Setahap Ke Pendefenisian Rasa

Senin, 28 November 20111komentar


Obsesiku atas sebuah cinta sempurna bertabur restu Tuhan telah membawaku pada kesedihan teramat pedih. Ketidakyakinan kekasih hatiku atas kekuatan Tuhan tentang sebuah akhir telah membawaku pada kesepian yang panjang.


Kubangunkan keikhlasan atas perginya dengan satu kalimat penguat bahwa mungkin dia bukan pilihan Tuhan buat ku. Keyakinanku tetap ku pelihara dan ku kumandangkan sebagai pertegasan sikap ku tentang cinta di hadapan Tuhan. Ku akan tetap jaga sebagai bentuk upayaku menginspirasi belas kasihan Tuhan hingga cinta sempurna yang kudambakan akan hadir dikehidupanku. Saat ini aku memang jatuh dan tak berpengharapan. Pilihan dia membangun kisah kasih baru bersama lelaki lain begitu menyakitkan. Ragam berita dan cerita yang kudapatkan membawaku pada kesedihan. Ketakutanku atas sikapnya adalah ketika dia langsungkan atas dasar emosi sesaat. Sekilas ku tampak gagal dalam menamkan dogma cinta berkalang sabda Tuhan. Ingin ku mencegahnya, tetapi kekerasan hatinya tak menyisakan cela untuk ku masuk dan mengobarkan semangat menghadirkan Tuhan dalam cintanya. Aku hanya larut dalam tangis, rasa berdosa menyelimutiku atas segala apa yang telah dia lakukan. Aku lah lelaki yang mengenalkannya pada rentetan kisah keliru walau tidak sampai pada titik sempurna. Tetapi kesempurnaan yang dia dapatkan bersama lelaki lain telah menghenyakkanku pada rasa bersalah nerkepanjangan dan sekaligus rasa amarah yang teramat sangat.

Dikekecewaan panjang menderaku, di keberdosaan rasa yang menyelimutiku, kucoba bangkit dan berkawan dengan Tuhan. Ku bangun keyakinan diri untuk tetap tegak, berdiri dan melangkah meningggalkan kisah lama yang tak berakhir dengannya. Berteman dengan Tuhan kujadikan obat mujarrab dan sekaligus cara untuk melanjutkan pencarianku atas tempat sempurna melabuhkan hati. Aku harus bangkit dari keterpurukan, aku tak boleh terjerambab dalam kisah sedih yang membawaku pada kesempitan dunia dan asa. Aku harus bisa menjawab realitas hidup berikutnya walau tanpa cinta sebagai penyemangat. Aku harus ber ke bisa-an untuk memandang cinta hanyalah bagian kecil dari keseluruhan hidup yang harus ditasbihkan.

Seiring berjalannya waktu, kekuatanku mulai tumbuh. Energi untuk berdiri tegak terus bertambah dan membimbingku pada kemandirian berfikir. Rasa bersalah bermetamorfosa menjadi ketenangan yang luar biasa dan memupuk percaya diriku untuk pantas merasa senantiasa dilindungi dan bersahabat dengan Tuhan. Ada ketenangan  bathin yang tak tergambarkan, ada energi extra yang menggairahkanku dalam menjalani realitas hidup yang mayoritas tak berkarakteristik kesenangan atau keindahan.

Adalah penderitaan logika dan rasa sedang menggelayuti hidupku. Badai besar telah menenggelamkanku dalam kesedihan yang tak terkira. Hari-hariku menjadi tampak tak mudah. Semua orang memilih untuk pergi dan meninggalkanku sendiri dalam memberi jawaban nyata atas semua masalah yang  jejak mulanya berasal dari mereka. Kelelahan logika dan rasa terkadang tak bisa ku pungkiri selalu tergambar diwajahku, walau hal itu hanya diketahui orang-orang tertentu saja. Kala lelah logika dan rasa datang, kesepian ini terasa begitu menyiksa. Ada keinginan atas mukjizat  mengubah keadaan, tetapi berfikir begitu hanya membawaku ke keadaan yang sama dan tak akan mengubah apapun. 

Dikelelahan yang begitu nyata tergambar dari pancaran aura ku, diambang keyakinanku untuk ikhlas dan berkemampuan menjalani semua ini, perlahan kamu menjadi orang yang tampak berempati pada keadaanku. Sikapmu memberiku rasa tenang dan seolah melahirkan energi kekuatan baru untuk bergerak melawan segala kepedihan yang menyelimutiku. Tiap kali lemah dan lelah menghinggapiku, kamu hadir dan menjelma menjadi wanita yang paling mengerti aku. Ke ber-ulangan sikapmu yang begitu perhatian dan sikap-sikap motivasional yang kau hadirkan menjadikan kita akrab dan sering bersapa dalam nuansa saling menyemangati.

Kedekatan ini melahirkan kenyamanan yang luar biasa dan tanpa ku sadari hadirmu  telah menjadi pelemah kemandirianku. Tetapi, suguhan kedamaian dan kenyamanan suasana yang kau hadirkan mulai menghanyutkanku dan terbangun makna  hadirmu sebagai sumber inpirasi baru dan memperkuat semangatku untuk melangkah melalui semua ketidaknyamanan hidup ini.  Kamu hampir tak pernah kehilangan akal untuk terus memotivasiku  hingga aku merasakan semua itu menjadi sebuah kebutuhan. Aku tak bisa mengukur dasar kau melakukan semua ini. Adakah kamu memahami betapa hatiku tercabik-cabik oleh cinta masa laluku. Ataukah kefahamanmu atas realitasku yang tak bahagia telah menginspirasi iba mu. Ataukah kamu membaca kenyataanku adalah potensi kebaikan yang kan membawamu pada kemuliaan di pandangan Tuhan. Aku tak menemukan jawabnya, tetapi kehadiranmu, senyum ikhlasmu, petuah-petuah mu yang terkadang mengundang geli ditengah kesedihan yang melanda, terus hadir disaat ku membutuhkannya. Sepertinya kamu punya indra ke enam dan tahu kapan harus meluncurkan peluru kedamaian di situasiku. Aku mulai merasakan nyaman, aku mulai terjebak pada ketergantungan.  Hal ini kusadari ketika kamu pergi untuk beberapa saja  dan tak berkesempatan melemparkan amunisi kenyamanan yang ku butuhkan.

Aku merasa rindu dan kehilangan saat itu.  Bahkan aku mengalami rasa tersiksa layaknya pecandu yang tak menemukan sabu-sabu. Emosiku menjadi labil, semangatku melemah, energiku terasa cepat terkuras dan menjadi letih. Aku menjadi seperti lelaki linglung yang ditinggal kekasihnya tanpa alasan yang jelas. Aku seperti anak ayam yang terpisah dari induknya. Ada apa denganku...tanyaku dalam hati.  Di hari ke-7 kepergianmu, tiba-tiba kamu mengabarkanku lewat SMS akan segera kembali.  Ntah kekuatan apa yang ada dikalimatmu hingga aku menangis bahagia  atas  sapamu di pagi itu. Aku berjingkrak senang seperti anak kecil yang sedang mendapat mainan dari ibunya yang baru datang dari bepergian jauh. Hatiku berbunga-bunga dan tiba-tiba aku seperti mendapat  asupan magic berupa energi baru membangkitkan gairahku yang telah hilang di sepanjang kepergianmu. Ku balas sms itu dengan suka cita.  Ku tanyakan jam berapa kamu akan take off  hingga aku bisa mengukur  jam berapa kamu akan tiba. Beragam kalimat tanya yang kulempar padamu mengagetkanmu dan menginspirasimu bertanya ”gi kenapa sih mas?? , kok kelihatannya gi seneng banget.  Seketika aku terhenyak dengan tanyamu. Aku pun baru tersadar  dan bertanya sama ada apa denganku.

Dilamunanku yang mencoba menemukan jawab, SMS mu tiba2 masuk lagi dan bertanya sama. Ntah kenapa , jemariku tergerak untuk menggerakkan key pad HP ku bertuliskan...”aku pun tak menemukan jawabnya”. Ketika SMS ku terkirim, ada timbul penyesalan yang luar biasa mengapa harus mengutaran kondisi senyatanya. Di kebingungan dan rasa bersalahku atas kejujuran itu, akhirnya ku nekad meneleponmu. Kembali lagi aku mendapati pertanyaan yang sama...ada apa sih mas???.

Aku terhenyak, air mataku tiba2  jatuh dan aku kehilangan kebisaan untuk berkata. Dari sepatah kalimat yang ku paksakan, kamu seperti mengerti kalau aku sedang menangis. Bahkan kamu pertegas dengan bertanya; mas nangis ya..??? Kenapa sich mas..??? .  Aku ngelakukan salah dan menyakiti hati mas ya???. Kalau memang begitu aku minta maaf ya kalau memang telah berbuat salah, tetapi aku sama sekali tak pernah berniat menyakiti mas. Permohonan maaf itu seperti kalimat magis dan bisa menghentikan air mataku dan bahkan menjelma menjadi keberanian yang kuat untuk berujar padamu. Seperti mendapat kekuatan, aku mengatakan dengan lugas kalau aku merasakan sesuatu yang aneh dan tak dapat kudefenisikan. Aku merasa bahagia sekali atas kabar rencana kembalimu. Aku pun jujur mengatakan kalau merasakan sepi yang teramat sangat ketika kamu tak menyapaku. Aku merasa nyaman dan aku baru sadar semua itu ketika kamu jauh dariku walau untuk sementara. Kamu menyela kalimatku dengan bertanya :Trus??. ”Aku tak tahu aku sedang mengalami apa. Aku hanya seperti menemukan kekuatan baru dengan segala bentuk perlakuanmu yang begitu memperhatikanku. Aku takut dengan perasaan ini.  Aku takut terjebak pada perasaan sama yang kemudian menggiringku pada kepedihan yang teramat sangat di beberapa waktu yang lalu” jawabku. Kamu terdiam, dikediamanmu ku rasakan hela nafas yang panjang dan dalam. Kini aku balik bertanya, ” kamu kenapa??, kok diam aja??”.  ”Mas...ujarmu perlahan dan dengan suara yang begitu berat. Sejujurnya kesadaranku muncul ketika aku mengabarkanmu kalau aku dah sampai di Surabaya. Saat itu, ada perasaan khawatir atas kondisi mas. Aku hampir tak bisa mengendalikan diri dan memilih untuk segera kembali agar bisa memantau mas setiap hari. Entah kenapa muncul kekhawatiran kalau terjadi sesuatu pada mas ketika aku sedang jauh dari Palembang  dimana mas berada. Aku mencoba me-review atas segala rekam jejak  interaksi kita yang intensif  di 3 (tiga) bulan terakhir. Aku mencoba mencari jawab apa yang telah mendorong ku begitu memperhatikan mas. Aku pun melakukan semua itu layaknya air mengalir.  Semua itu tak pernah terfikir olehku dan mengalir begitu saja. Ku yakinkan perasaanku dengan mencoba tak bersapa dengan  mas sampai aku kembali menyapa mas untuk mengabarkan kepulanganku. Kejujuran mas atas apa yang mas alami disepanjang kepergianku telah melahirkan keberanianku untuk berterus terang pada mas bahwa sesungguhnya aku merasakan hal  sama, di dera pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawabnya. Aku mencoba bertahan mendefeniskan semua ini  persahabatan, tetapi setelah mencoba membandingkan dengan sahabat-sahabatku dari  kaum hawa, aku tetap menemukan perbedaan rasa yang nyata dan  kemudian menggiringku pada bersit tanya apakah aku sedang jatuh cinta ke mas ??. namun  kesadaranku mengatakan ini tak mungkin ketika kukaitkan segala keadaanku. Ku tekati untuk menghalangi keyakinanku bahwa ini adalah cinta, tetapi rasaku mengalahkan rasionalku.  Egoku menggiringku pada pembiaran rasa ini. Ntah kenapa selama ini aku berpandangan bahwa mas sepertinya  juga nyaman dengan segala perhatian yang  kuberikan, hingga itu melahirkan keberanian-keberanian baru untuk mengulangnya hingga aku tak sadar memperhatikan mas seperti menjadi  kewajiban yang harus senantiasa kusajikan di keseharian mas.  Andai kejujuran ini berakibat  mas tak berkenan lagi dengan segala sikapku yang berbentuk perhatian, ku mohon beri aku waktu untuk belajar untuk tak melakukannya lagi. Sejujurnya aku nyaman memperhatikan mas. Maafkan aku mas atas kejujuran ini, tetapi akupun belum berkesimpulan atas semua yang ku rasakan terhadap mas. Bisa saja aku sedang emosional hingga tak mampu mengurai  dengan akal sehatku. Maafin aku ya mas. Maafin aku ya mas..ulangmu”.

Kejujuran mu itu melahirkan kebahagiaan yang luar biasa, hingga aku larut dalam bulir air mata kebahagiaan. Aku pun tak berniat melarang atau memintamu menghentikan semua ini, karena sejujurnya apa yang kamu rasakan juga menimpaku. Ku yakinkan mu pada saatnya nanti kita akan bisa mendefenisikan semua ini cinta atau bukan. Aku pertegas tak ada yang perlu kita rubah. Membiarkannya mengalir seperti air adalah pilihan yang paling bijak untuk berkesimpulan tentang apa semua ini. Ku tutup pembicaraan kita dengan mengucapkan hari-hati dijalan dan sampai ketemu di Palembang dan jangan lupa memberi ku kabar ketibaan mu hingga aku tak merasa khawatir. ”iya mas..mas juga jangan lupa istrahat dan makan yang cukup, Assalamu ’Alaikum mas” ujarmu  sekaligus menutup pembicaraan hangat kita di sore itu. 
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

18 Januari 2012 01.56

baru baca..dan tanpa sadar menetes air mata
banyak kenangan yang tak terungkapkan dan terceritakan satu persatunya,,,
tapi bujing sebagai ponakan sangat bangga kepada beliau...
dan kebaikannya diakhir hidupnya sungguh luar biasa...
banyak pelajaran yang bisa diambil dari tulang
selamat jalan tulaangku ...kami menyayangimu selalu
semoga tuhan menempatkan ditempat yang terbaiknya :)

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved