DE-KOPI-NDA

Rabu, 24 November 20101komentar


sebuah pemikiran sederhana yang disampaikan pada RAKOR DEKOPINDA KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH, 20-21 OKTOBER 2010

A. Auto Koreksi Yang Menginspirasi
Menilik sejarah perjalanan panjang dari DEKOPINDA, ada hal-hal  menarik untuk menjadi perhatian dan bahan diskusi bersama, antara lain :
  1. Orientasi Yang Kabur. Setelah melalui analisa kurun waktu yang panjang, sebagai wadah tunggal koperasi, Dekopinda itu lebih pada dis-orientasi. Fokus pembangunan tak terlihat dan tahapan perjuangan yang dibangun tak tampak.  Laporan yang disajikan lebih pada hal-hal yang bersifat administratif dan rutinitas. Belum tampak jelas adanya langkah-langkah nyata di mana Dekopinda memang berkontribusi nyata bagi anggotanya secara operasional. Hal ini bukan berarti Dekopinda melakukan intervensi, sebab setiap koperasi pada dasarnya adalah organisasi otonom yang berjalan diatas pondasi yang mereka tentukan sendiri. Namun demikian, setidaknya Dekopinda berinisiatif memerankan diri sebagai motivator dan atau fasilitator  strategis atas kesulitan yang sedang melanda koperasi. Bahkan Dekopinda harus mampu melakukan koreksi pemikiran atas gagasan-gagasan yang berkembang tetapi tak sesuai dengan filosopi dasar koperasi.   
  2. Antusiasme anggota yang menyisakan tanya. Fakta menunjukkan bahwa tiap kali DEKOPINDA mengadakan sebuah acara atau mengadakan sebuah agenda, respon masyarakat koperasi masih antusias. Artinya, eksistensi dan legitimasi DEKOPINDA sebagai wadah gerakan masih diyakini konstituennya. Ini fenomena menarik dan perlu melakukan sebuah pendalaman apa yang menyebabkan mereka begitu. Adakah hanya melepas tanggungjawab mereka karena ditugaskan koperasinya???. Atau mengincar double budgeting yang tidak seberapa (sangu dari koperasinya maupun DEKOPINDA) ???. Atau ada sebenarnya yang mereka cari dan tunggu. Jawaban valid atas pertanyaan diatas bisa menjadi referensi strategis untuk merumuskan bagaimana seharusnya DEKOPINDA ke depan mempersonifikasi-kan dirinya ke dalam keberartian yang lebih. DEKOPINDA harus menjadi trend setter  yang berkemampuan mempengaruhi dan mendorong kemajuan anggotanya secara integratif. 
  3. Anggaran internal yang minim. Hal ini selalu didengungkan sebagai sebuah masalah menahun yang tak kunjung menemukan jalan terangnya. Namun ini sebuah media auto koreksi yang baik guna untuk membangun semangat baru dalam meningkatkan motivasi kontribusi anggota pada DEKOPINDA. Bisa jadi, ini sebuah bentuk reaksi  atas lemahnya peran nyata dan keterlibatan DEKOPINDA  dalam mewarnai anggotanya hingga tercipta akselerasi (percepatan) perkembangan anggotanya. Oleh karena itu, perlu digagas untuk membuat DEKOPINDA lebih dekat  dengan anggotanya. Ini memang bukan perkerjaan mudah dan memerlukan energi besar mengingat secara kewilayahan anggota tersebar dalam area Kabupaten Banyumas yang luas. Namun, memanfaatkan teknologi yang mampu memperpendek jarak dan juga membentuk efisiensi, adalah salah satu upaya yang mungkin bisa dioptimalkan.
  4. Keberpihakan Pemkab yang minim dari sisi APBD. Dalam bahasa sedikit nakal APBD adalah produk politik, dimana mata anggaran yang disetujui tak lepas dari sisi urgensi dan atau nilai urgensi yang sengaja dibentuk. Dengan demikian, minimnya anggaran APBD Pemkab bisa menjadi bermakna banyak hal. Bisa jadi inilah gambaran betapa lemahnya posisi Dekopinda dimata PEMKAB maupun legislatif, sehingga kurang mendapat perhatian.  Atau bisa saja ini pesan bijak agar Dekopinda memberdayakan dirinya bertumpu pada kualitas interaksi dan kesolidan anggotanya.  Dengan demikian, kemandirian DEKOPINDA akan terbentuk bersamaan dengan semakin bermaknanya Dekopinda bagi segenap anggotanya. Apapun jawabnya, dalam bahasa semangat, minimnya budget harus difahami sebagai akibat dari banyak faktor yang bermuara pada tanya besar tentang kebernaknaan dan kualitas eksistensi Dekopinda selama ini.  Saatnya DEKOPINDA  berdiri diatas spirit baru dan lebih fokus pada pemberdayaan anggotanya, menggali gagasan-gagasan brilian hingga menjadi lebih dekat dengan anggotanya yang nota bene adalah subyek dan obyek pembangunan DEKOPINDA itu sendiri.
  5. Komunikasi dengan media massa yang kurang  optimal. Minimnya isu yang layak diberitakan, menjadi penyebab utama berjaraknya Dekopinda dengan media massa. Pemberitaan-pemberitaan koperasi lebih pada hal-hal negatif (misalnya isu-isu penyimpangan disebuah koperasi) ketimbang hal-hal positif. Kalau pun hal-hal positif yang diberitakan, mayoritas bermaterikan seremonial rutin, bantuan dan hal lainnya yang kurang marketable secara berita. Dekopinda sebagai gerakan, harus memaksimalkan media massa sebagai alat provokasi yang efektif  bagi perjuangan. Dekopinda harus bisa membentuk image dan persepsi pada segenap media massa, bahwa koperasi adalah hal vital dan berpengaruh besar dalam membengaruhi kehidupan ekonomi,sosial dan budaya khususnya di lingkungan Kabupaten Banyumas.   
  6. Seremonial yang miskin substansi. Kalau mau jujur, Dekopinda sering terjebak pada aksi seremoni yang miskin substansi. Ini bukan berarti Dekopinda melakukan sebuah kegiatan yang mubah, tetapi perlu melakukan peningkatan kualitas content (isi) agar lebih berkontribusi dalam mendorong kemajuan koperasi anggotanya. Materi-materi pendidikan dan pelatihan (DIKLAT) yang dilakukan belum bisa mencerminkan kebutuhan lapangan, tetapi lebih pada materi-materi normatif yang tak berhubungan langsung dengan peningkatan produktivitas koperasi secara integratif. Ini permasalahan serius yang memerlukan perhatian. Dekopinda sebagai sebuah gerakan harus mampu menyerap permasalahan-permasalahan yang ada di koperasi dan mencoba melakukan aksi mediasi strategis bagi penyelesaian masalah-masalah tersebut.
  7. Realitas Anggota Yang Menginspirasi. Realitas anggota Dekopin sesungguhnya layak dijadikan bahan perenungan.  Banyaknya koperasi yang sebatas papan nama dan hidup segan mati tak mau, selalu mengeluh tentang permodalan padahal sesungguhnya pendangan itu salah besar, kemampuan koperasi berproduksi tetapi tak berkemampuan memasarkan, kepahlawanan keliru (jejak perjuangan melelahkan yang bukan berlandaskan keinginan segenap unsur organisasi) dari elite koperasi yang ironisnya tak mendapat apresiasi positif dari segenap anggotanya, rendahnya apresiasi anggota terhadap pengurus, pengawas dan manajemen, banyaknya momen RAT yang berubah fungsi sebagai media pembantaian bagi pengurus dan pengawas yang merupakan akibat nyata dari tidak fahamnya apa itu koperasi dan banyak lagi yang terjadi berulang-ulang di koperasi. Tentu hal ini menjadi materi yang bagus bagi Dekopinda untuk memerankan diri sebagai penengah yang bijak dan atau sebagai sumber solusi walau terbatas pada tingkat pemikiran.


B. 7 (tujuh) Masalah Dasar Koperasi Yang Menahun
Pengamatan panjang menggiring pada kesimpulan bahwa kebelum berkembangan koperasi disebabkan oleh 7 (tujuh) masalah dasar yang tak kunjung selesai, yaitu :
  1. Pemahaman atas konsepsi koperasi baik di lingkungan pengurus, pengawas dan anggota.
  2. Defenisi tujuan yang tidak jelas dan belum mencerminkan keinginan kuat segenap unsur organisasi.
  3. Distribusi peran yang tidak optimal dalam pencapaian tujuan.
  4. Distribusi hasil yang tidak memotivasi dan berkeadilan.
  5. Kepemimpinan (penebaran pengaruh positif yang berkesinambungan)
  6. Managerial skil  (Profesionalisme)
  7. Kewirausahaan/kewirakoperasian (mentalitas dalam menciptakan usaha-usaha baru)

7 (tujuh) masalah dasar ini telah membelenggu koperasi, sehingga ke-belum-majuan adalah akibat yang logis. Semua dari 7 (tujuh) masalah dasar itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah SDM (sumber daya manusia), karena hakekat koperasi adalah kumpulan orang dan bukan kumpulan modal. Lemahnya permodalan (yang sering didengungkan) adalah akibat dari belum terbentuknya ”trust” antara satu dengan lainnya. Demikian halnya dengan terbatasnya pemasaran dan rendahnya teknologi, juga merupakan akibat tambahan dari 7 (tujuh) masalah dasar tersebut.

Sebagai sebuah gagasan, mungkin 7 (tujuh) dasar ini bisa dijadikan salah satu referensi untuk memetakan ”peluang peran” yang bisa diambil Dekopinda dalam memberdayakan diri dalam ke-bermaknaan bagi anggotanya.


C. Beberapa Gagasan Tentang Peta Perjuangan Dekopinda Ke Depan
Dari beberapa pemikiran diatas, terbersit gagasan sederhana untuk pengembangan Dekopinda Kabupaten Banyumas ke depan, yaitu :
  1. Komitmen kuat dari DEKOPINDA untuk mengusung  gerakan kembali ke JATI DIRI KOPERASI. Hal ini sebagai alat efektif untuk mengembalikan roh pengelolaan koperasi ke konsepsi yang seharusnya. Istilah koperasi harus menjadi ikon  yang kental dengan perbedaan mendasarnya dengan badan usaha yang lain di luar koperasi.
  2. Penegasan bahwa DEKOPINDA adalah wadah yang fokus membantu anggotanya (koperasi-koperasi) dari sisi pemikiran dan pengembangan jaringan.
  3. memperkuat eksistensi diri  dan legitimasi organisasi melalu jalinan komunikasi mutual dengan media massa, pemkab, legislatif  dan organisasi-organisasi lainnya.
  4. Menghadirkan modernitas pada tingkat pemikiran dan tindakan.  Hal ini sebagai bentuk perlawanan atas kesan ”tradisional dan keterbelakangan” yang begitu kuat terhadap koperasi.
  5. Membentuk pemahaman yang tepat atas istilah ”koperasi” baik dikalangan anggota (di tingkatan pengurus, pengawas maupun anggota primer).
  6. Melakukan diklat-diklat yang berorientasi pada peningkatan kualitas kepemimpinan, managerial skill dan kewirausahaan.
  7. Memperjuangkan ”apresiasi yang layak” terhadap ”pengurus, pengawas dan manajemen” di tingkatan koperasi. Hal ini sebagai upaya menghadirkan distribusi hasil yang berkeadilan dan memotivasi.
  8. Mengusung isu strategis dalam pembinaan-pembinaan anggota, misalnya dalam sesi Rapat Anggota Tahunan.
  9. Menggagas bulletin koperasi lokal (karya Dekopinda) sebagai media edukasi,sosialisasi dan promosi.
10.  Melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi anggota Dekopinda.
11.  Membuat data base anggota dan pelibatan Teknologi Informasi (TI) dalam membangun komunikasi dan jaringan dengan anggota.
12.  Distribusi peran efektif antara Dewan Pimpinan Dekopinda dan manajemen, sebagai strategi efektif dalam memberdayakan Dekopinda.
13.  Melaksanakan “pilot Project” dalam program akselerasi pengembangan manajemen organisasi dan usaha koperasi di beberapa koperasi anggota.
14.  Menggagas kemitraan dalam prinsip mutual.


Penutup
Demikian beberapa auto koreksi dan gagasan sederhana terjabarkan yang mengalir begitu saja, semoga dapat menginspirasi segenap insan yang terlibat dalam Dekopinda Kabupaten Banyumas.  Satu hal, pemikiran-pemikiran diatas tak bermaksud mengadili atau menyakiti hati dan perasaan siapapun, tetapi dilandasi keinginan kuat untuk melihat Dekopinda sukses mempersonifikasikan dirinya sebagai wadah yang di idolakan anggotanya.Akan KAH...???
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

2 April 2015 21.46

Idenya bagus bos. Mari bersama2 ketemu dg ketua dekopinda kab banyumas utk berkomunikasi bagaimana meningkatkan peran dekopinda agar lebih bermanfaat secara nyata bagi gerakan koperasi di kab banyumas. Apalagi sekarang ada peraturan2 baru dari OJK yg terkait dg LKM (lembaga keuangan mikro). Ini nomor hp saya : 08562875627. Selamat berjuang.

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved