Panjatan Do’a di Tengah Hutan Kepedihan

Minggu, 27 November 20110 komentar


Dikeheningan malam ku terdiam…terarah fikiranku tentangmu…tentang cinta kita yang tlah kau tetapkan berakhir.  Aku masih mencintaimu dan akan selalu begitu. Namun..aku memilih tetap diam dan tak menyapamu. Aku tak mau menggugat sikapmu tuk menghentikan semua ini. Aku tak mau membuatmu bingung ketika kau tahu betapa aku hancur atas sikapmu itu. Aku tahu semua ini sesungguhnya bukan meniadakan rasa cinta diantara kita. Ku yakin kamu sama sepertiku…sakit dan tak rela untuk mengakhirinya.


Lelahmu atas semua ini, kenormalan hidup menggiringmu untuk bersikap. Kita pun bersefaham bahwa ini bukan tentang keraguan rasa dan kadar cinta diantara kita. Ini persoalan keyakinan dan realitas yang tak membentuk celah kearah impian tentang kesempurnaan. Kita sakit dengan rasa ini, karena kita tak pernah bisa ikhlas bahwa cinta ini hanyalah pertautan hati yang tak terpisahkan.

Terlalu lama fahammu atas kenyataan yang ada padaku. Fahammu telah memberiku nyali untuk menelusuri hidup, pengertianmu telah menjadikan cinta kita menyemangati hari-hariku berjuang menembus tembok tebal yang tak mungkin dalam kadar logika.  Cinta ini telah menginspirasi sebuah keyakinan kuat, cinta ini telah memberiku energy untuk berkawan dengan Tuhan setelah sebelumnya menempuh jejak kekeliruan dalam waktu yang cukup panjang.  Cinta ini telah bermakna penguat, namun disisi lain  cinta kita tak cukup lagi menjadi penguat bagi cinta kita sendiri. Memisahkan realitas dan perjuangan cinta tak pernah kita coba sebagai langkah menjaganya. Kau memilih untuk menghentikannya, entah itu sebatas lafal dan menjadikannya tiket untuk mencari kesempurnaan cinta, ataukah ini juga bermakna bahwa kamu benar-benar ingin membunuhnya. Aku tak berkeinginan menanyakannya, karena aku sendiri tak siap mendengar jawabmu. Lagu yang kau kirimkan hanya membentuk penegasan bahwa kamu lelah dan memilih mengakhirinya. Hanya itu pelengkap pesan singkatmu yang menegaskan bahwa semua ini tak ada guna lagi untuk dilanjutkan. Kusadari sepenuhnya lelahmu atas semua ini, kuhargai ketulusan dan kesetiaanmu dalam waktu cukup lama untuk cinta kita.

Sedikitpun tak terbersit ketetapanmu sebagai sebuah kejahatan, aku lah yang salah terlalu jauh berharap, terlalu jauh bermimpi tentang semua ini. Aku pun tak mau lagi menggugat ikhlasmu sebagaimana kau tegaskan ketika semua ini bermula. Aku pun tak menyalahkanmu walau ikhlas mu telah menjadi dasar bagiku untuk larut dan menyandarkan segenap rasa dan asa pada cinta ini. Aku pun tak akan memaknai itu sebagai sebuah sikap emosi dan meyakininya akan sambung kembali seperti waktu-waktu sebelumnya. Aku menetapkan itu sebagai keputusanmu yang terbaik dalam keadaan penuh kesadaran, walau sesungguhnya aku tak pernah siap dengan semua itu.

Sampai detik ini ..kamu tetap mulia dipandanganku.... Aku hanya berjuang membentuk kekayaan berfikir hingga mampu tetap berdiri tanpa lafal cintamu yang terlanjur menjadi kalimat magis pengisnpirasi energy hari-hariku diwaktu sebelumnya. Memori tentang kisah cinta tak usai kita akan ku jadikan pengganti penyemangatku..entah sampai kapan.

Sedikitpun tak terbersit untuk mengagas kisah baru  menggantikan keberadaanmu...Ketulusanmu telah memberiku pengertian tentang makna cinta sesungguhnya. Kesempurnaan cinta harus kuraih dalam anganku dengan tetap menjaga keberadaanmu dilingkar imajinasiku. Kusematkan kamu di lubuk terdalam, sebagai tekadku untuk mengabadikan kamu dalam hidupku. Biarlah kusempurnakan cinta kita dengan caraku sendiri, akupun berketetapan untuk membuktikan cintaku dengan mengikhlaskanmu memperjuangkan cinta sempurna..walau hampir pasti tidak denganku.

Inilah saat dimana aku harus menerima bahwa cinta tak harus saling memiliki, inilah saat dimana aku harus memberimu ruang untuk bahagia secara sempurna. Sejujurnya, terlalu sulit ikhlas mengetahui kamu membunuh cinta kita dihatimu, walau aku bertekad membangun senyum ikhlas untuk kebahagiaanmu di realitas kehidupan yang tampak dipandangan mata.

Bisa jadi, ada kebaikan disesudahnya...bisa jadi akan terbangun celah cukup untuk menyempurnakan kisah kita di setelahnya walau kita tak berusaha sedikitpun untuk itu. Setidaknya kamu akan pernah mengalami kesempurnaan realitas.  Bagiku bukan tak mungkin, di kesempurnaan realitas menginspirasimu untuk memahami atas sakit-sakit yang kau rasakan diwaktu lampau ketika perahu cinta kita masih berlayar. Bisa jadi pemahaman itu pun akan membuatmu menjadi mengagumiku dan kembali menghidupkan cinta yang kau redam seperti saat ini. Cukuplah aku yang tahu sejauh apa aku hancur berkeping-keping atas ketetapanmu, sebab kamu pun tak memberi penjelasan apapun tentang rasamu ketika  berkeberanian menetapkan semua ini berakhir.

Ku akan jalani ini sendiri, sebagaimana kamu melanjutkan hidup diketiadaanku lagi dihari-harimu. Dikehancuranku...aku tetap berdoa untuk kebahagiaanmu, hanya dengan itulah aku membuktikan cintaku padamu. Ku harap akan ada intervensi Tuhan dalam sikapmu, entah untuk kesempurnaan realitasmu...ntah untuk kisah cinta kita ..ntah untuk asa ku sesungguhnya...ntah untuk defenisi asamu tentang sebuah cinta...baik denganku atau dengan lelaki lain...Selamat jalan cintaku...semoga perjuanganmu menemukan pelabuhan yang kau defenisikan sebagai sebentuk kesempurnaan.


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved