Dialog Bisnis :KETIKA TERTERMUKAN OLEH WAKTU

Rabu, 16 November 20110 komentar


Dialog Bisnis :
"KETIKA TERTERMUKAN OLEH WAKTU"

Pengantar
Suatu ketika, istri mukzi di curhat-in  oleh keponakannya (tini) yang sedang mencoba menggeluti dunia bisnis. Dalam ceritanya, sang keponakan sedang proses penjajagan kerjasama dengan seorang pebisnis yang tak lain juga adalah partner binaan sang suami. Kemudian istri Mukzi menggiring sang keponakan untuk berkomunikasi pada Mukzi. Sebagai pengantar, istri mukzi menyampaikan tentang proses komunikasi yang baru saja selesai dengan sang keponakan.

Keesokan paginya, sepulang mengantar anak2nya sekolah, mukzi dan istrinya mampir mencari sarapan pagi di sebuah angkringan. Ketika mau beranjak pulang setelah selesai sarapan, tiba2 mukzi melihat folan  bersama keluarganya yang juga ingin sarapan ditempat yang sama. Setelah bersapa kangen, akhirnya mukzi dan istrinya berpamitan lebih dulu. 

Diperjalanan pulang,  sang istri mengatakan pada Mukzi bahwa bertemu folan mengingatkannya pada curhatan Tini kemarin pagi . Sesampai di rumah, kemudian Mukzi  berinisiatif  menyapa Tini. 

Proses Dialog
Mukzi  : Assalamu alaikum..nih tanpa sengaja Om (sebutan tini bila menyapa Mukzi)
              ketemu folan  di warung waktu mencari sarapan pagi....
Tini     : Alaikum salam...maaf Om BB  ku nge-hang dari kmrn..bs terima nggak  bs di
buka
Tini     : Iya Om kmrn sempet ngobrol sm Mas Folan
mukzi  : Oke...siip..para murid telah tertemukan oleh waktu dan
perjalanan..нHн̇έέ°°◦◦нHн̇έέ◦◦°°◦◦
Tini       : Iya kmrn sempet ngobrol jg sm Tante krn ada hal yg membingungkan n perlu
  masukan
mukzi  : Binggung itu tak bermakna ”buntu” kan??,,
Tini     : Iya Om..
Tini     : Biasa masih awam jd butuh banyak pertimbangan dari orang tua
mukzi  : Pendefenisian kata"bisnis" selalu mempengaruhi semua tindakan dalam bisnis..
Tini     : Nah tu, belajar mendefinisikan itu yg kadang harus mencari orang2 yg tepat
untuk membantu
mukzi  : Oleh karena itu, sekedar bersaran...defenisikanlah kata "bisnis" dalam bahasa yg
bernilai motivasi dan dalam tindakan yg berpotensi mendatangkan  manfaat
bagi orang banyak.
Tini     : Iya Om insyaAllah..
mukzi  : So..masih bingungkah??..
Tini     : dari kemarin kami sedang berfikir untuk ambil kputusan Om tp msh bth
pendapat Om untuk masukan dan pandangan
Tini     : Ini masalah alamat yg Mas Folan minta kita cantumin di comp profile
perusahaan beliau
Tini       : Ttg masalah yg mungkin akan timbul dikemudian hari
mukzi    : Apa ruginya kalau demikian polanya?.Tinggal defenisikan kedalam klausul
  perjanjian yg mendatangkan keamanan bagi kedua belah pihak.
Tini       : Krn mmg pernah kita ngalamin hal g enak Om
Tini       : Bentuknya seperti apa Om?
mukzi    : Buatkan detail perjanjian yg menjawab semua kekhawatiran2 kedua belah
  pihak..
Tini       : Iya yg membingungkan masalahnya untuk pengerjaan dijakarta Mas Folan pake
  rekanan nya juga,jd g turun tangan langsung, kalo ada keterlambatan
  pengerjaan  atau complain dr klien, kita khawatir nanti akan ditujukan ke
  alamat yg tercantum Om
Tini       : Rencana hari ahad kmrn Mas folan mau k jakarta bt bicarain ttg sistemnya krn
  kita blm tau sistemnya beliau spt apa
mukzi    : Hmmm...itu hanya pengaturan tanggungjawab dan pola kontrol, sehingga
  terbentuk visi yg sama dalam menghasilkan karya kolektiff dan memuaskan
  pelanggan.
Tini       : Tp blm ada kabar lagi kpn Mas Folan mau k jkt
Tini       : Kl mas Folan kita percaya tp kl kontraktor rekanannya kan kita blm kenal
Tini       : Setelah dijelaskan k kluarga,mereka agak khawatir n kurang berkenan
  alamatnya dicantumkan di comp profile nya Mas Folan
mukzi   : Hmmm..om faham kekhawatiran kalian..tetapi bisnis selalu mengajarkan bahwa
ketenangan itu sering berada pada ketidaktenangan itu sendiri, kepastian  
berada diketidakpastian itu sendiri.
mukzi   : Masalah temennya mas folan yg akan garap, saya bisa minta garansi dari mas
folan.
mukzi   : so..segala resiko yg muncul bisa diminimalisir sejak dini.
Tini       : Garansinya dalam bentuk apa Om?
mukzi  : (1) buat perjanjian antar 2 pihak, yaitu pihak tini dan mas folan. Sehingga
temennya itu masuk di pihak  mas folan; (2)  semua kewenangan di
distribusikan dalam proporsionalitas peran; (3) hak dan kewajiban masing2
pihak didefenisikan sejelas2nya.
Tini     : Oke Om….Tini faham..
Tini     : ini menjelaskan kegundahan kita
Tini     : Kmrn itu sempet ada kepikiran bt bikin draft perjanjian tp takutnya dianggap
kita terlalu berlebihan..tp kita g mau ambil resiko gt
Tini     : Lagi pula isi draft nya blm ada bayangan spt apa
Tini     : Makasih y Om..
mukzi  : Oke deh..siipp..selamat berjuang....niat baik pasti ketemu jalannya walau
berliku...aminn..
Tini     :
​​آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّن
Tini     : Iya Om ...tini percaya hal itu..sudah bbrp kali selalu bersyukur tiap
membuktikan hal itu
 mukzi : Siipp..salam untuk keluarga...
Tini     : Insya Allah disampaikan Om

Penutup
Setelah dialog selesai, terbersit untuk menyajikan detail komunikasi tersebut dalam blog, siapa tahu bisa menginspirasi para pebisnis dalam mem-pola kemitraan mutualisme. Fakta lapangan banyak pebisnis mengalami kesulitan akut dan terhambat karena tidak membuka diri pada pola kemitraan dengan pebisnis lainnya. Namun demikian, banyak terjadi "pecah kongsi" terjadi yang inti masalahnya adalah pada sesi "bagi-bagi", baik bagi peran maupun bagi penghasilan. 

Urusan "bagi-bagi" menjadi sulit karena berbagi bukan hanya persoalan "berbagi yang adil", tetapi juga tentang "menerima bagian dengan ikhlas"....KAH???
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved