Andai Pa2 lebih Dulu Menghadap Tuhan

Senin, 24 Oktober 20110 komentar

kiriman seorang sahabat tentang :
pembicaraan singkat dari sepasang suami istri....

Ma…sepertinya pertumbuhan akan anak kita melebihi usianya. Keterbukaan kita atas segala sesuatu tentang kenyataan hidup sepertinya telah ikut membentuk pertumbuhan akal mereka. Ini layak di syukuri dan sekaligus bahan yang baik untuk kita renungkan bersama.

Suatu ketika di saat menjemput salah satu anak kita dari pelajaran tambahan di sekolah, kutanyakan apakah dia bahagia punya orang tua seperti kita. Dia bilang ia sangat bahagia menjadi anak kita dan kemudian langsung menghadiahi pa2 ciuman sayang. Entah apa yang ada di fikirannya ketika tanya itu mengemuka. Entah untuk alasan apa dia menciumku...tapi aku bangga peristiwa di sore itu, karena pa2 mendapat jawaban jujur dari seorang anak yang masih kecil dan sedang tumbuh menjadi seorang lelaki. Adakah dia juga mencintai kesederhanaan hidup yang bisa kita sajikan selama ini dalam hidupnya ???.

Disaat yang lain, ma2 terheran2 ketika salah satu anak kita menyatakan sedang cemburu berat pada temennya. Adakah anak sekecil itu telah mengerti makna ”cemburu”. Ataukah itu hanya pengaruh televisi yang selalu menyajikan serial cinta ???. Ataukah ini mengabarkan bahwa anak kita memiliki imaginasi yang luar biasa. Adakah ini awal dia mau merubah warna dunia???.

Malam tadi, anak kita yang belum bersekolah mengurungkan cita-citanya menjadi seorang pembalap, setelah tahu simoncelli mengalami kecelakaan fatal dan berakibat kematian. Celoteh polos itu di sampaikan saat dia beranjak dari depan televisi karena mau tidur dan mencari ma2 untuk sebuah kebutuhan yang tak pernah bisa dia akhiri sampai detik ini..netek.

Terimakasih Tuhan atas amanah Mu berupa anak2 yang bisa menenangkan bathin kami, membuat kami selalu merasa bahagia. Anak2 itu telah menghapus semua letihku tiap kali mereka berlarian menyambut kepulanganku dari medan sulit yang bernama perjuangan hidup.

Terbersit tanya...apakah kebanggaan mereka ber-ayah lelaki sepertiku akan tetep sama di 10 atau 20 tahun mendatang???. Tuhan, beriku kesempatan untuk mendapatkan jawaban sama kapanpun kutanyakan hal itu pada mereka.

Seketika ku teringat bapak dan ibu tercinta di kampung halaman. Apakah mereka sehat..??. Ku sapa mereka lewan telepon, Alhamdulillah mereka dalam keadaan sehat wal’afiat. Di ujung pembicaraan, ingin ku tanyakan apakah mereka bangga punya anak seperti ku???. Adakah kebahagiaan mereka memiliki anak sepertiku seperti bangganya aku memiliki orang tua seperti mereka ???. Tanya itu ku urungkan, karena ku merasa belum bisa berbuat banyak hal yang membanggakan dan membahagiakan mereka. Kini mereka mulai tampak tua dan garis-garis tegas di wajah mereka menggambarkan betapa kerasnya hidup yang telah mereka lalui. Tuhan, beri aku kesempatan luas untuk membahagiakan mereka walau pasti aku tak kan pernah bisa membayar segala kebaikan dan kasih sayang yang telah mereka berikan padaku. Aku ingin berbakti pada mereka...ku ingin melihat senyum dan bahagia memiliki anak sepertiku...

Ma....ku sapa sang istri tercinta di suatu pagi sesudah mengantarkan anak-anak bersekolah. Sebagai seorang ayah, pa2 mungkin tak bisa menjanjikan harta yang banyak, tetapi pa2 akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan karya yang banyak, karya yang mendatangkan makna bagi banyak orang, karya yang bisa mendatangkan kebaikan pada banyak manusia, karya yang menciptakan kesempatan hidup bagi banyak manusia dan karya yang selalu menginspirasi banyak orang untuk memikirkan orang lain. Pa2 mohon restu ma2 untuk mencapai semua itu. Pa2 ingin banyak orang ikhlas berdoa untuk keluarga kita, walau untuk semua itu memerlukan banyak pengorbanan dan keprihatinan yang luar biasa. Pa2 tahu itu tak mudah, tetapi di ragam kesulitan itu pula pa2 yakini letak kebaikan dan kemuliaan berada.

Andai suatu ketika pa2 lebih dulu menghadap Tuhan...andai sebagian dari karya-karya itu benar-benar menjadi nyata dan tetap ada serta mendatangkan manfaat bagi banyak orang, ajaklah anak-anak kita melihat dan meresapi karya-karya itu. Ceritakanlah apa yang pa2 katakan di pagi ini, agar mereka bijak memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan.  Andai ternyata ma2 yang bertemu dengan Tuhan lebih dulu, maka pa2 akan berupaya mewujudkan sebuah ”rumah singgah” yang ma2 idam2kan untuk tempat berlindung bagi mereka yang belum punya tempat tinggal.

Ma2....kita tak pernah tahu apa yang terjadi hari esok. Tetapi pa2 sangat yakin niat baik pasti akan ketemu jalannya. Tuhan maha pengasih dan penyayang. Sampai detik ini, kita dan anak2 masih diberik kesempatan hidup dan di beri kesehatan. Itulah fakta yang tak terbantahkan dan wajib selalu kita syukuri.

Semoga menginspirasi
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved