MENAKAR KEBERANIAN MAHA-SISWA BERWIRAUSAHA

Sabtu, 19 November 20110 komentar


Disampaikan pada acara seminar kewirausahaan yang dilaksanakan oleh FISIP UNSOED, Purwokerto, 13 Nopember 2010


 A.  Prolog bernuansa kontemplasi
Terbersit Tanya mengapa Sang Penggagas terinspirasi untuk membuat agenda semacam ini dan kemudian menghadirkan saya. Sejujurnya ada beban yang luar biasa, bilamana kehadiran saya difahami mewakili orang yang sudah sukses. Karena sampai detik ini, saya masih berjuang mewujudkan apa yang disebut dengan “impian”. Mungkin lebih tepat kalau kehadiran saya disini mewakili orang yang bersemangat. Dengan demikian, apa yang saya bisa sampaikan pada forum ini adalah menularkan semangat dan sikap pantang menyerah, khususnya dalam menekuni dunia wirausaha yang identik dengan berburu di hutan belantara dan penuh dengan perjuangan berdarah-darah.

B.  Memaknai Wirausaha Dalam Perspektif Liar
Dalam banyak teori yang pernah saya baca dan denger, saya sepakat dengan pemahaman bahwa wirausaha adalah semangat untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya dan syukur-syukur bagi orang lain. Karena ini masalah semangat, maka anda pun bebas mengartikan kata wirausaha, sepanjang mampu menyemangati anda untuk melakukan sesuatu.

Sekedar contoh, dalam rangka menyemangati diri sendiri, saya pun mencoba membentuk pemahaman sendiri tentang  wirausaha yaitu :
1.      Memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita lewat cara yang disukai Tuhan atau syaitan (silahkan anda pilih dengan segala resiko yang mengikutinya)
2.      Membahagiakan orang lain yang berimbas pada kebahagiaan sendiri.
3.      Membantu orang lain lewat penciptaan kesempatan hidup bagi orang lain.
4.      Karena membantu orang lain adalah sebuah kebaikan, maka wirausaha merupakan salah satu profesi yang memperbesar peluang anda ke sorga (sepanjang niat baik anda senantiasa terjaga).

Dari defenisi diatas, saya mencoba memandang wirausaha sebagai media strategis untuk melahirkan kebermaknaan bagi banyak orang dan sekaligus memberi manfaat nyata bagi diri pribadi. Membahagiakan orang lain adalah cara jitu yang saya yakini mendatangkan kebahagiaan pula untuk diri sendiri. Kebahagiaan pribadi dimaknai sebagai imbas yang diberikan Tuhan ketika ikhlas membahagiakan orang lain. Dengan demikian, wirausaha bukanlah terbatas pada perjuangan pengumpulan materi 7 (tujuh) turunan (kalau anda pencinta faham materialitas), tetapi juga sebagai salah satu cara menterjemahkan kesempatan hidup yang dipersembahkan Tuhan berikut alam semesta beserta isinya ke dalam tindakan penuh makna.  Bagaimana Dengan defenisi  Anda……???.

C.  Mengapa Wirausaha Cenderung Tidak di Sukai
Wirausaha (usaha mandiri) memang masih jarang dijadikan sebagai pilihan utama, khususnya bagi para sarjana. Hal ini bisa difahami dari beberapa pandangan berikut ini :
1.      Mengandung resiko tinggi dengan tingkat probabilitas keberhasilan yang tidak bisa diukur. Hal ini berbeda nyata ketika anda menjadi karyawan/ti disebuah perusahaan swasta atau menjadi PNS, dimana hampir bisa dipastikan akan menikmati penghasilan tetap sesuai peraturan yang ada, kecuali perusahaan itu bangkrut dan atau anda di berhentikan.
2.      Paradigma keluarga. Andai ditanyakan kepada semua orang tua yang menghadiri wisuda anaknya, apakah lebih suka anaknya berwirausaha atau mencari kerja. Hampir bisa dipastikan 99,5% menjawab ;”mencari kerja”. Mengingat bahwa keluarga berpengaruh besar dalam diri seorang  anak, maka paradigma keluarga tentang kewirausahaan ini pun cenderung sering menjadi penghalang bagi seorang  anak untuk menekuni berwirausaha.
3.      Harga diri dan prestisius. Bekerja di perusahaan swasta maupun jadi PNS, masih difahami sebagai simbol keberhasilan dan bahkan sumber status sosial yang teruji di tengah masyarakat.   
4.      Sejarah bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa negara kita tercinta ini pernah di jajah cukup lama. Pengalaman terjajah telah ikut membentuk mental masyarakat menjadi penakut dan cenderung memilih untuk menghamba/mengikuti ketimbang di ikuti.
5.      Modal uang sebagai faktor utama. Banyak orang berpeandangan  memulai wirausaha  harus pakai modal uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Ironisnya, hal ini dijadikan sebagai penghalang utama untuk tidak memulai wirausaha. Padahal, sesungguhnya memulai wirausaha itu sesungguhnya diawali dengan ”semangat dan tekad kuat”.
6.      Kebijakan perbankan yang kurang berpihak.  Hal ini bisa dilihat dari persyaratan pengajuan kredit yang mengharuskan ketersediaan collateral (jaminan). Disatu sisi, bagaimana mungkin punya collateral  ketika seseorang baru akan memulai berwirausaha.
7.      Spirit berjuang yang rendah. Kehidupan modern yang menawarkan berbagai kemudahan berfek negatif terhadap spirit  perjuangan yang rendah. Semua serba ada membuat segalanya mudah untuk diraih sepanjang memiliki uang. Hal ini didukung ”rasa sayang” kurang tepat dari orang tua yang sering menuruti keinginan anak, sehingga tanpa terasa telah berkontribusi pada pembentukan mental manja seorang anak. Padahal dalam dunia wirausaha, diperlukan mental baja, tidak boleh cengeng dan pantang menyerah.

D.  Indahnya Berwirusaha
Secara obyektif, ada kebaikan-kebaiakan berwirausaha yang tak ada pada profesi yang lain.  Bagi mereka yang berani memilih wirausaha sebagai profesi, mereka bisa menikmati dan enjoy  dengan pilihan meraka. Hal ini bisa difahami karena dunia wirausaha punya beberapa keunggulan yang tidak tertandingi, yaitu :
1.      Tak perlu membuat surat lamaran.  Anda bisa memulainya tanpa harus membuat surat lamaran kerja, kecuali meminta izin pada alam dan Tuhan. Tak ada proses seleksi sebagaimana mencari kerja, sebab yang menyeleksi anda hanya alam dan keberpihakan Tuhan.
2.      Kebebasan. Sebagai wirausaha, tak ada yang bisa membatasi anda kecuali alam dengan segenap realitasnya. Anda bisa megambil keputusan sendiri tanpa harus meminta izin pada siapa-siapa. Sepanjang apa yang anda jalankan tidak berbenturan dengan aturan kehidupan bernegara dan tata kesusilaan masyarakat, maka tak ada yang bisa menghentikan langkah anda.
3.       Otoritas penuh atas hasil.  Apapun yang anda hasilkan adalah menjadi hak penuh anda. Apakah anda mau menikmati semuanya, menabung sebagian atau men-sedekahkannya, semua terserah anda.  Tak ada yang bisa melarang anda untuk memanfaatkan atau menikmati hasil usaha anda. Otoritas semacam  ini tak ada pada seorang karyawan yang berpenghasilan sesuai dengan kesepakatan kontrak atau kebijakan pimpinan perusahaan.
4.      Bebas waktu. Anda bisa melakukannya kapanpun dan dimanampun anda mau melakukannya.  Anda tidak terikat dengan jam dinas, karena anda lah yang menetapkan sendiri. Anda pun bebas kapan menghentikannya.
5.      Anda tidak bertanggungjawab pada siapapun kecuali pada diri sendiri dan Tuhan.
6.      Anda bisa berhubungan dengan siapapun, sepanjang anda bisa menciptakan agenda yang mutual (saling menguntungkan). Anda bisa seketika berteman dengan kepala daerah dan bahkan presiden sekalipun ketika anda mampu meng-create agenda yang mutual bagi di fikiran mereka.

E.  Wirausaha adalah dunia ”GILA”
Dunia usaha adalah dunia gila dan penuh ketidakteraturan. Hanya orang yang bermental dan semangat baja yang survive dan berkembang. Tak peduli apa ijazah terakhir anda, tak peduli berapa IP (Indeks Prestasi) anda, sepanjang mampu memanfaatkan celah peluang maka anda akan keluar jadi pemenang.  Ingat, Keberhasilan saat ini bukan berarti akan menjamin kemenangan anda di sesi berikutnya. Dinamika dunia usaha yang begitu cepat juga menuntut anda untuk bisa menyesuaikan, kecuali kematian memang anda inginkan.  Sebagai wirausahawan, anda harus berani meyakini masa depan, menjaminkan yang tidak tetap (besarnya pendapatan/income) untuk menjawab yang tetap (biaya operasional, gaji karyawan yang pasti harus dikeluarkan). Disinilah letak ke-gila-an dunia usaha, sehingga hanya orang yang berkeyakinan dan berkeberanian tinggi yang layak masuk ke dalam gelanggang. Disamping itu, anda harus menyiapkan diri pada resiko terburuk tiap kali anda mengambil sebuah keputusan. Pilihan yang tersedia hanya ”berhasil” atau ”gagal”. Siap KAH???

F.  Melatih Ketajaman Instuisi Bisnis
Melatih ketajaman instuisi bisnis tak ubahnya belajar bahasa inggris atau bahasa arab dan bahasa lainnya. Carilah kosa kata apapun yang anda lihat, anda dengar  dan yang anda rasakan. Ketika itu anda lakukan berulang-ulang sepanjag hidup anda, maka saya yakin anda akan bisa menguasai sebuah bahasa.  Demikian juga halnya wirausaha, hadirkanlah pertanyaan ”bagaimana agar bisa jadi lebih bernilai dan produktif” atas apa saja yang anda lihat, apa yang anda dengar dan apa yang anda rasakan. Kebiasaan itu sangat efektif membentuk instuisi bisnis anda.

G. Memulai Wirausaha
Seperti kebanyakan kata para wirausahawan sukses, mulailah usaha dari kata ”WHO”, bukan ”WHAT”. Artinya, sebelum anda menentukan apa yang akan upayakan, rumuskan dulu “siapa” target anda. Setelah itu, baru anda menentukan ”apa” yang akan anda jual dan ”bagaimana” cara anda menawarkannya. Sekedar menyarankan, mulailah dari yang kecil dan sederhana, jangan terlalu muluk-muluk untuk segera besar.   

H. Berkawan Dengan Tuhan
Sebagai wirausahawan, anda pasti sering dihadapkan pada pilihan yang harus diambil. Terkadang tampak seperti emas, tetapi setelah didalami dan mengorbankan berbagai sumber daya, bisa saja ternyata sampah yang tidak bernilai apapun. Demikian pula sebaliknya, terkadang tampak sampah, tetapi setelah mendalami ternyata mengandung potensi emas yang tak ada habisnya. Atas dasar itulah, wirausahawan disarankan jangan terlalu yakin dengan rancang logika dan instuisi, sebab masih ada kekuasaan yang lebih tinggi yaitu, Tuhan. Libatkan Tuhan ketika anda akan mengambil keputusan.  Hal ini sebagai cara agar setiap langkah anda senantiasa dalam lingkar perlindungan dan hidayah (petunjuk) Tuhan.

I. Mahasiswa dan Peluang  Berwirausaha
Sebagaimana saya tegaskan diatas, wirausaha terbuka bagi siapapun yang berkemauan untuk menekuninya. Artinya, seorang mahasiswa bisa berwirausaha kapanpun dia mau memulainya, karena hal utama yang diperlukan hanyalah kemauan dan tekad kuat. Secara obyektif, dilihat dari realitas mayoritas mahasiwa ada 2 (dua) faktor pendukung yang memungkinkan mahasiwa memulai wirausaha, yaitu adanya waktu luang dan situasi finansial yang relatif stabil (mendapat pasokan rutin). Artinya, secara psikologis, mahasiswa tidak sedang dalam tekanan sebuah keadaan yang memaksa harus menghasilkan secara nyata , sehingga bisa menjalani proses belajar  berwirusaha dalam keadaan yang lebih enjoy. Artinya, proses belajar wirausaha yang dilakukan bisa difahami sebagai investasi sumber daya manusia yang akan efektif berproduksi pada saat sudah jadi sarjana. Pada proses investasi sumber daya manusia di bidang wirausaha ini, mahasiswa bisa belajar apa saja tentang usaha, baik lewat cara banyak bertanya, magang dengan pengusaha, melakukan sendiri secara kecil-kecilan dan lain sebagainya. Akumulasi pengalaman itu yang kemudian akan menjadi pengalaman yang luar biasa dan membentuk mental kewirausahaan.  

Hal ini sangat berbeda ketika anda melakukannya setelah jadi sarjana, dimana keadaan memaksa anda untuk melakukan sesuatu dan tak ada peluang melakukan trial n error (uji coba).  Akankah anda memulainya???

J. Tawaran Pembacaan Yang Menginspirasi dan Menjaga Semangat
Mengingat bahwa wirausaha adalah permasalahan ”semangat”, berikut ini saya memaparkan beberapa kalimat (yang saya peroleh dari berbagai sumber,teman,sahabat maupun diinspirasi oleh kadaan) yang mungkin bisa menyemangati anda ketika bergelut dengan dunia wirausaha;
1.      Setiap manusia terlahir dengan hak atas rezekinya.
2.      Tuhan maha penyayang dan pemberi rezeki bagi mereka yang sungguh-sungguh dalam berusaha.
3.      Sesuatu yang besar biasanya berawal dari yang kecil.
4.      Bangun dan jagalah niat anda menekuni wirausaha  sebagai media membangun kehidupan bagi banyak orang, maka otomatis kehidupan anda akan terbentuk lewat do’a dan saya dukung dari  mereka yang menggantungkan hidupnya pada usaha anda.
5.      Tak ada pelaut yang tangguh dari air yang tenang.
6.      Banyak orang punya ide tak punya uang, sebaliknya banyak orang punya uang tak punya ide.  Dengan demikian, sinergitas mutual akan membuat semua bahagia.
7.      Tuhan melipatgandakan hasil bagi mereka yang di inginkan NYA.
8.      Hari ini memang rugi, mungkin Tuhan akan memberi esok hari.
9.      Setiap niat baik pasti akan menemukan jalannya.
10.  Keberhasilan hanya dititipkan Tuhan pada niat tulus  dan bijak yang terpelihara.
11.  Strategi menumbuhkembangkan bisnis adalah ketika Laba difahami sebagai pesan Tuhan untuk berbagi.
12.  Semakin banyak orang yang bergantung  hidup kepadamu, semakin besar peluangmu mendapatkan rezeki.
13.  Salah satu bukti keberhasilan seorang wirausahawan dilihat dari seberapa banyak orang yang betah mengikutinya.
14.  Kegagalan hanya datang ketika anda menetapkan untuk tidak berusaha lagi.
15.  Kematian hanya datang bila Tuhan telah mencabut hak untuk bernafas.

K. Penutup
Demikian beberapa pemikiran sederhana saya tentang wirausaha. Semoga bisa menjadi stimulan bagi lahirnya semangat untuk menjeburkan diri dalam dunia wirausaha. Satu hal yang saya pesankan, setiap orang adalah unik dan mempunyai potensi, jadilah diri anda sendiri ketika memulai dan menekuni dunia usaha. Semoga kita semua senantiasa dikaruniai kesuksesan lewat kesungguhan kita berusaha, sehingga banyak orang  yang mendapat manfaat dari karya-karya kita. Amin. Selamat berkontemplasi dan memulai wirausaha.....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved