Ideologi dan Nilai-Nilai Perkoperasian Sebagai Jawaban Kebangkitan Perekonomian Bangsa

Kamis, 22 Desember 20110 komentar


Disampaikan pada kegiatan “Pengakraban Koperasi Pemuda Se-Jateng”, yang diselenggarakan  oleh KOPINDO Perwakilan Jawa Tengah, di Tawang Mangu, Karanganyar, Surakarta , tanggal 23 -24 Des 2011
 

A.  Pendahuluan bernada gamang
 Membicarakan perekonomian negara bukanlah perkara mudah, disamping banyaknya faktor yang berpengaruh, kata “bangsa” membawa fikiran kita pada  sebuah komunitas besar yang majemuk. Namun ketika sebuah bangsa difahami sebagai kumpulan individu-individu, maka  pemahaman ini memiliki kesamaan dengan koperasi yg selalu di defenisikan sebagai kumpulan orang. Dengan demikian, sebagian orang yang melibatkan dirinya dalam ruang juang koperasi,  menumbuh kembangkan koperasi juga merupakan kontribusi nyata  dalam pada negara tercinta ini. 

Siapakah sesungguhnya yang peduli dengan “perekonomian bangsa”?.  Adakah mereka  dari kumpulan orang cerdas yang benar-benar dilandasi rasa cinta tanah air ???, ataukah mereka yang selalu meyakini “membicarakan bangsa” sebagai sumber peluang dan peningkatan harapan hidup..???, ataukah mereka dari kumpulan orang-orang cerdas dalam urusan ekonomi makro dan selalu mejadikan “ekonomi bangsa” sebagai  bahan yang menarik untuk dikaji dan dianalisis??. Ataukah mereka yang bertengger di wilayah kekuasaan dan membicarakan “perekonomian bangsa” sebagai sebuah kewajiban dan sumber efektif membangun pencitraan dan  political will..???.  Atau...????

Siapapun itu dan motif apapun yang melatarbelakanginya yang terpenting adalah efek positifnya pada perekonomian bangsa, Ingat, setiap orang dari kita adalah bagian dari bangsa ini. Artinya, apakah kemudian akan menjadi subyek atau obyek penderita dari situasi perekonomian bangsa, sesungguhnya masalah pilihan saja. 


B.  Pemuda  dan Koperasi  

Pemuda adalah cikal bakal masa depan sebuah bangsa. Regenerasi adalah sebuah keniscayaan, sehingga pada gilirannya pemuda masa kini akan memegang  kendali bangsa ini di suatu saat nanti. Oleh karena itu, kualitas pemuda  menjadi persoalan serius untuk difikirkan. Pembentukan kapasitas pemuda menjadi agenda penting jika tidak ingin membiarkan masa depan bangsa ini pada  titik ketidakjelasan.

Sementara itu, koperasi didefenisikan sebagai kumpulan orang yang berjuang secara berjama’ah di bidang ekonomi, sosial dan budaya. Mereka membentuk, mengelola dan mengontrol secara demokratis perusahaan  yang mereka miliki bersama. Lewat strategi tata kelola  perusahaan, mereka meng-edukasi dan sekaligus membangun karakter individu yang selanjutnya menjelma menjadi pribadi kolektif yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama, kepedulian, keadilan dan kesetiakawanan. Ke-masiif-an nilai-nilai tersebut dalam diri individu-individu yang terlibat   akan berefek pada keterbangunan kualitas kolektivitas yang selanjutnya menjadi ujung tombak dalam memobilisasi pemberdayaan (empowering) dalam mencapai cita-cita yang mereka rumuskan bersama. 

Sifat sukarela dan terbuka pada sistem keangotaan koperasi, membuka peluang bagi siapapun untuk bergabung dan mengembangkan dirinya, termasuk kaum muda. Kebaikan nilai-nilai universal yang senantiasa di usung koperasi, disatu sisi sebagai alasan pembenar bagi pemuda untuk melibatkan diri dan sekaligus menjadikan koperasi sebagai media strategis  dalam pembentukan karakter dan kapasitas diri. Dengan demikian, pada saatnya tiba, pemuda sudah siap membentuk perbedaan cara dan menghasilkan kualitas bangsa yang lebih baik.


C. Koperasi dan Perekonomian

Dari sisi bidang yang diperjuangkan, koperasi memiliki 3 (tiga) bidang yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan, yaitu : ekonomi, sosial dan budaya. Untuk mengarah pada hal itu, maka  dalam operasionalisasinya, koperasi membangun kapasitas dan karakter anggotanya melalui edukasi yang terencana.  Lewat edukasi yang dinamis,  optimalisasi peran anggota sebagai obyek dan sekaligus subyek pembangunan koperasi dapat berjalan efektif. Dengan demikian  keterbangunan ekonomi, sosial dan budaya sesungguhnya adalah imbas dari keterbangunan kualitas, kapasitas dan karakter sumber daya manusia di dalamnya. 

Oleh karena itu, perjuangan koperasi sesungguhnya bukan persoalan ekonomi semata lewat ketersajian unit-unit layanan (bisnis), tetapi juga memperjuangkan keterbentukan manusia  yang memiliki budaya  dan karakter sosial yang bijak. Koperasi yang hanya concern membangun bidang ekonomi dan lekat dengan urusan materialitas , biasanya akan tergiring pada upaya-upaya  pertumbuhan modal lewat pacuan produktivitas. Bila ini yang terjadi, tanpa disadari, koperasi  telah meninggalkan jati dirinya dan terjebak pada perburuan materialitas dan bahkan sering tak peduli apakah itu harus meng-eksploitasi anggotanya sendiri. Pada ranah ini, membicarakan kolektivitas dan empowering menjadi sesuatu yang aneh.   

Satu hal yang menjadi catatan, karakter manusia koperasi selalu bercirikan budaya fikir dan perilaku yang bijak. Interaksi antar individu yang terjadi dilandasi keinginan kuat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kerjasama dan kegotong royongan serta senantiasa menghormati prinsip-prinsip keadilan. Dalam membangun perusahaannya, manusia koperasi  selalu peka dengan  efek sosial dan lingkungan yang akan ditimbulkan dari setiap tindakannya. Tak  berlebihan kalau kemudian PBB dalam menyambut tahun koperasi 2012 mengambil tema; “cooperative entreprise build better world”. Pemakaian kata “better world” merupakan penegasan terdapatnya nilai-nilai kebaikan yang menjadi pembeda  dengan pelaku ekonomi lainnya.  Jadi dalam skala efek dari keterlahiran sebuah koperasi yang benar, sesungguhnya tidak hanya bisa mempengaruhi negara (dalam hal ekonomi,sosial dan budaya) saja, tetapi juga berpotensi  mempengaruhi karakter dan dinamika dunia.

 
D.  Perwajahan Mayoritas Koperasi dan Koperasi Pemuda.

Tanpa bermaksud mengurangi apresiasi  atas keberhasilan beberapa koperasi  mempersonifikasikan dirinya sebagai institusi yang penuh kemanfaatan bagi stake holdernya, mayoritas koperasi di negeri ini ter-tengarai masih jauh dari harapan. Koperasi sebagai sokoguru ekonomi negara masih sebatas slogan yang merindukan bukti nyata. Ironisnya, ragam fakta suram ini menjadi pemicu rendahnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap koperasi. Ragam penyimpangan yang lebih sering ter-ekspose ketimbang kebaikan-kebaikan koperasi, juga menjadi pelengkap  dan memperkuat kesimpulan masyarakat tentang ketidaklayakan koperasi menjadi sumber asa. Tak terlalu salah ketika beberapa tahun lalu, pidato Presiden Megawati mengibaratkan gerakan koperasi lamban bagaikan keong.

Sementara itu, kondisi koperasi  pemuda juga relatif masuk dalam kategori mayoritas belum berkembang. Disamping kondisi ini menggambarkan lemahnya kapasitas pemuda koperasi, realitas ini juga mencerminkan rendahnya keyakinan dan  dan konsistensi komitmen dari kaum muda dalam men-drive kebersamaan menjadi karya yang penuh manfaat dan layak ditauladani. Di sisi lain, para pemuda koperasi juga cenderung lebih menyukai gerakan orasi ketimbang menjejalkan diri pada pelibatan  setiap proses penciptaan karya-karya berlabel koperasi. Kalau demikian adanya, menjadi menarik mengukuru seberapa jauh  efek gerakan pemuda koperasi dalam kihidupan masyarakat Indonesia?.


D.  Masa Depan Koperasi dan Tanggungjawab Pemuda

Sebagai calon pemimpin masa depan, tak berlebihan ketika berkesimpulan bahwa masa depan koperasi di negeri ini tergantung pada  pemuda. Mengingat bahwa koperasi juga berpeluang besar mempengaruhi negara dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya, maka pemuda koperasi juga berpotensi mempengaruhi warna negara dimasa yang akan datang.

Atas nilai urgensi tersebut seharusnya pemuda koperasi mengambil tanggungjawab yang nyata . Apresiasi masyarakat yang rendah terhadap koperasi harus dikoreksi dengan cara-cara bijak melalui karya nyata yang menginspirasi masyarakat untuk menauladani. Satu hal yang menjadi catatan, ketauladanan adalah alat paling efektif untuk melakukan  perubahan. Ketauladanan karya menjadi penjelas kebenaran dan nilai-nilai baik yang terkandung di dalam koperasi. Dengan demikian, disamping terjadinya koreksi bijak atas opini dan apresiasi secara alamiah, ketauldanan karya ini juga akan menginspirasi gairah masyarakat untuk menumbuhkembangkan koperasi. Pada gilirannya, ketika koperasi-koperasi tumbuh dan berkembang, maka keberdayaan koperasi memerankan diri sebagai soko guru ekonomi secara bertahap terbentuk dengan sendirinya. Tetapi, tertarikkah kaum muda berproses ?.


E. Membentuk Ketauladanan Berkarya Lewat Implementasi Nilai-Nilai

Koperasi bukanlah organisasi bebas nilai. Nilai-nilai koperasi merupakan pedoman sahih yang membimbing setiap upaya koperasi membentuk dan memperluas kebermaknaan  lewat kolektifitas dan empowering.

Sebelum pembahasan lebih lanjut dan sekaligus me-refresh ingatan tentang nilai-nilai koperasi sebagaimana tersalin dalam  ICIS (international cooperative identity statemen)  yang merupakan hasil kesepakatan ICA di Manchester, tahun 1995 yang berbunyi:

“Koperasi berdasarkan nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan. Anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etis kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial, serta peduli pada orang lain”.

Mereferensi pada salinan di atas, bisa dibayangkan ketika sebuah koperasi memegang teguh nilai-nilai tersebut, maka hampir dipastikan akan terbangun gerakan yang tidak hanya  bicara tentang pertumbuhan modal, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya dan tatanan sosial yang bijak. Rasa kesetiakwanan akan menggiring kepedulian untuk saling membantu, nilai kejujuran dan keterbukaan akan membangun trust dan sekaligus menghilangkan rasa curiga satu sama lain dan lain sebagainya.  

Oleh karena itu, realitas mayoritas koperasi yang masih jauh dari harapan, sesungguhnya bukan karena kesalahaan konsepsinya, tetapi belum tertemukannya cara  efektif dalam mengoperasionalkannya. Atas dasar itulah, gerakan ketauladanan harus dilakukan. Membentuk keyakinan yang sama atas efek positif yang akan ditimbulkan ketika sebuah koperasi menjalankan nilai-nilai dan prinsip, merupakan modal penting dalam mengoreksi dan sekaligus menciptakan koperasi-koperasi yang benar.  

Koperasi-koperasi harus membangun komitmen bersama untuk mengimplementasikan jati diri koperasi (defenisi, nilai-nilai dan prinsip)  secara bertahap dan berkesinambungan. Gerakan bersama ini tidak hanya akan membantu pertumbuhan kemanfaatan kebersamaan dimasing-masing koperasi, tetapi juga secara bertahap akan terbentuk kedigdayaan kolektif yang berimplikasi signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan negara, baik dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.


F. Penghujung

Koperasi adalah kumpulan orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi,sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Ketersajian koperasi berbasis nilai diyakini akan memiliki pengaruh signifikan dalam tatanan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat dan bahkan negara.

Kebenaran dan kandungan kebaikan-kebaikan dalam perjuangan koperasi, selayaknya dijadikan pembenar dan sekaligus penyemangat untuk terus menumbuhkembangkan koperasi. 

Selaku pemuda ,calon pemimpin dan penentu perwajahan bangsa  dimasa mendatang, selayaknya terpanggil untuk  melakukan sesuatu, sesuatu yang nyata sebentuk koperasi tangguh dan bermakna luas, sesuatu yang akan membentuk karakter ekonomi, sosial dan budaya. Keterciptaan koperasi tangguh tidak hanya  akan mensejahterakan individu-individu yang tergabung dalam kelompok koperasi saja  tetapi juga  berfungsi sebagai alat koreksi bijak atas realitas masyarakat dan negeri ini.

 Pemuda harus mampu menjadi agen perubahan lewat ketauladanan yang mampu menginspirasi lainnya untuk berbuat sama. Semoga menginspirasi...!!!!
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved