Membangun Masa Depan Koperasi Indonesia Melalui Sinkronisasi Energi Edukasi & Energi Implementasi

Kamis, 21 Juli 20110 komentar

Dibacakan pada pembukaan Bedah Buku “Wajah Koperasi Indonesia”, Sabtu, 23 Juli 2011 di Lt. 2 Kafe Libero Pabuaran – Purwokerto

Realitas Menggelikan Nan Menginspirasi

Telusur ilmiah membenarkan bahwa koperasi berpotensi menjadi soko guru ekonomi sebagaimana di cita-citakan Bung Hatta. Peringatan koperasi yang rutin diagendakan negara setiap tahunnya merupakan penguat bahwa koperasi layak diperjuangkan.
Namun demikian, nampaknya realitas berkata beda. Koperasi di negeri ini, belum mampu memainkan peranan penting dalam bidang ekonomi. Yang ada adalah semangat karitas dan menempatkan negara sebagai gantungan masa depan. Banyak koperasi yang larut dalam berbagai fasilitas negara (yang seharusnya hanya stimulan) dan kehilangan spirit kemandiriannya. Tak bijak mencari siapa yang salah, tetapi lebih produktif menelusur apa yang keliru dari kondisi itu.

Kesimpulan sementara dari pengamatan panjang selama 18 tahun, core problem kebelum-optimalan koperasi di negeri ini bermula dari deviasi (berjaraknya) antara konsepsi dan praktek. Banyak koperasi terjebak dengan cara-cara non-koperasi dan meninggalkan ”jati diri” nya. Banyak koperasi tak melihat lagi ”jati diri” sebagai konsep yang mengandung nilai-nilai keunggulan yang tak tertandingi oleh badan usaha lainnya. Akibatnya, banyak yang terjebak pada pola-pola non-koperasi demi perolehan SHU semata. Ironisnya, tak banyak yang mampu survive dan berakhir dengan sebentuk papan nama.
Di tengah kebelum-mampuan koperasi memainkan peranan penting, akhir-akhir ini banyak pelaku non-koperasi justru giat meniru sebagian konsepsi koperasi demi kepentingan pemasaran dan juga pengembangan perusahaan. Contohnya, seperti pembangunan komunitas pelanggan, tanggungjawab sosial perusahaan dan sebagainya. Ini situasi menggelikan dan seharusnya bisa memacu adrenalin segenap aktivis koperasi untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih serius dan berdampak nyata.
Sinkronisasi sebagai ”Paket Jawaban”
Spirit kebaikan dan kebajikan yang termaktub dalam koperasi merupakan alasan yang cukup untuk terus mengampanyekannya kepada segenap lapisan masyarakat. Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya integratif dan konstruktif bagi pembumian koperasi. Upaya itu menurut hemat saya terangkum dalam dua pendekatan. Pendekatan edukasi sebagai bentuk penyebarluasan kebenaran nilai-nilai koperasi harus pula diikuti pendekatan praktika.

a.Optimalisasi Energi Edukasi
Konsep koperasi sesungguhnya tidaklah bebas nilai. Artinya, koperasi dalam kesehariannya harus tunduk dan berkomitmen tinggi pada nilai dan prinsip-prinsip yang merupakan ciri dan sekaligus pembeda dengan yang lain. Oleh karena itu, sesungguhnya perbedaan dalam pendidikan koperasi hanya terletak pada cara/metode penyampaiannya saja.
Dengan demikian, konsepsi dasarnya sudah seharusnya tidak menjadi bahan perdebatan lagi . Spirit yang dibangun selayaknya menitikberatkan pada perumusan cara-cara yang lebih efisien dan efektif model pendidikan koperasi. Hal ini menjadi sangat penting, agar setiap orang berkoperasi bermula dari dasar yang benar.
Terlepas dari variasi metode, sebagai bagian dari kreativitas dan fleksibilitas cara, model pendidikan koperasi minimal dapat menginspirasi hal-hal sebagai berikut:
1.Terbentuknya pemahaman yang benar tentang koperasi yang meliputi roh perjuangan, spirit yang diusung, nilai-nilai dan prinsip-prinsipnya.
2.Pemahaman segala nilai kebaikan dan kebajikan yang melekat pada koperasi mampu membentuk keikhlasan untuk mengambil tanggungjawab dalam penyebarluasan kepada masyarakat lainnya sehingga terjadi akselerasi.
3.Di samping itu, pemahaman tersebut tidak diterima sebatas pengetahuan, tetapi tergerak untuk mengoperasionalisasikannya dalam ranah praktika.
Adanya komitmen tinggi terhadap ketercapaian hasil minimal dari proses pendidikan koperasi diharapkan memacu keterwujudan koperasi-koperasi yang tangguh dan berdaya manfaat luas.

b.Optimalisasi Energi Implementasi
Efektivitas pembangunan koperasi menuntut adanya keseimbangan antara perkataan (orasi dalam bentuk pendidikan yang berkelanjutan) dan perbuatan (implementasi yang incremental). Terbentuknya kolektivitas kesadaran (sebagai hasil dari proses pendidikan) diharapkan mampu mendorong lahirnya energi implementasi bagi segenap pegiat koperasi.
Lahirnya ”karya nyata dengan segala manfaat yang mengikutinya” adalah fakta yang berfungsi tidak hanya sebagai sebuah ”bukti tak terbantah” tetapi juga bisa berfungsi sebagai ”alat edukasi dan motivasi efektif ” bagi orang lain untuk mentauladani dan melahirkan karya serupa.
Untuk itu, sebagai bagian dari penyebarluasan dan pembumian koperasi, segenap aktivis koperasi diharapkan mau dan mampu mengambil tanggungjawab dan memposisikan diri sebagai garda depan dalam membuktikan kebenaran koperasi dalam tingkatan yang nyata. Ini sebuah tantangan bagi mereka yang memiliki energi untuk melakukan sesuatu yang besar.

Pemuda dan Masa Depan Perwajahan Koperasi Indonesia

Pemuda adalah generasi pelaku perubahan. Hal ini menjadi pembenar bahwa masa depan koperasi juga ada di tangannya. Oleh karena itu, kualitas pemuda menjadi penting untuk di-review dan sekaligus disusun formula konstruktif , khususnya dalam pembentukan spirit dan kapasitas dalam berkoperasi.

Namun demikian, realitas mayoritas koperasi yang masih jauh dari harapan. Di satu sisi merupakan peluang yang luar biasa dan di sisi lain dapat menjadi faktor yang menyurutkan semangat pemuda. Hal ini bisa difahami mengingat bahwa inisiatif mengambil tanggungjawab mengembangkan koperasi dalam ranah operasional memang bukanlah perkara mudah. Ruwetnya peta lapangan dan banyaknya hambatan yang tak terprediksi jauh sebelum memulai, relatif belum bisa menjadikan koperasi sebagai sebuah pilihan untuk berkarya dan juga hidup di dalamnya.


Operasionalisasi koperasi memang tidak semudah usaha-usaha non-koperasi dan energi yang dibutuhkan jauh lebih banyak. Operasionalisasi koperasi tidak hanya terbatas pada permasalahan ekonomi yang berkutat tentang masalah efisiensi, efektivitas dan produktivitas. Tetapi juga meliputi bagaimana mengedukasikan spirit dan nilai-nilai koperasi serta mengimplementasikannya dalam iklim demokrasi yang harus senantiasa terjaga.
Potensi konflik kebathinan yang berdampak pada kenyamanan hati kerapkali tak mungkin dihindari. Sayangnya, situasi ini sering tidak difahami sebagai tantangan, sehingga menekuni non-koperasi lebih dipilih untuk menjawab masa depan pribadi.

Akibat dari semua itu adalah pemahaman di kalangan pemuda koperasi, akhirnya sebatas pemahaman pribadi saja. Di sisi lain, praktika koperasi di masyarakat tetap pada permasalahan utama yaitu; mengembangkan koperasi dengan semangat non-koperasi. Adakah ini karena pemuda koperasi egois? Ataukah pemuda koperasi belajar hanya untuk tingkat memahami saja? Ataukah keraguan akan masa depan dirinya di koperasi menjadi penghambat untuk terjun dan included dalam kehidupan koperasi?

Sebuah Tantangan
Hal paling menarik saat ini adalah menerjemahkan kebenaran telusur ilmiah konsepsi koperasi menjadi kebenaran empiris. Walau itu tak mudah, tetapi di ketidakmudahan itulah letak perjuangan sesungguhnya. Contoh-contoh sukses koperasi di beberapa tempat di negeri ini maupun negeri lain, janganlah hanya dijadikan sebagai bahan cerita saja, tetapi juga sebagai pemicu semangat untuk mereplikasi dan atau menghasilkan karya yang lebih baik.

Adalah benar masa depan perwajahan koperasi di tangan pemuda. Tetapi hal yang paling menarik adalah bagaimana membentuk pemuda yang layak membentuk wajah koperasi dan menjadi bagian di dalamnya. Akan KAH?
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved