Ketika Asa Tak Bermuara

Minggu, 27 November 20110 komentar


Kufahami lelahmu atas semua ini, pertarungan  antara  rasa, asa, logika menjerambabkanmu pada sebuah keadaan yg tak berpihak. Mungkin kamu menjadi tampak bodoh ketika harus meyakini semua ini. Logika tak menemukan telusur berjawab, keyakinan hanya sesuatu yang tak nyata dan lekat dengan ketidakpastian.


Walau hakekat cinta adalah sebuah “keyakinan”, tetapi hasrat duniawimu memaksa untuk mengintrepretasi pada kegamblangan makna, makna atas apa yang kamu fahami tentang “cinta”. Ini memang tak mudah, bersandarkan Tuhan menjadi tampak tak menyemangati dikeseharian yg tak lepas dari realitas social dan kecenderungan yang menggiringmu pada keinginan untuk menyesuaikan.  Disisi lain, ketika kamu berharap itu bersamaku, kamu terjebak pada tembok keterbatasan yang amat kamu benci tapi belum menemukan jalan kuat untuk merobohkannya.

Tak kuragukan cinta yang kau rasa, sebagaimana kamu pun tak meragukan rasaku yang senantiasa tumbuh,menyala dan senantiasa terjaga pada sisi yang tak terkotori oleh siapapun. Adalah sebuah kebanggaan yang kamu utarakan ketika ku jujur tentang posisimu dihatiku. Itu melambungkan dan mendorongmu melakukan  pembiaran rasa yg ada padamu.

Saat rasamu mendalam hingga tak menyisakan celah hati yang mungkin dimasuki siapapun selainku, kesempurnaan cinta membawamu pada satu pinta …satu pinta yang tak berjawab dari Sang Pencipta diwaktu yang kau kehendaki. Kau lantunkan satu inginmu pada Tuhan, emosimu berharap pada keberpihakan. Kesabaranmu tertiadakan oleh asamu  yg tak terkendali tentangku.

Kufaham lelahmu, tasbih yang kutawarkan sebagai jalan menuju kesempurnaan bukanlah sebuah jalan mudah. menjalaninya penuh terjal keraguan, pergulatan rasionalitas dan irrasionalitas, serta keraguan akan berakhir sia-sia. Memanglah mengabdi pada cinta butuh keikhlasan. Memberanikan diri menelusur Jalan Tuhan untuk kesempurnaan kisah membutuhkan mentalitas kuat dan melelahkan.

Kau telah pernah memilihnya, tetapi saat ini kelelahan sedang menggelayuti asamu. Rasionalitas telah menjadi virus bagi semangatmu untuk terus menelusur liku yang panjang, garis finish perjuangan yang tak kunjung tampak. Kefahamanmu tentang “rasa mendalam” ini tak cukup lagi untuk penguat seperti sering kamu lakukan disaat lelah. Air matamu menegaskan melupakanku juga bukan hal mudah, sesulit kamu menghentikan pertumbuhan rasamu atas ku. Pertautan hati kita menjadi dilema berkepanjangan. rentang ”keyakinan dan keinginan” selalu menggiring kita pada tanya tak berjawab, asa tak bermuara. Kebencian selalu hadir bersamaan cinta yang tak ikhlas untuk diakhiri.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved