JANGAN BERMIMPI JADI WIRAUSAHAWAN...JIKA...

Jumat, 16 September 20110 komentar

disampaikan pada DIKLAT KEWIRAUSAHAAN yang dilaksanakan oleh DISPERINDAGKOP KAB.BANYUMAS, 15 September 2011

A.Pembuka
Seringkali “ keinginan memiliki hal serupa” muncul dalam benak kita ketika melihat sebuah usaha yang memiliki performance-nya bagus dan ramai pengunjung, Seketika logika tergiring berfikir betapa bahagianya sang empunya dan betapa besar dan banyak uang yang akan terkumpul di pundi-pundi nya. Disisi lain, saat bersamaan, kita sering luput bahwa apa yang telah tersaji, sesungguhnya tidak terbentuk seketika, tetapi memulai proses panjang dan penuh liku. Bahkan tak jarang, keberhasilan seorang pengusaha di raih setelah mengalami kegagalan berkali-kali sebelumnya.


B.Menelusur Muasal Kelahiran Sebuah Usaha

lahirnya sebuah usaha berawal dari “keberanian mimpi” yang diikuti dengan keberanian menggambil keputusan untuk “memulai” dengan segenap resiko yang mungkin terjadi di berikutnya. Bayangan indah keberhasilan dan kondisi terburuk dari sebuah akhir perjalanan serta kesiapan ragam langkah dalam mengantisipasinya, menjadi 3 (tiga) hal yang merupakan satu kesatuan dan selalu menyertai sebuah keputusan dalam memulai. Dengan demikian, kesiapan mental tidak hanya terfokus pada kondisi yang terbaik, tetapi juga pada kemungkinan terburuk sekalipun. Perbedaan tingkat “keberanian dan mental” ini lah yang selanjutnya berpengaruh pada sebuah usaha, baik dari sisi kualitas dan kuantitas prosesnya maupun dari sisi hasil akhirnya.

Dari alinea diatas dapat disimpulkan bahwa membangun sebuah usaha sesungguhnya adalah persoalan “keberanian bermimpi” dan “keberanian mengambil keputusan”. Apakah anda memilikinya????.

Jika tidak, kuburlah keinginan untuk menjadi pemilik sebuah usaha/bisnis.


C.Perjalanan Sebuah Usaha
“Tak ada yang pasti kecuali perubahan itu sendiri”. Kalimat ini sangat populer di kalangan pe-bisnis. Kalimat ini menegaskan bahwa dunia usaha penuh dengan ketidakpastian dan selalu berubah-ubah. Kalimat ini juga memberi pesan, kalau anda menggeluti dunia usaha harus memiliki kemampuan untuk menerima perubahan dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Jika tidak, maka anda sedang menggali kuburan sendiri. Mengapa demikian???

Bertahan atau tidaknya sebuah usaha sesungguhnya tidak terletak pada anda tetapi ada di tangan konsumen. Seberapa besar dan bagusnya pun layanan yang anda sajikan, ketika tidak mendapat respon positif dari konsumen, maka dipastikan tidak akan ada pemasukan yang berarti anda harus menanggung sendiri segala beban usaha yang anda geluti (seperti : biaya karyawan, biaya perawatan dan lain sebagainya).

Oleh karena itu, kemampuan anda membaca keinginan dan kebutuhan konsumen serta meramunya menjadi pola layanan yang memuaskan dan mengesankan mereka, menjadi kunci utama dalam menjalankan usaha. Ingat, kalau seorang pebisnis ingin bahagia (keberhasilan), hal pertama yang harus dilakukan adalah membahagiakan orang lain (konsumen). Artinya, sumber kebahagiaan anda terletak di tangan konsumen, bukan ditangan anda sendiri. Dengan kata lain, bahagiakanlah orang lain untuk kemudian membahagiakan diri sendiri. Untuk menjadi pribadi yang demikian bukan perkara mudah, sebab memerlukan keikhlasan dan ketulusan yang luar biasa. Siapkah Anda ??? .
Jika tidak, saya menyarankan jangan pernah bermimpi menjadi pengusaha/wirausahawan.


D.Akhir Sebuah Usaha

Akhir dari sebuah perjalanan usaha selalu menawarkan 2 (dua) hal : win or loose alias menang atau kalah alias untung atau rugi. Ketika tingkat efektifitas pola layanan yang anda sajikan mendatangkan pemasukan melebihi biaya-biaya yang mengikutinya, maka laba akan anda raih. Namun bila sebaliknya, maka anda tak terhindar dari kerugian. Apabila kerugian ini terus menerus, maka pada titik tertentu usaha itu akan kehilangan kemampuan untuk bertahan dan bangkrut. Tentu anda dan siapapun pengusaha tidak menginginkan hal itu terjadi.

Apapun akhir dari sebuah usaha anda, sesungguhnya indikator obyektif seberapa jauh anda mampu mengenali konsumen dan berkemampuan memberikan layanan yang memuaskan. Mengingat selera, harapan dan referensi konsumen begitu dinamis dan terus berkembang, maka semua pebisnis di tuntut untuk terus melakukan penyesuaian-penyesuain hingga konsumen/pelanggan selalu berada pada titik kepuasan yang terjaga. Disisi lain, saat pebisnis melakukan penyesuaian-penyesuian yang sering tak bisa terhindar dari pembiayaan, saat yang sama pebisnis harus berfikir cerdas dan cermat bahwa langkah2 penyesuaian itu mampu menjaga grafik pendapatan.

Perjalanan bisnis memang sebuah proses yang kompleks, namun keterjagaan semangat dan ketangguhan mental atas segala ragam situasi yang selalu berubah, akan menjadikan seorang pengusaha bisa bertahan dan berkembang. Pola fikir positif dan menyemangati harus selalu hadir dalam setiap tahapan bisnis. Pebisnis harus punya keyakinan tinggi akan ketercapaian sebuah mimpi. Langkah-langkah yang diambil harus dilakukan dengan penuh percaya diri. Seperti kata pepatah, tak ada pelaut yang tangguh dari air yang tenang. Pepatah ini sangat tepat dalam mengarungi samudera bisnis yang penuh dengan karang yang cadas dan tak jarang menyebabkan luka. Adakah hal itu melekat pada pribadi anda ???.

Jika Tidak….jangan ber-asa mimpi kan menjadi sebuah realita yang membahagiakan.


E. Penghujung
Sub bab-sub bab diatas sesunggguhnya hanya-lah sebuah tinjauan logika singkat dan mungkin hanya mewakili 0,1% dari faktor yang mempengaruhi sebuah bisnis. Sementara 99,9% adalah persoalan keberpihakan Tuhan.

Hal ini tak bukan bermaksud merendahkan faktor logika, tetapi realitas menunjukkan bahwa kekuasaan Tuhan lah yang menyebabkan segala sesuatunya terjadi di dunia ini, termasuk keterwujudan mimpi anda. Tuhan tidak hanya masuk pada ranah keberpihakan dalam arti menyetujui, tetapi Tuhan juga memasuki ranah menjaga stabilitas, menggerakkan hati pelanggan untuk datang dan tetap setia dan bahkan melipatgandakan hasilnya. Bukan hanya itu saja, Tuhan pun bisa memasuki ranah “menghancurkan segala sesuatunya dalam seketika”…ini yang paling mengerikan.

Namun demikian, keberpihakan Tuhan pun tak kan datang begitu saja tanpa musabab, sebab hal itu berpotensi menyebabkan banyak orang bertanya tentang keadilan Tuhan. Menurut pendapat saya (sebagai orang awam dan masih belajar ber-Tuhan) , Keberpihakan Tuhan adalah akibat positif dari kebijaksanaan mimpi dan kesungguhan (keseirusan, keikhlasan dan kejujuran) kita dalam menggapainya di fase pencapaian. Sebab mimpi yang bijaksana akan menggiring pada tindakan yang bijaksana pula. Selanjutnya akumulasi kedua hal itu menjadi faktor yang layak bagi Tuhan untuk menghadirkan sebuah keberpihakan.

Pada Akhirnya, mungkin tidak berlebihan kalau kemudian berkesimpulan bahwa dunia usaha/bisnis/wirausaha adalah merupakan perpaduan 0,1% dan 99,9% dengan catatan 99,9% tak kan pernah ada ketika 0,1% tak pernah hadir. Oleh karena itu, ketika kita mau menekuni usaha (apapun bentuknya), ada baiknya kita sama-sama belajar melakukan perpaduan 0,1% dan 99,9%.

Satu hal yang menjadi catatan penting, hal yang paling memalukan adalah ketika Tuhan tertawa diatas do’a-doa kita disebabkan oleh tidak sesuainya materi doa dengan usaha yang kita lakukan.

Selamat berjuang dan tetap semangat.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved