MENGENAL SUMBER-SUMBER PERMODALAN (dari perspektif praktek)

Jumat, 25 November 20110 komentar


 Disampaikan pada kuliah dosen tamu di MU (Magistra Utama) Purwokerto, 19 Januari 2011
 

A.    Uang dari kacamata usaha
Dalam spirit kewirausahaan, modal terbesar adalah semangat dan uang adalah sekedar alat bantu untuk mencapai tujuan. Semangat bisa mendatangkan dan melipatgandakan uang, tetapi uang bukan  sebuah indikator pasti bahwa semangat pasti akan datang. Oleh karena itu, kalau anda ingin mendalami wirausaha, maka miliki modal terbesar itu, yaitu semangat.

B.    Mengenal sumber-sumber uang
Dalam tinjauan praktis, secara garis besar ada 2 (dua) sumber uang yang bisa anda gunakan untuk  membangun dan mendukung bisnis, yaitu; (i)  uang sendiri (internal) dan; (ii) uang dari pihak lain (eksternal). Secara ringkas kedua hal tersebut dijelaskan berikut ini:
(i)    Uang Internal. Modal internal adalah modal sendiri yang di manfaatkan untuk mendukung pencapaian cita-cita seseorang dalam bisnis/usaha, bisa bersumber dari tabungan sendiri dan atau penghasilan sendiri yang diinvestasikan ke dalam usaha.
(ii) Uang Eksternal. Uang eksternal atau uang luar, adalah uang yang bersumber dari pihak-pihak eksternal (di luar diri kita sendiri).  Ada beberapa pola yang bisa dimainkan dalam melibatkan modal eksternal yaitu :
a.            Investasi berjangka. Investasi berjangka merupakan model masuknya uang luar ke dalam sebuah perusahaan dalam jangka waktu tertentu (biasanya di tuangkan dalam kontrak kerja sama). Tentu ada kompensasi yang ditawarkan sehingga menarik minat  pemilik uang untuk berinvestasi.
b.            Bagi hasil. Bagi hasil merupkan model kerjasama yang menjunjung tinggi prinsip win win solution (menang sama menang). Artinya, kemitraan yang dibangun berawal dari kemauan bersama untuk berbagi peran dalam menjalankan sebuah usaha. Tentu hal tertinggi dalam hal ini adalah ”TRUST” alias kepercayaan, karena model bagi hasil biasanya menuntut kesiapan semua pihak untuk senantiasa terbuka satu sama lain.
c.             Hutang/pinjam. Hutang bisa dilakukan pada perorangan atau pada lembaka keuangan.  Hutang pada lembaga keuangan biasanya dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu; (i) lembaga keuangan perbankan dan; (ii)  lembaga keuangan non perbankan. Lembaga keuangan perbankan pun dipisahkan menjadi 2 (dua) yaitu; (i) lembaga perbankan konvensional dan; (ii) lembaga perbankan syariah. Sementara itu lembaga keuangan non perbankan adalah lembaga keuangan selain perbankan seperti koperasi, asuransi, reksa dana dan lain sebagainya.
Atas beberapa pola yang dijelaskan diatas, pada sesi kuliah ini focus membahas tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan/sistem kerja lembaga keuangan dalam mengambil keputusan memberi atau tidak memberi pinjaman. Dalam pembahasan ini, kita hanya menjelaskan hal-hal  umum yang biasa berlaku dalam sebuah lembaga keuangan.

C.   Pengambilan Keputusan Pemberian Pinjaman.
Dalam pengambilan keputusan pemberian sebuah credit,  lembaga keuangan biasanya menganut prinsip  5 C, yaitu : character, capacity,capital,collateral dan condition yang secara singkat dijelaskan berikut ini :
  1. Character. Character merupakan gambaran kepribadian dan rekam jejak moral dari si pemohon pinjaman. Hal ini menjadi penting untuk mendeteksi agar pinjaman tidak diberikan pada orang yang tidak tepat.
  2. Capacity. Capacity adalah pengukuran kemampuan si peminjam dalam memanfaatkan pinjaman dalam artian mengelola dan mengontrol efectivitas pemanfaatannya.
  3. Capital/modal . Pada titik ini, di coba menganalisis situasi permodalan pemohon  pinjaman.
  4. Collateral/jaminan. Dalam hal ini, di ukur kelayakan jaminan atas pinjaman yang dimohonkan. Jaminan ini bisa berbentuk kebendaan atau perorangan (personal guarrante)
  5. Condition/kondisi. Kondisi yang dimaksud adalah realitas perekonomian yang sedang berlangsung.

Ke 5C itu merupakan faktor-faktor yang  selalau diukur guna untuk :
  1. meyakinkan tingkat kemampuan pemohon untuk mengembalikan pokok pinjaman dan jasanya.
  2. Meyakinkan bahwa sang pemohon juga akan berkembang  bila di beri pinjaman.
  3. Meminimalisasi resiko kegagalan di masa yang akan datang.

D. Penutup
Demikian tulisan ini disusun sebagai sebuah pengantar  dalam perkuliahan pada sesi ini. Hal-hal pengembangan lainnya yang berkaitan dengan bahasan ini akan kita didiskusikan pada saat sesi kuliah dilangsungkan. Sekedar menyarankan, untuk memperluas wawasan anda tentang  masalah pemberian kredit, anda bisa aktif mencari referensi-referensi lain seperti perpustakaan, internet dan lain sebagainya.
 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved