.
  5. Kalau anda berfikir bersahabat dengan saya berpotensi mendatangkan kebaikan, anda bisa memulainya dengan memberi respon atas tulisan ini via email atau blog saya. Tetapi anda tak perlu melakukannya kalau itu membebani hidup anda.

B.  Sebuah Permulaan

Ketika melihat pengusaha sukses melintas dihadapan kita, sering kali tergerak ingin untuk seperti sang pengusaha. Itu ingin yang lazim, sebagaimana banyak orang mengidolakan sosok-sosok penting dan berpengaruh di negeri ini, mulai dari politisi, artis, pejabat negara sampai dengan pemain sebak bola dan lain sebagainya. Banyak  orang yang rela merogoh kantongnya untuk bisa bertemu sang idola dan tak jarang ada yang sampai pingsan dan bahkan meninggal dunia.


Ada beberapa catatan yang layak kita fikirkan. Pertama, anda bukanlah dia dan sampai kapanpun anda tetaplah anda dengan segenap diri dan potensi yang melekat pada  anda. Kedua, anda sering terjebak pada apa yang anda lihat dan sering luput mencari jawab bagaimana mereka bisa sampai pada titik pencapaian itu.

No free lunch”, pepatah berbahasa aneh ini memberi pesan bahwa segala sesuatu butuh pengorbanan. Artinya, keberhasilan tidak  datang begitu saja, tetapi melalui proses berliku dan bahkan tak jarang diwarnai fakta  yang bisa melemahkan semangat. Keberhasilan memang tidak dititipkan Tuhan pada sembarang orang dan mempersembahkannya hanya pada manusia yang mampu melahirkan faktor2 yang layak diberi keberpihakan. Jika tidak, keadilan Tuhan pasti dipertanyaan.

Atas dasar itulah, selayaknya difahami bahwa sesuatu yang besar berawal dari yang kecil dan keberhasilan/kesuksesan  adalah akibat positif dari efektivitas cara mencapainya. Untuk itu, belajar dan belajar adalah pilihan terbaik untuk layak berharap dan berdo’a atas ”sukses”.

 C. Berkenalan dengan kata  ”wirausaha”

Dari perspektif keilmuan, kata ”wira” sering dimaknai ”mandiri” dan kata ”usaha” sering dimaknai ”upaya”, sehingga wirausaha sering dimaknai sebagai ”upaya membangun kemandirian melalui keterlahiran karya”. Dalam bahasa bebas, sering kali wirausaha disimbolkan sebagai bentuk ”semangat dan mental” membangun sebuah karya yang layak di konsumsi oleh orang lain.

Sekedar menyarankan, sebelum anda memasuki era kemandirian berkaya, mulailah dari ”kemandirian berdefenisi”. Defenisikan-lah kata ”wirausaha” sesuka hati anda dengan catatan defenisi itu mampu menjadi ”kalimat penyemangat penuh keramat” dalam hidup anda. Saran saya yang lain adalah ”mengandung nilai harapan bagi orang lain”, dengan demikian anda menjadi tidak egois dimata manusia lainnya maupun dimata Tuhan.  

Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak  orang dan pihak lagi doyan mendengungkan perlunya mengembangkan jiwa kewirausahaan. Ada yang sekedar latah mengkampanyekan wirausaha tanpa substansi yang jelas, ada  yang dilatar belakangi kesadaran dan kekhawatiran atas  efek sosial yang ditimbulkan dari perluasan peta pengangguran, ada pula  yang diinspirasi keinginan kuat terbentuknya manusia-manusia produktif yang tidak hanya menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga menciptakan kehidupan bagi orang lain.

Apapun yang melandasinya, keberhasilan mem-bumikan (memahami dan mau melakukan) kewirausahaan berpotensi membentuk dampak luar biasa bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.   Atas dasar itulah, kewirausahaan layak menjadi thema untuk di dengungkan, agar manusia-manusia Indonesia faham dan berkeinginan kuat menggelutinya. Semoga yang mendengungkan dapat pahala dan balasan setimpal dari Tuhan.Amin.

 D. Pengangguran dan Rasionalitas Harapan Hidup.
 Ada beberapa fakta dan sebentuk pengalaman yang mungkin dapat menjadi bahan renungan kita bersama sebagaimana tersaji berikut ini :

  1. Di satu sisi terjadi pengangguran, di sisi lain ada segelintir orang bekerja dibeberapa tempat sekaligus dengan berbagai jabatan penting.
  2. Sebagian orang menyampaikan lamaran dengan pola normatif (surat lamaran dalam bahasa monoton dengan melampirkan beberapa copy dokumen), tetapi sangat jarang yang mau menyajikan ”alasan kuat” bahwa kedatangannya di perusahaan dipastikan bukan sebagai faktor penambah beban/biaya perusahaan. Akibatnya, penerima kerja memperlakukan mereka sebagai peserta lomba yang harus memperebutkan sedikit kursi.
  3. Sebagian orang menginginkan salary  prestisius dan menjanjikan kemapanan hidup, tetapi tak banyak dari mereka yang bisa memberikan argumentasi rasional mengapa mereka layak mendapatkannya.
  4. Sebagian dari sarjana sukses mempunyai masa lalu yang tampak tak memiliki relevansi dengan kebiasaannya pada masa kuliah, di sisi lain ada yang ber-IP (indeks prestasi) tinggi saat kuliah tetapi mengalami nasib kurang beruntung dikehidupan nyatanya.


4 (empat) hal tersebut diatas layak menjadi referensi dalam merancang formula menggapai masa depan berpengharapan.

 E.  Menggilai Wirausaha Untuk Membentuk Jalan Hidup.
Saya sengaja menggunakan kata ”menggilai”, karena sesungguhnya dunia wirausaha adalah dunia gila. Siapapun bisa memasukinya tanpa harus mengajukan lamaran dan sama sekali tidak mensyaratkan ijazah level tertentu, kapanpun anda bisa memulainya, dimanapun anda bisa melakukannya sepanjang tidak betabrakan dengan aturan dan kenyaman orang lain. Demikian pula ketika anda ingin keluar, tak ada yang melarangnya dan tak ada persyaratan administratif untuk berhenti dan tak ada yang memberi pesangon.

Adakah anda mewakili orang-orang yang suka kebebasan dengan segala akibatnya???. Ini perlu ditanyakan karena tak ada pilihan  yang tidak mengandung resiko.  Sekilas pertanyaan itu mudah, tetapi sesungguhnya perlu ”mental dan keyakinan” dalam memilih jawabannya. Dengan demikian, ketika berketetapan memasukinya, anda tidak akan pernah menyesalinya dikemudian hari.   

Untuk lebih mendalami kegilaan dunia wirausaha, berikut ini disajikan beberapa fakta:
1.      Ketika anda memulainya, anda  tak mendapatkan jaminan keberhasilan dari siapapun.
2.      Karena wirausaha biasanya berawal dari kecil, kemartabatan diri hadir hanya ketika anda berhasil membuktikannya. Artinya, status sosial anda memiliki relevansi dengan pencapaian anda. Kondisi ini biasanya berseberangan dengan naluri dasar kebanyakan orang yang sangat menginginkan status dan mengelukan harga diri.
3.      Ketika anda meng-investasikan atau mengorbankan sesuatu (waktu atau sejumlah uang), tak ada yang memastikan bahwa pengorbanan anda akan menjadi seperti yang anda harapkan. Artinya, anda harus terbiasa memaknai bahwa ”kepastian itu terletak pada ketidakpastian itu sendiri”.   
4.      Bila anda mencapai sebuah keberhasilan, karena itu buah dari keberanian dan peluh anda, maka tak ada pula yang bisa membatasi anda atas keberhasilan itu, kecuali kekuatan alam dan Tuhan. Kondisi ini berseberangan  ketika anda menciptakan sesuatu untuk perusahaan, maka anda hanya berhak sebatas apa yang diperjanjikan dalam kontrak kerja anda (sebagai karyawan) dengan perusahaan. 

Pengungkapan fakta kegilaan ini dimaksudkan untuk mendorong anda serius melakukan perenungan sebelum menetapkan diri memasukinya.

 F.  Memulai Praktika Wirausaha
 Sesudah anda siap mental dan memiliki defenisi wirausaha yang menyemangati, saatnya anda memasuki dunia praktikanya. Mulailah dengan kata ”siapa”. Artinya, anda harus menentukan target yang akan dilayani. Sesudahnya, anda harus mengenal betul target tersebut guna untuk merumuskan ”apa yang akan ditawarkan” dan ”bagaimana menawarkannya”. Para pesohor bisnis berfatwa, jual lah apa yang dibutuhkan. Fatwa ini sebagai bagian dari pesan bijak para pesohor bisnis untuk meminimalisir resiko dalam perjalanannya.
  
G.  Mengembangkan Instuisi
 Dalam wirausaha, Instuisi adalah kemampuan atau naluri membaca peluang.  Instuisi sesungguhnya bisa dipelajari, bukan semata-mata faktor genetika (keturunan), karena mengembangkan instuisi bisnis sesungguhnya sama dengan mengembangkan kebiasaan. Coba Ingat kembali bagaimana pertama kali anda memainkan key pad handphone (HP) dan beberapa hari kemudian anda menjadi begitu lancar dan cepat menggunakan segala menu yang ada dalam HP tersebut. Namun demikian, ketika anda berganti HP, pasti awalnya anda harus belajar kembali untuk mencapai kecepatan yang sama saat menggunakan HP sebelumnya. Perumpamaan ini menegaskan bahwa kebiasaan perlahan akan membentuk instuisi.  

Demikian halnya saat anda mencoba mengembangkan instuisi dibidang bisnis, lewat melihat bagaimana bisnis terbentuk & berproses, kemudian mencobanya terus menerus, maka tanpa anda sadari bahwa perlahan instuisi anda telah berkembang dan menjadi mahir. Jadi, kuncinya adalah ”membiasakan diri”. 

 H.  Teknologi dan Wirausaha
 Sejarah membuktikan teknologi efektif membentuk cara baru dalam men-drive sesuatu. Kita masih ingat bagaimana teknologi industri mampu menggantikan peran manusia dengan mesin dalam sebuab pabrik, teknologi komunikasi mampu menggerus jarak dan waktu serta mempertemukan orang lewat media yang canggih. Hal sama juga berlaku pada kemajuan teknologi di bidang transportasi mampu menghubungkan medan produksi dengan medan konsumen dalam waktu yang terukur. Dalam bidang pertanian pun, teknologi mampu menciptakan loncatan produktivitas lewat temuan-temuan canggihnya.

Teknologi memang terbukti mengkinikan zaman dan membentuk kemudahan-kemudahan baru, khususnya dalam wirausaha. Teknologi telah memposisikan dirinya memiliki pengaruh besar dalam siklus sebuah bisnis. Untuk itu, para teknokrat tidak hanya cukup menciptakan temuan-temuan baru, tetapi juga dituntut memiliki jiwa kewirausahaan, sehingga temuan-temuan yang dihasilkan memiliki nnilai tawar dan nilai manfaat. 

 I.  Mengelola Stress dalam Proses Berwirausaha
Muasal ”stres” biasanya berawal dari berjaraknya realitas dan impian. Di serba ketidakteraturan yang melekat pada dunia wirausaha,  berjaraknya  harapan dan kenyataan hampir dipastikan menjadi bagian yang tidak dapat dihilangkan. Oleh karena itu, seorang wirausahawan dituntut untuk berkemampuanmembangun kebijakan-kebijakan berfikir sehingga ragam realitas yang kurang membahagiakan tidak melemahkan spirit, tetapi menjadikannya sumber energi untuk terus berfikir melakukan perbaikan-perbaikan di segala sisi proses.

Ini memang bukan perkara mudah, tetapi pada titik inilah mentalitas teruji. Seorang wirausahaan harus komitmen berdiri diatas defenisinya dalam keadaan apapun. Seorang wirausahawan harus mampu tetap berdiri diatas keyakinan dan optimisme ditengah badai yang mungkin melanda. Seorang wirausahawan harus bisa mendeklarasikan bahwa hanya kematianlah yang bisa menghentikan segala sesuatunya. Artinya, sepanjang masih diberi kesempatan bernafas oleh Sang Pemilik nafas, pada titik itu masih ada kesempatan untuk berfikir melakukan yang terbaik.

Seorang wirausahawan harus membangun kesadaran bahwa menjerit tak merubah apapun. Menangis hanya boleh dilakukan bila menemukan kekuatan di dalam bulir air mata yang menetes. Wirausahan tidak boleh cengeng dan mudah menyerah pada kenyataan. Ingat, tugas seorang wirausahawan adalah meng-ada-kan yang belum ada dan mempertahankan serta memperluas yang sudah ada. Oleh karena itu, seorang wirausahawan tidak boleh punya sifat kagetan atau gumunan, seorang wirausahawan harus bisa tenang dalam ketiadaan sebagaimana tenangnya saat masih ada. Wirausahawan harus waspada dan memaknai bahwa sukses hari ini bukan berarti esok hari pasti berhasil. Sebaliknya, kebelum berhasilan hari ini bukan penjamin kegagalan esok hari.   

 J.  Ketidakpastian Bisnis dan Persahabatan dengan Tuhan
 Dikalangan beberapa komunitas wirausahawan golongan ekstrim mengatakan bahwa ”berwirausaha” itu sama dengan ”ber-Tuhan” karena sama-sama meyakini apa yang belum dilihat. Mereka berani mengambil keputusan bernilai material yang jumlahnya tidak sedikit dengan berbekal keyakinan tinggi bahwa keberhasilan akan datang. Mereka berkesimpulan bahwa pencapaian keberhasilan memiliki korelasi tinggi  dengan Tuhan. Mereka menjalankan setiap usaha dengan mengkombinasikan upaya”horizontal dan vertikal”.  Keberhasilan difahami bukan semata-mata hasil rancang ”logika dan ketajaman instuisi”, tetapi didalamnya ada intervensi Tuhan berbentuk keberpihakan. Modus kerja Tuhan bisa dipelajari lewat kalam-Nya, sehingga bila kita menginginkan daya dukung-Nya, kita harus mengikuti kalam dan menggerus jarak dengan-Nya.

Tuhan maha pemberi restu dan  memiliki hak prerogatif melipatgandakan hasil atas manusia yang diinginkan-Nya. Tuhan penguasa atas jagad raya dengan segenap geliat di dalamnya.  Tsunami di Aceh dan Jepang, gempa di yogya dan ragam kejadian diluar kemampuan logika manusia menjadi bukti nyata bahwa Tuhan pun berkemampuan meniadakan yang sudah ada dalam hitungan sekejap. Demikian pula dengan bangunan bisnis anda, tiada kesulitan bagi Tuhan meluluhlantahkannya  dalam sekejap, sebagaimana tiada kesulitan bagi Tuhan untuk melipatgandakan pertumbuhan bisnis anda.

Bersahabat dengan Tuhan sesungguhnya masalah pilihan saja. Kalau memang anda berkeyakinan dan berkeberanian hanya berbekal logika dan instuisi, tentu anda tak perlu bersahabat dengan-Nya. Satu hal yang perlu menjadi catatan, Dia pun tak pernah memerlukan anda, karena Dia maha kuasa dan maha segalanya.
   
 K.  Penghujung
 Potensi kebaikan dan kemuliaan dalam wirausaha adalah alasan terbaik untuk menekuninya. Peluang mandiri (tidak menggantungkan hidup pada orang lain) dan bahkan berpotensi menciptakan kehidupan bagi banyak orang, selayaknya menjadi motivasi yang terus menyemangati dalam menekuni wirausaha. Untuk itu, semangat dan mental positif harus terus dibangun dan ditumbuhkembangkan. Dengan demikian, berharap menjadi wirausahawan sukses menjadi pantas.

Pada akhirnya saya mau menyampaikan 2 (dua) hal yaitu; (i) dalam perspektif horizontal, diawali dari niat yang tergambar dalam defenisi dan langkah-langkah konstruktif  mewujudkan karya yang dibutuhkan orang (baca: konsumen), menjadi 2 (dua) hal penting dalam menekuni wirausaha; (ii) dalam perspektif vertikal, jarak anda dengan Tuhan memiliki pengaruh signifikan atas akhir dari sebuah perjuangan.

Selamat berkontemplasi, jaga semangat untuk menekuni dunia wirausaha, pelihara semangat untuk terus mengembangkan teknologi dan mengkombinasikannya dengan jiwa kewirausahaan yang melekat pada jiwa anda. Ingat....niat baik pasti ketemu jalannya dan berkawan dengan Tuhan mempercepat pencapaian mimpi anda, kecuali anda tak memerlukan Tuhan dalam hidup anda.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

unggul
11 Desember 2011 17.39

Sukses terus untuk saya dan pak Arsad Dalimunte, semoga menjadi kebermanfaatan bagi yang lain^^

12 Desember 2011 20.15

oke mas Unggul...sukses selalu, semoga kita senantiasa diberi kesempatan memperluas kebermanfaatan bagi banyak orang melaui karya2 sederhana penuh makna.Semangatttt...

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved