KETIKA SEMUA WANITA DI RUMAHKAN...

Kamis, 22 Desember 20113komentar


Di tengah kesibukan mukzi, tiba2 sekretarisnya telepon menyampaikan kalau ada tamu yang ngaku sahabat dekat mukzi pengen ketemu dan katanya penting. Sebentar ya, lagi ketanggungan nich, sahut mukzi sambil menutup telepon antar ruangan itu. 5 (lima) menit berselang, telepon di ruangan mukzi berdering lagi. Sang Sekretaris mengatakan kalau orang yang ngaku sahabat dekat mukzi itu ngotot untuk segera ketemu. Akhirnya, mukzi bilang ya sudah..minta aja tamunya masuk sekarang. Sekejap kemudian, sang sekretaris muncul bersama sahabat mukzi yang ternyata adalah nguja (begitu namanya biasa dipanggil). Setelah mempersilahkan tamu duduk, sang sekretaris pamit dan kembali ke ruangannya. 

Ada apa sih Ja...kata mukzi sambil menutup pekerjaannya disertai senyum tenang berbau penasaran bercampur curigation. Sepertinya ada yang sangat penting, lanjut mukzi. Gini zi...aku minta waktu sebentar untuk mendengar "khayal bijakku". Ku fikir ini ilham dari Tuhan walau ku akui selama ini aku kurang bersahabat dengan-Nya. Makanya aku ingin kamu mendengar sebentar saja, sesudah itu silahkan kamu fikirkan dan aku janji akan langsung pulang agar kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu. Apa...??, khayalan bijak???...tumben kamu pakai judul aneh. Oke deh, kalau begitu aku siap mendengarnya dengan sepenuh hati sahabatku yang nyebelinnnn....sahut mukzi sambil tersenyum...

Tiba2 wajah Nguja berubah...dan mulai menceritakan khayal bijaknya...

Zi..aku sadar kalau selama ini aku jarang berkawan dengan Nya maupun dengan segenap kalam-Nya. Namun bukan berarti aku tidak yakin tentang adanya Tuhan. Ketidak bersahabatanku dengan Nya hanya pada tingkat tindakan saja. Tapi ntah kenapa, tadi pagi ketika aku bangun,  tiba-tiba aku berfikir serius tentang wanita...

Aku berfikir seandainya wanita menyadari dirinya terlahir sebagai makhluk suci yang penuh dengan keindahan, seharusnya wanita menjaga dan melindungi dirinya dari para pemetik yang hanya memanjakan ingin dan bahkan nafsunya, baik atas nama iseng, pencapaian kepuasan maupun atas nama variasi rasa....

Andai semua wanita selalu ada di rumah dan atau hanya kelua bila ditemani oleh muhrimnya maka dipastikan wanita itu akan selalu terjaga dan terlindungi. Wanita itu akan terhindar dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa merusak keindahannya.Andai semua wanita menyadari kalau semua bagian fisiknya bisa menghilangkan akal sehat kaum lelaki seperti kita, tak kan ada wanita yang memakai tengtop, tak kan ada yang berpakaian ketat dan mempertontonkan bentuk tubuhnya yang indah, tak kan ada wanita yang mau memakai celana pendek dan mempertontonkan kakinya yang mulus dan  indah sebab pasti  mengundang selera. Tak kan didapati wanita berbaju rendah yang mempertontonkan belahan payudaranya yang montok. Tak kan ada khayal liar dan terlalu jauh dari kaum lelaki yang memang kelemahannya terletak pada penglihatannya. Tak kan ada wanita yang terjebak dalam kenikmatan keliru karena kemampuan lelaki melantunkan rayuan menghanyutkan. Wanita tak kan peduli dengan godaan isu modernisasi performance. Tak kan ada peluang lelaki mengembangkan akal bulusnya.

Andai semua wanita di rumah saja, mempersiapkan pemahaman dan mentalnya untuk menjadi seorang istri dikemudian hari, maka tak kan didapati wanita memakai rok diatas lutut (dengan dalih aturan kantor atau sekedar mengikuti trend). Tak kan ternodai keseriusan lelaki memikirkan pekerjaannya, tak kan ada pengalih perhatian dan konsentrasi lelaki saat dia menyusun gagasan-gasan brilian memajukan perusahaan. Tak kan ada hambatan non teknis ketika seorang lelaki sedang mengoptimalkan talentanya.  Tak kan ada peluang perusahaan memanfaatkan wanita di front office karena kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya. Tak kan ada keresahan ingin di kalangan lelaki tua atau yang sudah beristri. Tak kan ada kekhawatiran para istri (yang juga dari kamu wanita) ketika suaminya di kantor atau sedang keluar kota untuk sebuah urusan dinas. Tak kan ada media berbuat keliru ketika seorang lelaki dimabukkan oleh sebuah kesuksesan.

Andai wanita hanya mempersembahkan keindahan dirinya kepada sang suami kelak,
Tak kan di dapati lagi wanita meliuk-liuk dengan pakaian mimim di layar televisi mengekspose kecantikan rupanya, kehalusan kulitnya, kemampuan goyangnya, kemerduan suaranya, yang kesemuanya itu mengatas namakan kepentingan seni. Tak kan ada iklan produk yang mengekspose lekuk tubuh indah nan montok untuk mendongkrak penjualan produknya.  

Andai wanita menjaga dirinya dan tak keluar rumah tanpa ditemani muhrimnya, maka kecil kemungkinan terjadinya tragedi pemerkosaan atau kekerasan seksual di angkutan kota atau ditempat-tempat sepi yang berpeluang. Tak kan ada fitnah yang muncul, tak kan ada wanita yang hamil sebelum waktunya, tak kan ada ”making love dahsyat atas nama romantisme dan pengorbanan cinta” kecuali pada ruang dan waktu yang sepatutnya. Tak kan ada lagi lelaki yang ragu menikahi seorang wanita dikarenakan sang wanita tersebut sering berada di luar rumah dan melanglang buana ke berbagai penjuru. Tak kan ada orang tua yang resah tentang keselamatan puterinya di perantauan karena selalu ada dalam lingkar hidupnya atau meyakini puterinya berada dalam pengawasan yang benar. Wanita pun tak memandang penting lagi melakukan perjuangan jender atas nama emansipasi dan kesetaraan. Tak akan ada lelaki yang mengeksploitasi  wanita sebagai tulang punggung perekonomian keluarga.  Tak akan ada lagi terbentuk kisah kasih tak wajar yang sering didorong oleh kebersamaan yang berulang di kantor. Tak kan ada anak yang terlahir tanpa kejelasan siapa ayah sebenarnya. Tak kan ada perceraian atas dasar kecemburuan. Tak kan ada apartemen yang dihuni oleh wanita-wanita simpanan. Tak kan didapati wanita menyuguhkan minuman beralkohol di tempat-tempat hiburan malam. Tak kan di dapati lagi wanita di pintu masuk dan keluar pesawat. Tak kan di dapati lagi para wanita mempesona memperagakan tata tertib penumpang selama berada di pesawat.. Tak akan di dapati lagi operator telepon yang selalu menyambut suara pelanggan dengan nada khas dan memanjakan telinga.  

Andai wanita menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang menjaga, membesarkan dan mendidik anaknya, probabilitas keterbentukan generasi berkualitas akan lebih berpeluang, masa depan dan peluang kejayaan negeri ini akan menjadi lebih terbuka. Seorang suami/ayah akan lebih bersemangat berangkat kerja berkat ciuman dan lambaian tangan tiap kali berpamitan menuju medan pertarungan  hidup dna masa depan. Para suami akan selalu mendapati istri dan anak-anaknya di depan pintu menyambut saat  dia pulang dari mencari nafkah.  Lelah suami/ayah akan terhapus seketika karena mendapati istri dan anak2nya menyambut kedatangannya bak memperlakukan seorang raja. Tanggungjawab lelaki akan senantiasa terjaga dan terpupuk ketika menyadari betapa besar arti perhatian cinta dan kasih sayang yang dia dapatkan dari istri dan anak-anaknya.

Andai semua wanita dirumahkan saja, maka tak perlu ada mentri pemberdayaan wanita. Tak perlu ada agenda pemilihan putri dengan segala proses seleksi yang tak luput dari penilaian kesempurnaan dan kecantikan fisikly. Bahkan tak perlu ada ATM Kondom sebagaimana sudah begitu familiar di beberapa negara belahan dunia ini atas nama sex aman.   

Andai wanita kembali pada fitrahnya...dunia ini akan lebih damai. Setidaknya para pria akan terdidik  menjadi lelaki yang seharusnya. Lelaki akan fokus pada tugasnya sebagai seorang suami yang baik bagi istrinya dan ayah yang  bijak bagi anak-anaknya.

Begitu Zi khayal bijakku....pungkas Nguja. Sesuai komitmenku..sesudah aku menyampaikan khayal bijak ku..aku pamit....oke Zi ?? tanya Nguja. Sebentar...sebentar Ja, sahut mukzi memotong.

Kalau memang khayal bijakmu ini dikampanyekan menjadi gerakan mengembalikan wanita pada fitrahnya...bagaimana reaksi para wanita yang kadung nyaman menjalani profesi pegawai atau karyawan di kantor ???. Bagaimana kalau misalnya sebagian wanita malah menyalahkan kaum lelaki dengan mengatakan, ”salahnya lelaki ndak bisa ngendalikan diri dan ndak bisa jaga pandangan???”. Bagaimana pula kalau kemudian kaum wanita mengatakan perjuangan ini kolot, anti modernisasi, ndak peka zaman, sok alim, sok idealis, sok suci dan hujatan-hujatan lainnya???. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka mengatakan ini membatasi kebebasan wanita dan wujud egoisnya kaum lelaki. Bagaimana kalau gerakan ini disebuat sebagai pengkebirian segala potensi wanita atau mereka claim ini cara lelaki memenjarakan wanita?? Trus, apakah kaum lelaki sanggup mengurusi seluruh pekerjaan kantor atau perusahaan tanpa wanita ???. Apa reaksi para seniman dan dunia entertain bila hal ini di kampanyekan ???...apa yang terjadi pada dunia periklanan, pertelevisian, perfilman, ketika kampanye ini benar-benar berhasil ???,,tanya mukzi dengan penuh semangat....


Hmmmm....hela Nguja. Maaf Zi...silahkan kamu fikirkan sendiri..aku hanya ingin menyampaikan khayal bijakku, aku hanya ingin mendapati para wanita  kembali ke fitrahnya sebagai makhluk suci, sebab dengan cara itu dunia ini akan menjadi sangat tentram.

Oke Zi...????.  trims dah ndengerin khayal bijakku dan selamat mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanmu tadi. Nguja langsung membalikkan badannya meninggalkan mukzi dalam keadaan penuh tanya.....

Selamat Hari Ibu.....i love u mom...always   
Share this article :

+ komentar + 3 komentar

22 Desember 2011 22.45

Rasululloh saw bersabda: "Tidak pernah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih besar bagi kaum laki-laki adalah wanita". (HR.Bukhari-Muslim)

Seorang pria sukses itu pastilah terlahir dari seorang wanita. Dari wanitalah kita mendapatkan kelembutan dan kasih sayang. Namun kini yang terjadi justru kemuliaan wanita terkoyak karena wanita dianggap menjadi sebuah godaan yang menjadikan seorang pria menjadi lemah.

Wanita adalah perhiasan dunia. Sampai kapanpun hal ini akan tetap menjadi hal yang penting. Jangan sampai seorang wanita justru menjadi sebuah godaan yang akhirnya menyebabkan hal-hal buruk di dunia ini. Banyak hal dari seorang wanita yang menjadikannya begitu indah. Karena keindahannya itulah, menjadi hal yang sangat menggoda.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

"Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki." (HR. Tirmidzi, shahih)

Allah Taala telah berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur : 30-31).

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Anonim
2 November 2012 07.07

sebagai seorang wanita, saya sebenarnya setuju dengan mengembalikan wanita ke fitrahnya..
namun disisi lain saya juga tidak mau munafik, kemajuan teknologi sekarang ini tidak mungkin bisa membuat saya tetap berdiam diri tanpa melakukan apapun..
dan hanya dengan berdiam diri di rumah, saya tidak bisa mengeksplor potensi saya

3 November 2012 18.47

Di rumah sesungguhnya bukan berarti diam, justru dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini memungkinkan untuk melakukan banyak hal dari rumah, sehingga eksplore potesi diri juga selalu terbuka. Hanya saja, "niat" eksplore diri yang harus senantiasa terjaga, sehingga potensi kemudhorotan bagi diri dan juga bagi orang lain dapat tereliminir sedemikian rupa. Persoalan rumitnya adalah ketika hal ini dikaitkan dengan "pemenuhan kebutuhan", sebab hal ini sudah tentang ketauhidan terhadap keadilan Tuhan...KAH??

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved