Ketika Lelah Menjadi Virus Keyakinan

Minggu, 27 November 20110 komentar


 Aku mencoba mengusir sepi dengan mencoba berkawan dengan dunia maya, ntah kenapa  tergerak membuka email. Ku dapatkan satu pesan dari orang yang kucintai yang sedang tega  membiarkanku di  sejuta Tanya.  Ku baca judul pesan dengan huruf capital “MAAFKAN AKU…”. Aku langsung klik untuk segera mendapati isinya : 


“Mas…Aku letih dalam menjalani penantian ini, banyak hal yang harus kugapai lebih dari sekedar urusan cinta.  Realitas hidupku yang memerlukan jawaban, masa depan yang harus ku bentuk sebagai wujud cinta kasih pada orang-orang yang telah membesarkanku , adalah hal yang harus kujalani berikutnya.  Aku tak bisa egois dengan membiarkan diri terbenam dalam urusan rasa atau kisah yang tak bisa di logika ini.  “Penantian” yang kau defenisikan dengan segenap alasannya tak mampu lagi kupandang sebagai sebuah harapan yang kan nyata. Ratusan lembar kalimatmu yang pernah kau utarakan dan masih terarsip dengan baik di memory ingatanku   tak mampu lagi membangkitkan semangatku untuk  tetap bertahan dan menunggu di garis nasib yang kau yakini. Kau tak perlu mempertanyakan rasa ini, meragukan cinta ini, atau berfikir sikap tegasku didorong oleh kehadiran lelaki lain dalam hati dan hidupku. Kaulah cinta sejatiku, setidaknya itulah fakta yang tak bisa ku pungkiri hingga detik ini, entah esok atau lusa.

Sekali lagi kutegaskan, dikesudahan sikapku ini bukan bermakna bahwa aku akan membuka diri pada lelaki lain. Tetapi aku akan fokus dalam pertarungan baru, aku ingin mencoba berdiri diatas olah fikir dan racikan energi  membentuk kebermaknaan bagi diriku, keluarga dan lingkunganku.

Sekilas kau mungkin akan mencoba mengatakan mendukung dan  membimbingku dalam meraih semua itu. Ku yakin kau akan menguatkanku dalam pencarian masa depan ini dengan semangat  cintamu.  Namun, aku tersakiti ketika hadirmu kian dalam bagi keseharianku.  Kau memang tak menyakitiku, tetapi cinta yang kian dalam ini selalu membangkitkan ego memilikimu menjadi tak terkendali.  Pada akhirnya, aku akan sampai pada tanya yang sama dengan jawaban yang sama pula..sebuah  ketidakpastian dan kesabaran dalam penantian.

Aku akan diam dan memilih untuk membisu atas segala bentuk sapaanmu dan berharap kamu lelah dengan semua itu dan kemudian  membiarkanku. Kefahaman dan ikhlas mu akan sangat membantuku  tuk bisa melupakanmu. Aku sengaja menyakiti persaanku  dengan cara ini.  Aku tak sedang membencimu hingga melakukan ini.  Aku hanya mencoba membangun rasa sayang pada diriku walau aku harus jatuh pada sakit diawalnya. Aku tahu hal ini tak mudah bagi mu. Panjang dan ragamnya kisah kita pasti memberatkanmu untuk melupakanku.  Aku pun tak pernah ragu akan kejujuranmu tentang rasa, rindu, cinta, keinginan, hasrat dan ragam  angan yang kau perdengarkan ditelingaku. Sampai detik ini, aku pun masih meyakininya. Keseharian sikapmu atasku  di waktu lalu memperkuat tbukti  akan cinta sejati dan ketulusanmu.

Namun, aku tak bisa menjalani ketidakpastian sebuah akhir.  Aku tak bisa mengandalkan ridho Tuhan tanpa ada upaya yang tampak nyata dan menggiringku pada logika pencapaian sebuah kebahagiaan. Ini bukan masalah keimanan, karena sesungguhnya aku sangat percaya Tuhan. Ini tentang kebelummampuanku bertahan karena hanya kepastian logika atas rasa ini yang bisa menentramkanku. Aku pun tak pernah mencoba mempersalahkan keyakinanmu walau aku tak bisa menjalaninya.  Aku pun tak pernah menganggap rasa ini salah atau menyesali mengapa kisah ini bermula. Ku akui, cinta itu telah mengantarkanku sampai hari ini, cinta itu telah menyemangatiku sampai detik ini. Bahkan kalimat2 penyemangatmu masih menjadi pembakar  energiku dalam menterjemahkan hidup ke dalam ke-berartian. Aku telah merasa menjadi wanita dewasa dan berkeberanian. Aku tak menafikkan semua  itu  akan senantiasa hidup dalam  segala bentuk tindakan yag kulakukan dihari-hari  berikutnya, bahkan mungkin sampai aku menghembuskan nafas terakhir. Aku hanya mencoba memilih jalan lain walau aku pun tak tahu akan akhir yang seperti apa dipenghujung nanti.  Aku sedang mencoba membenamkan  segala bentuk asa  memilikimu, walau tak bisa kuyakinkan bahwa cinta dan rasa ini  akan ikut terkubur bersama benaman itu. Di atas semua keberanianku memilih jalan ini...kediamanmu kuyakini akan sangat bisa membantu.

Pintaku, jangan sedikitpun mencoba menyapaku.  Aku tak sanggup lagi mendengar suaramu, karena itu akan mengembalikanku pada rasa yang sama, pada keindahan yang sama, pada ingin yang serupa dan pada sakit yang sama pula.  Dikesendirian yang terasa sunyi di tengah keramaian, aku akan mencoba berdiri tegak tanpa bayangmu, tanpa pesan yang selalu menemani setiap langkahku, tanpa ke khawatiran tiap kali aku   mendiamkanmu. Di keramaian ku kan mencoba membunuh rasa sepi, diketidakberdayaanku akan ku ramu potensi demi sebuah  eksistensi.

Satu hal yang jelas, aku tak ikhlas dengan cara yang kau pilih untuk memilikiku. Mungkin saja cara ini akan membenamkanku pada ragam kesibukan yang menyita energi dan konsentrasiku, hingga aku bisa melupakan ketidak ikhlasanku atas semua itu. Andai kemudian ini berlanjut dengan kematian ingin untuk memilikimu dan atau membuka jalan bagi lelaki lain dalam hidupku, maka ini kufahami sebagai ketetapan Tuhan yang terbaik.  Bisa jadi saat itu berlaku,  cintaku padamu tetap seperti saat ini, walau aku sedang bersanding hidup dengan lelaki lain dengan kadar cinta yang sesungguhnya pantas dipertanyakan. Aku tak tahu apakah akan menjadi semacam itu, aku akan biarkan semua mengalir sesuai keinginan waktu. Namun bila ini ternyata akan berujung denganmu, mungkin keputusan ini  adalah bentuk pesan Tuhan yang harus kujalankan untuk bisa sampai pada akhir yang indah seperti inginmu, seperti cita-cita dari keyakinan yang sering kau perdengarkan.

Diketidak ikhlasanku atas caramu, dikeberanianku mengambil langkah membiarkanmu, kumohonkan perkenanmu agar aku bisa menjalani sikap ini dalam keadaan tenang. Insya Allah, kau akan senatiasa hadir dihatiku. Kebaikan dan kebijakanmu dalam cinta bukan hanya telah mematikan inginku atas lelaki lain, tetapi telah membuktikan padaku arti sebuah ketulusan.

Andai air mata mengiringimu membaca lembaran  ini, sesungguhnya aku pun sama ketika jemariku menuliskan keputusan ini. Lam sayang....kumohonkan doa mu untuk perjalananku di berikutnya. Semoga ini bukan sebagai bentuk  emosional sesaat atau terdorong atas keadaan yang tak membahagiakanku. Atas nama cinta...semua ini harus ku lakukan...ku mohon biarkan aku....

Akhirnya kamu lelah menungguku. Berlaku sempurna tak pernah bisa kusuguhkan lagi sebagai musabab untuk membuatmu tetap bertahan. Kau telah berkesimpulan bahwa ku takkan mampu melakukan itu, atau kau berkeyakinan bahwa aku tak kan pernah bisa seperti yang kau inginkan. Keterbatasanku dan keyakinanku menujumu  tak bisa lagi saling menggantikan dan alasan kuat untuk tetap menghadirkan kisah ini di hari-harimu.

Pernah terbersit pertanyaan terjahat difikiranku, adakah seseorang yang hadir dan menggantikanku.  Ataukah ini memang benar hanya permasalahan ketidakyakinanmu atas akhir kisah panjang ini. Andai ini karena orang ketiga, sejujurnya ini terlalu sulit untuk kuterima. Kecemburuan ini membuatku gila. Mengapa tak kau jelaskan semuanya sebelum kamu mengambil langkah ini.  Ini terlalu menyayat perasaanku. Aku tak bisa hidup tanpa cintamu.  Dimana panji-panji kesetiaan yang kau dengungkan, dimana makna ke-makmum-an mu atas apa  yang telah ku dogmakan selama ini???.

Andai kebisuanmu hanya sebatas media uji bagi ketulusan rasa dan cintamu, andai kediamanmu adalah cara  untuk menyendiri untuk bisa berfikir jernih, andai ke kekebalan tembok tinggi yang membatasi hanya sebagai cara menguji kesetiaanku. Ataukah ini semua tentang rasa percaya diri dan pertegasan bahwa kamu tak membutuhkan aku lagi dalam segala hal. Cinta ini berawal dari izinmu, cinta ini bermuara ketika kamu memberi keyakinan padaku bahwa kamu bener-bener mencintai dan menerima aku apa adanya. Kebisuanmu yang tiba-tiba menyiksaku dalam sejuta tanya dan fikiran yang ingin segera kudapatkan jawabannya, ingin segera ku uji kebenarannya. Kamu tega membiarkanku dalam keadaan seperti ini. Kamu jahat…membiarkan perasaanku ngalir begitu saja dan kemudian kau hadirkan tembok kuat hingga ku tak bisa menembusnya. Andai ini akhir yang kamu rencanakan, mengapa ”kejahatan cinta” kau pilih kata terakhir yang harus ku kenang. Dititik kebijakan berfikirku tak kutemukan semangat untuk memberi ”maaf”.  Air mata ini menceritakan ketidakberdayaan atas rasa sedih tak tergambarkan. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved