MENANTI-MU MENJADI PERSOALAN KE-IMANAN

Minggu, 27 November 20112komentar


Ini bukan tentang ego yang tak terkendali, bukan pula tentang angan dari seorang lelaki. Ini pun bukan tentang ingin seorang pria yang diperbudak keliaran imajinasi.Ini tentang seorang hamba yang menunggu jawab Nya...Ini tentang uji keyakinan di hamparan ketidakpastian....



Hati ini pernah tertambat oleh sekejap saat ketika kamu memberi ruang tuk berlabuh. Kemudian waktu dan tempat men-jarak-kan hingga semua terhenti tanpa kejelasan dan kisah terusaikan tanpa pesan. Ketiadaan asa menimpa, air mata tercurah untuk sebuah tanya tak berjawab.

Dikegalauan hati menyesakkan, di kekalutan dan ketidakterkendalian rasa, di akumulasi tumpahan air mata yang menemukan titik lelahnya, tertemukan kesabaran dan keikhlasan atas sebuah kenyataan yang belum berpihak....pada saat yang sama, tertemukan pula keyakinan...keyakinan  melakukan penantian suci bermodalkan ketulusan,kesabaran dan kebijakan berpandangan demi sebuah pelabuhan impian...

Kedalaman rasa ber-umpama kamu  telah pernah ternikahi oleh ku. Situasi itu menjadikan posisimu tak pernah bisa terusik oleh cahaya manapun dan tak tergeser oleh hati manapun. ragam musim dan cuaca kebathinan tak membuat keberadaanmu lekang dan terpinggirkan.  Tak akan...tak akan..tak akan..keyakinan itu lahir dan bersemai  di alam bawah sadarku dan jauh dari rancang logika.

Ku jalani semuanya tanpa pernah berkeberanian mendefenisikan sebuah akhir penantian, namun tetap ku jalani, bahkan sampai suatu ketika kau berketetapan memilih jalan berbeda. Saat itu, bulir air mataku terjatuh lagi, semangat ini tenggelam ke titik nadir terendah. Ironisnya kekecewaan itu tak pernah bermetamorfosis menjadi sebentuk dendam, sakit hati ini tak pernah mampu menjadi penghenti kesabaran, tak mampu merusak keikhlasan, dan tetap setia untuk menanti. "Kesempurnaan mimpi pasti akan terjadi", kalimat itu bagai keramat dan selalu menjadi penyemangat.

Ku tetap menekuni keyakinan ini, ku tetap melakukan pencarian  di bentangan bumi pertiwi dan tetap merasa nyaman di hamparan belantara penantian. Bahkan, itu menjadi bagian tersendiri dari keseluruhan hidupku...

Ku beranjak melanjutkan hidup.. satu, dua, tiga, empat, sampai sembilan cahaya kubiarkan menghinggapiku. Aku tak berfikir sedang melukai keyakinanku, aku tak berfikir telah melakukan ketidaksetiaan atas penantianku. Ku biarkan mengalir bagai air dan membiarkannya menemukan muaranya sendiri. Walau demikian, penantianku  tetap kokoh di tempat mulianya dan tak terfikir mengarungi cahaya lain sebagai sebuah dosa atau semacam noda dari do'a dan penantian panjang ini.

Fakta sesungguhnya, ragam cahaya itu memang menghangatkanku, menerangi jiwaku, walau tak ku pungkiri luka pun terkadang menjadi bagian dari kehangatan cahaya itu. Semua ini ku lakukan bukan berdasarkan sebuah dendam, bukan pula tentang surutnya keyakinan atas penantian ini, bukan pula atas lelah yang memuncak, bukan atas ingin berbuat sama, bukan atas ketidakrelaan sikapmu yang melakukan pilihan tanpa meninggalkan sepatah kata,...tetapi untuk sebuah kehidupan yang nyata. Ntah kau mendengarnya, ntah kau peduli atau tidak atas pilihanku, ntah kau bahagia dengan pilihanmu, ntah kau memikirkanku, ntah kau masih menginginkan kesempurnaan kisah itu, ntah kau memang sudah apatis....ntah apapun itu..keyakinan ini tetep sama..tetep sama bahwa akan indah pada waktunya.

Suatu ketika kau mengindikasikan sapa, indikasi yang mengundang senyumku. Kusambut sapamu dengan rasa syukur dan tetes air mata bahagia. Sapa yang kemudian kufahami sebagai bentuk keterjawaban sebagian dari do'a ku. Ku nikmati setiap detik dari geliat sapamu.

Ku uji daya ingatmu, ku telisik inginmu, ku ukur asamu, ku takar kejujuranmu. Kau menjawab dengan air mata yang tak henti dan memberi penegasan dengan terbata. Hatimu larut ketika ku urai pencarian panjangku, emosi bathin kala itu menggiringmu bersatu dengan garis keyakinanku yang sudah lama terjaga di sisi yang tak tergugat, di sisi yang tak bisa tergantikan oleh siapapun juga. Dalam pada yang sama, perlahan ku lakukan pencarian jawab atas tanya yang tak pernah berjawab.

Akhirnya, terkuak  dan terungkap keterpenggalan kisah yang tak usai. Tertemukan ketidakterjawaban tanya yang begitu lama..terpaparkan sebuah penjelasan. Namun, keterungkapan kebenaran bukan alasan kuat untuk memaki kenyataan ataupun menghujat Sang Penentu ketetapan.

Do'aku tetap sama semenjak dulu kala..selalu sama..selalu bernada asa serupa. Kau coba ikut melantunkan do'a beriring derai air mata sebasah saat pertama kali aku melakukannya di awal kehilangan jejakmu. Kau menjadi makmum dan ikuti doa itu ditengah kenyataan yang tak terfikir sedikitpun untuk menyingkirkannya.

Ketika emosi rasa menemukan kebuntuan akalnya, sempet tergoda untuk menyatakannya. Namun, kalam-kalam Tuhan membentuk kesadaran untuk memilih sabar dan mencukupkan ingin sebatas kata. Air mata dipersujudan menguatkan diri untuk tetap stabil dan bertahan.

Ku untaikan kalimat penyemangat tiap kali rasa itu menyiksamu, agar kau tak membenci kenyataan, agar kau tak menghujat taqdir, agar air mata kau fahami sebagai penghalang ketersampaian do'a dan kemudian memilih berhenti tuk terus menangis. Ku untaikan beberapa lagu sejalan dengan suasana kebathinan, ku harap itu bisa mewakili kegalauanku.  

Lelah menerpamu..alam fikir menegasikan keyakinanmu atas semua ini..tetapi tidak denganku. keyakinanku tetep berdiri tegar dan telah teruji..bahkan saat kau entah sedang dimana dan dengan siapa. Keyakinan ini sudah terlanjur tak mengenal lelah, pertahanan ini telah menyatu di ketinggian pondasi keikhlasan,kesabaran,kepasrahan dan kebijakan berpandangan.

Pasrahmu bernada menyerah dan aku mencoba untuk selalu menyemangatimu..sekejap yang lain aku biarkan kejenuhan itu menggiringmu berkesimpulan bahwa semua ini hanya "khayal"...aku mengujimu...

Aku tetap dan sedang menunggu fatwa Tuhan beraroma restu. Bagiku ini tak lagi sebatas pertautan kasat mata, tetapi penyatuan kembali hati yang  terberai. Aku tak berfikir lagi penantian ini  berujung dengan kenyataan atau tidak, tetapi aku tetap membiarkan diri larut menjaga dan mengarahkan roh penantian menemukan jawaban pamungkasnya. Aku pun tak tertarik berhitung berapa banyak waktu dan pengorbanan untuk keyakinan ini.

Ini tentang kesabaran dalam menanti sebuah keberpihakan. Ini tentang keikhlasan menerima defenisi akhir dari keterjagaan hati yang tak pernah terusik oleh siapapun dan  apapun. Ini tentang militansi perjuangan sebentuk hati suci tuk menemukan belahan jiwa yang terberai, terberai oleh keterkurungan hatimu dan hatiku disisi lain.

Penantian panjang ini hanya terhentikan oleh ketetapan Tuhan, baik berbentuk keberpihakan atau kematian. Bahkan, Perjuangan hati ini seperti telah menjadi persoalan keimanan. Ketauhidan hati ini sudah tak bisa dicerna akal sehat yang men-Tuhankan rasionalitas, tak bisa difahami oleh sebuah kecerdasan akal dan kepiawaian olah rasa. restu ini tentang ke-ghoib-an walau ntah kapan datangnya. Bahkan ini telah menjadi urusan ku dengan Tuhan, terlepas kamu meyakini atau tidak meyakininya dan bahkan ketika kamu memilih untuk tak melantunkan lagi do'a-do'a itu.

Ini tampak aneh dan tak wajar, tetapi hakekat muasalmu dan muasalku adalah di tujuan keterciptaan oleh Nya. Kekuasaan Nya yang tak terbatas atas diriku dan dirimu, membuat ketetapan Nya menjadi hal yang tak tertolak oleh siapapun. rasa ini tak pernah kuizinkan menggiring akalku untuk mencapai keberhasilan semu. Pertautan sempurna hanya ku yakini lewat intervensi-Nya..bukan oleh pelemahan keyakinanmu ketika berada di puncak lelah. Jawab itu berada di ketebalan tertentu kesabaran, di kedalaman tertentu dari keikhlasan. Pasrah tak berarti ku diam...mendekat pada Nya menjadi upaya yang paling nyata dan tak terbantahkan oleh mu sekalipun.

Akhir indah itu tetap ku impikan dan menjadi dasar penantian yang mungkin secara akal sehat sudah tak bertuan lagi. kan ku biarkan kesabaran membimbingku pada kenyataan-kenyataan indah berikutnya...karena ku yakin...ku yakin pada Sang Pencipta selalu melekat sifat sayang...sebagaimana keberadaanmu telah menyatu pada tiap hela nafasku, pada segenap aliran darahku.

Ketercapaian itu tetap ku yakini, kecuali Tuhan berketetapan kesempurnaan kisah ini hanya ada di alam khayalku...kecuali kematian menjadi bentuk penegasan Tuhan bahwa penantian ini adalah sesuatu yang sia-sia.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

28 November 2011 18.25

Matab penuh perenungan ni.... sungguh sebuah catatan yang menggetarkan hati seorang pe-cinta...

Anonim
9 Desember 2011 00.35

Subhanalloh...

rasanya pas sekali di hati,langsung meresap kemana2...

Semoga penantian panjang kita berbuah manis selalu...
Dilapangkan jalannya, dikuatkan kaki kita, dijernihkan pandangan kita...
Amiin..

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved