Merenda Makna Kediamanmu

Minggu, 27 November 20110 komentar


Hampir sebulan kebisuanmu berlangsung. Surat terakhirmu yang berisi ketegasan sikapmu atas kisah kita kubaca berulang. Aku hanya mau meyakinkan bahwa aku tak salah memahami kata demi kata, kalimat demi kalimat. Tiap kali ku baca saat yang sama air mataku tak tertahankan. Dalam suratmu, kau tak memberiku pilihan kecuali memahami dan menghormati ketetapanmu walau sejujurnya  hal ini membawaku pada perulangan  trauma cintaku yang suram di fase sebelumnya. Kekhawatiran yang ku sampaikan diawal kisah kita bermula terbukti terjadi.   Keputusanmu memojokkanku pada sisi kecewa yang amat mendalam, jauh lebih menyakitkan ketimbang  kisah sebelumnya. Aku menjadi bodoh dan tak bisa berfikir.


Kufikir dah cukup aku menangisi keputusanmu itu, saatnya kubangun keihkhlasan atas akhir kisah yang tak bahagia ini. Aku harus bisa memahami sikapkmu sebagai bentuk jawaban dari Tuhan. Kesempurnaan cinta yang kuperjuangkan kembali kandas. Kebelumberhasilanku meyakinkanmu atas indahnya keberpihakan Tuhan harus kubaca dalam kebijakan berpandangan. Ada keinginan untuk memastikan kamu dalam keadaan iman terjaga.  Ada kekhawatiran kamu akan mengambil langkah emosional dan mengumbar cinta dalam kadar yang belum seharusnya. Ku harap kamu kan tetap meyakini kalam Tuhan sebagai sebuah kebenaran yang harus dijalankan, walau sedang berada dikesepian bathin menyengatmu. Sejujurnya ku takut sekali, takut kamu mengulangi kekeliruan kita dimasa lalu. Aku dikejar merasa berdosa ketika mendengarmu melakukan itu. Adalah benar kekhilafan kita sampai tingkat titik butuh, tetapi ku harap iman akan menjadi benteng pertahananmu saat dimana hasratmu memuncak untuk mengenyamnya.

Aku tak bisa pungkiri, dikediamanmu yang panjang, sepertinya aku merasakan tenang secara kebathinan, aku merasa lebih diperhatikan Tuhan, aku merasa lebih percaya diri beristighfar dan mengumandangkan do’a, bahkan meneriakkan asaku tentangmu. Air mata di sajadah di persujudanku bertemankan mohon atas mu mengalir deras dihadapan Tuhan. Kesepian yang kau hadiahkan telah menggiringku tuk berkawan dengan Tuhan dalam arti sesungguhnya.  Saat keinginan tuk menyapamu menguat, saat yang sama  asma Tuhan mengemuka berbalut istighfar dan juga harap. Ku kekang keinginan ini untuk sekedar menyapamu, walau tak jarang air mata menjadi sahabat yang memperkuat pertahananku untuk tetap menghormati surat terakhirmu. Mungkin ”puasa menyapamu” akan membentuk keikhlasanku atas semua ini. Bisa jadi ketetapanmu adalah bentuk awal keberpihakan Tuhan. Bisa jadi kepergianmu adalah untuk sementara, sehingga aku lebih khusuk dalam tasbih penantian ini. Ku hibur anganku lewat membangun pandangan bahwa Tuhan sedang memisahkan kita sementara. Tuhan sedang memberi jeda waktu hingga kita lebih siap dipertemuan berikutnya, hingga keimanan kita lebih terlatih dan tak terjebak untuk saling mencintai melebihi cinta kita kepada NYA. Bisa jadi, jawaban asa kita akan hadir ketika kita bener2 sudah tak berani mengharapkannya. Bisa jadi, di tahap ketenangan bathin dan berkawan dengan Tuhan yang lebih dekat akan kita fahami bagaimana seharusnya kita memupuk rasa ini tanpa kehadiran dosa yang sesungguhnya menjauhkan kita pada mimpi kita tentang cinta ini.  Keikhlasan ini harus terbangun sampai dari bawah alam sadar kita.  Bisa jadi kesepian ini adalah cara Tuhan menghukum kita atas ragam kekhilafan yang telah berlkau diantara kita sampai kemudian Tuhan akan menghadirkan kebahagiaan kita sesungguhnya dalam lingkar keberpihakan yang terjaga. Aku akan membangun keyakinan ini, ketetapanmu tak kan kufahami sebagai sebuah akhir, tetapi sebuah awal perjalanan menujumu. Kubangun kepasrahan diri dan tetap menjaga hati dari wanita lain sebagai caraku untuk mengaskan pada Tuhan betapa kuingin bersamamu. Aku akan berhenti mengutukmu, aku tak akan pernah lagi menjauhkan Tuhan hanya karena romantisme kejiwaanku tak tergenapi. Aku akan menjadi manusia bari di hadapan Tuhan. Aku akan menitipkanmu pada Tuhan, aku akan membangun keikhlasan apapun bentuk ketetapan Tuhan atas  jodohmu. Aku tak berani lagi mengeksplore kemampuan agitasiku merayumu untuk merubah keputusan mu tuk tak mendiamkanku lagi.  Biarlah Tuhan akan membimbingmu memandang semua ini.   
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved