MENGGODA PARADIGMA PENGUSAHA

Selasa, 23 November 20100 komentar

REFLEKSI DAN RASIONALITAS BER-ASA
(Stimulan Pemilihan Cara Membangun Masa Depan Perusahaan)


A.  2 (dua) Golongan Memahami Kata “Pengangguran”

Muasal “pengangguran” sesungguhnya disebabkan oleh 2 (dua) hal, yaitu terbatasnya lapangan kerja dan atau terbatasnya kapasitas pencari kerja.

Bagi mereka yang pasrah dan cenderung menyerahkan diri pada nasib, kecenderungan faktor penyebab pengangguran yang paling diyakini adalah "terbatasnya" lapangan kerja. Keyakinan ini  diperkuat oleh tingginya angka pelamar kerja untuk setiap lowongan yang terbatas. Faktor pengaruh koneksitas yang manjur dan sering terjadi didepan mata, membuat mereka semakin terdorong untuk berkesimpulan  “melamar pekerjaan” identik  dengan “nasib-nasiban”.

Bagi mereka yang sedikit bijak, memiliki kemauan kuat untuk auto koreksi dan memiliki spirit of fighting yang kuat, pengangguran difahami sebagai akibat rasional dari keterbatasan kapasitas diri dan kebelum mampuan menciptakan gagasan2 rasional yang membuat dirinya layak untuk berkerja di sebuah institusi (swasta maupun negara). Pemahaman ini akan menyemangati dia untuk terus meningkatkan kapasitas diri  dengan berbagai cara di tengah keterbatasan yang ada.

Menilik fakta lapangan, jumlah orang yang memahami pengangguran akibat sempitnya lapangan kerja hampir dipastikan lebih mendominasi. Sementara itu, yang memahami pengangguran karena keterbatasan kapasitas diri hanya sedikit sekali. Biasanya dari kelompok yang sedikit ini lah lahir para profesional sukses, pemimpin besar dan atau pengusaha sukses. Kapasitas diri yang ada pada mereka selanjutnya mampu membentuk percaya diri, mentalitas tangguh dan pengaruh yang luas. Bahkan kalau mau jujur, pada sedikit orang ini lah awal mula terciptanya dinamika dan perubahan-perubahan yang luar biasa dalam dinamika kehidupan yang luas.


B.  Perusahaan dan Pengentasan Pengangguran

Hukum ekonomi berlaku dimana ketika penawaran lebih banyak dari pada permintaan, maka dipastikan harga akan murah. Ketika perusahaan total berdiri diatas hukum ekonomi ini, maka fakta tingginya angka pengangguran bisa menggoda fikiran untuk memanfaatkannya sebagai ”peluang”. Artinya, potensi untuk menciptakan efisiensi dimobilisasi dengan memanfaatkan posisi pencari kerja yang lemah, dimana tekanan hidup memaksa mereka untuk mengambil sikap ”nrimo” ketimbang kematian menjelang. 

Realitas ini menggejala di tengah patron hedonisme merasuki para kelompok pemodal. Namun demikian, ada satu hal yang terlupa bahwa pada titik tekanan tertentu akan menciptakan keberanian yang tak rasional.  Aksi negatif menjadi ekspresi ke frustasi-an walau faktanya sikap-sikap itu tak merubah nasib mereka, karena posisi si pemberi kerja lebih dominan dan tak akan pernah tertandingi oleh sang pekerja. Kata ”penyesalan” sesungguhnya identik dengan ”ketidakberdayaan” atau ”kesadaran” yang dipaksakan keadaan. Pada perusahaan semacam ini, kendali pemilik perusahaan relatif dominan. Pekerja tak lebih adalah pelayan keinginan/pelaksanan perintah  sang owner. 

Mungkin akan menjadi beda, ketika owner memaknai mentalitas kewirausahaan dan trust/modal yang melekat pada dirinya  sebagai sebuah ”titipan Tuhan” yang  harus; (i) di intrepretasikan secara bijak hingga mendapat kemuliaan di pandangan Sang Pencipta dan ; (ii) ditumbuhkembangkan agar lebih banyak orang  yang akan mendapat manfaat. 

Dalam hal ini, hampir bisa dibayangkan kultur perusahaan yang akan terbentuk adalah kultur yang saling asah, asih dan asuh.  Loyalitas karyawan akan menjadi reaksi positif yang tumbuh alamiah bersamaan dengan kearifan langkah sang owner. Konsistensi dan kontinuitas akan lahir dari hati dan kepura2-an akan mati dengan sendirinya.


C.  Spirit Mencipta Makna & Strategi Pemupukan Laba

Sekilas tampak bahwa dua kalimat diatas tampak aneh. Tak akan ditemukan pemaknaan yang tepat ketika memahami ini  dari sudut logika semata. Kebijakan berfikir dan spritualitas yang kuat memegang peranan penting, karena keikhlasan mengabdi pada kebaikan diyakini sebagai sumber efektif kehadiran kebaikan-kebaikan baru. Kearifan tindakan diyakini kuat akan mampu mengilhami gagasan2  baru.

Selanjutnya, spirit ini akan ditularkan sang owner ke segenap pengikut melalui pemberian motivasi dan ketauladanan tindakan. Dengan demikian, kolektivitas akan menjelma menjadi kekuatan dalam mengatasi setiap  masalah dan kendala yang muncul, menjelma menjadi lipatan energi untuk senantiasa menjaga keutuhan karya dan sekaligus memperluas makna lewat penciptaan karya-karya baru melalui distribusi peran proporsional pada tingkat spirit yang sama.

Hadirnya kesadaran peran dan tanggungjawab proposional dari setiap unsur organisasi akan menjadi alat ukur efectivitas dalam membangun spirit kolektivitas tersebut. Adanya pemahaman ”adil tak berarti sama” menjadi penting untuk lebih terjaminnya kontinuitas dan konsistensi peran ikhlas setiap individu dalam menuju visi bersama.

Ini tak mudah...karena dituntut adanya ketauladanan dan konsitensi pemikiran dan tindakan.


D.  Membangun Perusahaan Masa Depan Berbasis Manajemen Humanistik

Banyak perusahaan yang meng-agungkan “pressure” sebagai alat efektif mengendalikan dan menjaga eksistensi perusahaan serta diyakini sebagai pencetak kepatuhan permanen. Metodologi pendekatan kemanusiaan (humanistic methode) cenderung difahami sebagai pola  usang dan tidak aplicable di zaman yang katanya serba modern. Manajemen cenderung meng-kreasi variasi pressure (misalnya target, aturan dsb) sebagai indikator keberhasilan kerja ketimbang pertumbuhan moralitas kerja karyawan. Kekuatan moralitas tidak diyakini lagi sebagai alat efektif dalam membangun kesadaran untuk mengambil tanggungjawab. SDM tidak lagi difahami sebagai factor penggerak utama perusahaan, tetapi cenderung sebagai alat produksi yang dimobilisasi memaksimalkan angka produksi. Sistem dinilai sebagai Tuhan yang akan menjaga perusahaan, kesadaran dan kejujuran tidak diyakini lagi hanya lahir  dari seorang karyawan yang baik secara moral.

Mungkin perlu dikaji ulang manakah sesungguhnya lebih baik dan berdampak jangka panjang bagi perusahaan: “memandang SDM sebagai faktor produksi ketimbang menjadikan mereka sebagai manusia Tuhan”.

Sekedar illustrasi, dalam menjadikan mereka sebagai manusia Tuhan, mereka dibina dan dibentuk menjadi manusia yang senantiasa bersyukur, bersabar, ikhlas, berfikir positif dan selalu optimis. Perusahaan dipandangan mereka adalah  media untuk beribadah dan mendapat kemuliaan di mata Tuhan. Mereka meyakini benar bahwa Tuhan itu adil dan berpandangan bahwa; (i) ketika salary yang mereka terima adalah kurang menurut Tuhan, maka Tuhan akan menggenapinya dengan cara yang tidak diduga-duga dan; (ii) ketika salary yang diterima adalah lebih menurut Tuhan, maka Tuhan pun akan mengurangi dengan cara yang Tuhan kehendaki pula. 

Hal inilah yang didefenisikan  sebagai integritas, sebagai pencapaian tertinggi dalam pembinaan SDM. Dalam konteks horizontalnya, ketika seorang karyawan sudah mencapai titik integritas, maka pada dirinya dipastikan melekat 3 (tiga) kebiasaan ; (i) Merasa diawasai Tuhan walau tidak diawasi atasan; (ii) Memperbaiki yang Belum baik dan memperbaiki yang sudah baik; (iii) uang, jabatan dan kenikmatan lainnya  difahami sebagai imbas dan bukan target

Melahirkan manusia-manusia Tuhan memang bukan hal yang mudah, akan tetapi telusur logika tak terbantahkan bahwa kehadiran manusia Tuhan di sebuah perusahaan merupakan jaminan masa depan perusahaan itu sendiri.  

“Memaknai SDM sebagai factor produksi atau menjadikannya sebagai manusia Tuhan”, Manakah yang lebih menarik..???

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved